Bagaimana Wajah Amerika Berubah di Mata Warga Iran?
Ahmad Midari, Menteri Koperasi, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial Republik Islam Iran, dengan menerbitkan sebuah surat di majalah Newsweek, menanggapi catatan peringatan Robert Reich, mantan Menteri Tenaga Kerja AS, dan melukiskan gambaran Amerika yang terpatri di benak warga Iran.
Ahmad Midari, Menteri Koperasi, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial Iran, dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Robert Reich, profesor emeritus Universitas Berkeley dan mantan Menteri Tenaga Kerja AS, yang diterbitkan pada hari Jumat di majalah Newsweek, menganalisis perubahan wajah Amerika di mata warga Iran.
Ia pada awalnya, terkait catatan Reich di surat kabar The Guardian yang menyebut Trump sebagai "ancaman terhadap peradaban manusia," menulis: "Saya sepenuhnya setuju dengan pesan catatan peringatan Anda; 'Trump adalah ancaman terhadap peradaban' di The Guardian, tertanggal 6 Januari 2026. Tugas masyarakat beradab adalah membela yang tertindas melawan penindas. Dalam literatur keagamaan kami, hal ini disebutkan sebagai sebuah perintah: 'Jadilah penolong bagi yang tertindas'."
Menteri Koperasi, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial Iran dalam surat ini, merujuk pada era sebelum Perang Dunia II, mencatat bahwa sebelumnya warga Iran mengenal Amerika sebagai masyarakat yang beradab. Untuk membuktikan hal ini, ia menulis: "Setelah Revolusi Konstitusi (1905), bendahara pertama Iran adalah seorang Amerika, William Morgan Shuster III (23 Februari 1877 – 26 Mei 1960), yang pada tahun 1911 dipekerjakan oleh pemerintah Iran sebagai bendahara negara. Orang Amerika lainnya adalah Arthur Millspaugh (23 Maret 1883 – 1955), seorang ahli hukum dan keuangan Amerika yang pada tahun 1922-1927 dan 1942-1945 dipekerjakan oleh pemerintah Iran untuk mereformasi keuangan. Anda tahu, bendahara adalah orang yang dipercaya dengan rahasia negara, yang menunjukkan kepercayaan orang Iran kepada orang-orang Amerika pada masa itu."
Dari "Bunga Nasrani" hingga Wajah Pemangsa Dunia
Di bagian lain catatan ini tertulis: "Di antara syair-syair abadi Revolusi Konstitusi adalah sebuah ratapan yang dilantunkan pada hari Asyura (hari wafatnya Imam Hussain as, cucu Nabi Muhammad saw, dan 72 sahabatnya), terutama di selatan Iran: Ratapan Tiga Ratus Mawar Merah, Satu Bunga Nasrani. Syair ini digubah untuk mengenang tiga ratus warga Iran dan satu warga Amerika yang gugur di Tabriz melawan tirani. Dalam nyanyian dengan irama pilu ini, para pelayat Imam Hussain (as) bergumam: Tiga ratus mawar merah, satu bunga Nasrani, apa yang kautakuti? Jika kami takut kepala terpenggal, takkan menari di majelis pecinta. Bunga Nasrani adalah seseorang bernama Howard Conklin Baskerville (10 April 1885 – 19 April 1909), seorang guru Amerika di Sekolah Memorial Tabriz yang terbunuh selama gerakan konstitusional dalam upaya mematahkan pengepungan Tabriz. Ia dijuluki 'guru komandan' dan tiga ribu orang menghadiri pemakamannya. Wajah yang dikenal rakyat Iran tentang Amerika sebelum perang dunia dan sebelum kudeta 1953 adalah wajah yang dibentuk oleh para cendekiawan seperti Shuster dan Baskerville di benak orang Iran."
