Ada Apa Antara Riyadh dan Abu Dhabi?
-
Bendera Arab Saudi dan Uni Emirat Arab
ParsToday – Seorang pakar Asia Barat menegaskan bahwa apa yang terjadi antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab saat ini bukan sekadar perbedaan sementara atau kesalahpahaman diplomatik. Ini adalah tanda masuknya kedua negara ke fase baru persaingan regional yang mencakup dimensi politik, ekonomi, keamanan, dan bahkan media.
Jafar Qanadbashi, dalam wawancara dengan ISNA, Minggu, 22 Februari 2026, merujuk pada laporan tentang surat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman kepada Penasihat Keamanan Nasional UEA Tahnoun bin Zayed Al Nahyan. Surat itu memuat keluhan tentang kebijakan Abu Dhabi di Yaman dan Sudan.
Keduanya memiliki struktur politik serupa dan berada di lingkungan geopolitik yang sama. Persaingan antara dua kekuatan Arab penting di kawasan Teluk adalah hal wajar. Namun, level perbedaan saat ini menunjukkan bahwa ini bukan sekadar sengketa perbatasan atau persaingan tradisional antar tetangga. Ini tentang penentuan posisi kekuatan tertinggi dalam kalkulasi regional baru.
Yaman; Titik Awal Keretakan
Perang Yaman dimulai 2015 dengan koalisi pimpinan Arab Saudi. Seiring waktu, Riyadh dan Abu Dhabi menjadi penentu utama di lapangan. Tahun-tahun awal penuh koordinasi. Namun, sekitar lima tahun lalu, perpecahan mulai terlihat, terutama di Yaman selatan. Arab Saudi mendukung struktur formal pemerintah dan Dewan Kepresidenan, sementara UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (STC). Situasi ini melahirkan dua arus politik dan keamanan berbeda di Yaman selatan, memindahkan persaingan dari level tersembunyi ke level lapangan.
Perang Proksi Meluas ke Tanduk Afrika
Persaingan tak berhenti di Yaman. Dalam beberapa tahun terakhir, ini meluas ke Tanduk Afrika, terutama Sudan. Di Sudan, tentara pimpinan Abdel Fattah Al-Burhan berada dalam struktur kekuasaan formal dan mendapat dukungan politik dari beberapa aktor regional, termasuk Arab Saudi. Sebaliknya, Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) memiliki hubungan dekat dengan UEA. Laporan tentang dukungan finansial dan persenjataan untuk RSF dari Abu Dhabi telah beredar.
Sudan kaya sumber daya alam, terutama emas, yang penting bagi ekonomi UEA. Abu Dhabi telah menjadi pusat perdagangan dan re-ekspor emas global. Ini memberi dimensi ekonomi dan strategis pada perkembangan Sudan. Sementara itu, Arab Saudi tak ingin pesaing regionalnya unggul di Laut Merah, kawasan vital bagi keamanan maritim dan jalur energi. Pertemuan kepentingan di Sudan meningkatkan sensitivitas di Yaman, membuat kedua isu saling mempengaruhi.
Pertarungan Ekonomi dan Energi
Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir berupaya meningkatkan posisi ekonominya dengan program pengembangan ambisius. Mereka bahkan mendorong perusahaan internasional memindahkan kantor regional ke Riyadh. Langkah ini secara alami berbenturan dengan kepentingan ekonomi UAE, yang selama puluhan tahun menjadi pusat bisnis regional. Perbedaan pandangan di OPEC soal kuota produksi minyak juga menandakan persaingan mereka dalam mengelola pasar energi.
Keterlibatan Aktor Global dan Perang Media
Kedua negara memiliki hubungan strategis dengan Barat, terutama AS dan Inggris. Namun, perubahan pola investasi Arab Saudi dan peningkatan interaksi langsungnya dengan Washington dapat menciptakan sensitivitas di antara mitra tradisionalnya, termasuk Inggris. Beberapa analis bahkan menuding London diam-diam berperan dalam memperuncing perbedaan Riyadh-Abu Dhabi.
Perang media dan operasi psikologis menjadi alat tekanan. Rumor pekan lalu tentang wafatnya Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan di media sosial adalah contohnya. Penyebaran rumor semacam itu bisa bertujuan menguji reaksi publik, menciptakan ketidakstabilan psikologis, atau mengirim pesan tak langsung. Namun, tanpa bukti kuat, tak bisa menuding negara tertentu sebagai dalangnya.
Hubungan Arab Saudi dan UEA kini memasuki fase "persaingan terkendali". Kedua negara masih bekerja sama di beberapa bidang, tetapi juga tengah mendefinisikan ulang posisi mereka dalam tatanan regional baru. Kelanjutan atau meredanya persaingan ini sangat bergantung pada perkembangan di Yaman dan Sudan, kondisi pasar energi, serta bagaimana kekuatan besar memposisikan diri di Timur Tengah.(sl)