Midari menambahkan, "Namun, hampir delapan puluh tahun telah berlalu, dan warga Iran serta banyak orang di dunia mengenal Amerika yang lain. Iran bukan satu-satunya negara tempat AS melakukan intervensi melalui kudeta; jumlah negara ini sekitar 25 negara. Intervensi dan perang seperti Vietnam, pembantaian anak-anak di Gaza, dan hari ini serangan ke Venezuela, serta rencana yang dirancang untuk Greenland, Kolombia, Meksiko, Jalur Gaza, dan bahkan Kanada, telah menjadikan Amerika sebagai negara penindas, atau dalam istilah yang umum di Iran, 'pemangsa dunia'. Catatan Anda dengan tepat menggambarkan meningkatnya bahaya kebiadaban dan menjauhnya dari manusia beradab. Mulai dari kecerdasan buatan hingga pemusatan kekuatan ekonomi dan politik, semuanya telah menempatkan masyarakat manusia di ambang kebiadaban. Keteguhan bangsa dan pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan Amerika adalah untuk mencegah bahaya besar ini."
Keteguhan Iran Menghadapi Bahaya Kebiadaban
Midari menegaskan, "Rakyat kami telah dan terus bertahan menghadapi sanksi kejam Amerika dan segala konspirasi, karena mereka tahu bahwa menyerah terkadang bukanlah akhir dari perdamaian, melainkan awal dari perang besar. Seluruh umat manusia seharusnya mengambil pelajaran besar dari sanksi terhadap Jerman setelah Perang Dunia I, bahwa menyerah dan memberikan sanksi kepada bangsa besar dapat menjadi landasan perang besar yang menghancurkan peradaban. Bangsa Jerman disanksi dengan begitu lancang, dan teriakan John Maynard Keynes dalam bukunya 'The Economic Consequences of the Peace' tidak didengar. Betapa indah dan menyedihkan ia melukiskan suasana Perjanjian Versailles: 'Konferensi Paris seperti mimpi buruk, ketidakpedulian hadirin terhadap penghinaan dan penghancuran sebuah peradaban sangat mengerikan.'"
Ia menambahkan, "Di balik sanksi dan penghinaan ini, ada bencana besar yang mengintai. Tidak ada emosi yang terlihat di wajah Wilson dan Clemenceau, dan dengan mudah mereka memerintahkan penjarahan dan penghancuran, dan saya merasa seperti berada di teater tragis Paris. Semua elemen tragedi sejarah ada: ketertindasan, ketidakbijaksanaan, kebiadaban, dan kejahatan.' (Pendahuluan buku 'The Economic Consequences of the Peace'). Gambaran yang dilukiskan Keynes tentang Georges Clemenceau, Perdana Menteri Prancis, dan Thomas Woodrow Wilson, Presiden AS saat itu, adalah wajah yang sama dengan Donald Trump hari ini. Seolah-olah semua terlibat dalam sebuah sandiwara komedi tragis. Nyawa manusia dipermainkan."
Orang Iran Tidak Akan Mengulangi Kesalahan Kudeta 1953
Di bagian lain surat ini, Midari mengatakan, "Orang Iran tidak akan mengulangi kesalahan kudeta 1953 dan reaksi orang Jerman terhadap sanksi. Kami percaya bahwa darah tidak bisa dibersihkan dengan darah, dan kami harus tetap cinta damai, tetapi kami juga tidak akan menyerah pada kompromi yang menjadi landasan perang yang lebih besar. Anda tidak tahu, ketika pemerintah kami sedang berunding dengan pemerintah AS, dan Israel dengan dukungan AS memulai pembunuhan dan perang, betapa buruknya citra pemerintah ini terpatri di benak rakyat. Sungguh biadab duduk di meja perundingan sambil merancang rencana pembunuhan dan perang."
Etika, Tali Penyelamat Umat ManusiaDan di akhir surat ini tertulis: "Upaya untuk menyelamatkan umat manusia dari bahaya yang Anda ingatkan adalah upaya moral. Tren ekonomi dan politik telah menempatkan manusia di jurang, dan tali etika, alat semua nabi dan pembaru, dapat menjadi penyelamat. Kami berharap dengan bersandar pada etika, kami dapat menghentikan tren saat ini dan membuka jalan baru."(PH)