Ancaman Trump Sanksi Irak, Kegagalan lain Washington
https://parstoday.ir/id/news/world-i77300-ancaman_trump_sanksi_irak_kegagalan_lain_washington
Kejahatan besar Amerika meneror Komandan pasukan Quds IRGC Iran, Letjen. Qasem Soleimani dan Wakil komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis di dekat bandara udara Baghdad memicu respon besar parlemen Irak dan berujung pada diratifikasinya undang-undang pengusiran aliansi anti Daesh yang mencakup AS.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 06, 2020 19:02 Asia/Jakarta
  • Donald Trump
    Donald Trump

Kejahatan besar Amerika meneror Komandan pasukan Quds IRGC Iran, Letjen. Qasem Soleimani dan Wakil komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis di dekat bandara udara Baghdad memicu respon besar parlemen Irak dan berujung pada diratifikasinya undang-undang pengusiran aliansi anti Daesh yang mencakup AS.

Hal ini memicu kemarahan dan keputusan tergesa-gesa Presiden AS Donald Trump. Trump dalam responnya atas keputusan parlemen Irak terkait pengusiran pasukan Amerika, mengancam akan menjatuhkan sanksi keras dan luas terhadap Baghdad. Trump juga mengatakan, "Kami akan menarik pasukan kami dari Irak, tapi pertama-tama Baghdad harus membayar biaya pangkalan udara AS."

Syahid Qasem Soleimani

Anggota parlemen Irak Ahad (05/01) meratifikasi draf untuk mengakhiri penempatan pasukan asing di wilayah negara mereka. Perdana Menteri sementara Irak, Adil Abdul Mahdi di sidang voting parlemen tersebut menuntut penarikan segera pasukan Amerika dari Irak. Ia mengatakan, "Kepentingan Irak dan Amerika mengharuskan pasukan asing meninggalkan wilayah kami."

Amerika tersentak atas langkah mendadak Irak ini dan menunjukkan respon yang tergesa-gesa serta menuntut peninjauan ulang keputusan tersebut. Mereka mengklaim bahwa kepentingan Irak berada di pendekatan melanjutkan hubungan dengan Washington.

Deplu Amerika mengaku pesimis dengan diratifikasinya rencana pengusiran pasukan asing dari wilayah Irak. Juru bicara Deplu Amerika, Morgan Ortagus di statemennya mengatakan, "Kami meminta dengan sangat kepada pemimpin Irak mengkaji urgensitas hubungan ekonomi dan keamanan kedua negara serta pentingnya keberadaan koalisi untuk mengalahkan Daesh (ISIS)."

Pemerintah Trump ingin meyakinkan petinggi Irak sehingga dapat mencegah keputusan parlemen negara ini terkait pengusiran tentara asing. Namun lobi Washington dalam hal ini gagal. Sepertinya ketika Amerika bersiap menyempurnakan dominasinya di Irak dengan meneror Syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, tapi kini justru harus bersiap-siap keluar dari negara ini. Pemerintah Trump sebelumnya beranggapan bahwa dengan teror ini mereka akan berhasil menghapus penghalang terbesar bagi dominasinya di Irak dan di langkah selanjutnya, Washington siap untuk menghancurkan secara total Hashd al-Shaabi.

Trump beranggapan bahwa dengan aksi kejahatannya meneror Soleimani, bukan saja berhasil menakut-nakuti Iran, tapi juga akan memberi pelayanan terbesar kepada Israel serta memberi pukulan telak kepada poros muqawama. Tapi ternyata Iran bukan saja mengancam akan memberi balasan keras kepada Amerika, bahkan pemerintah dan parlemen Irak dengan suara bulat menuntut pengusiran pasukan Amerika dari negara ini.

Trump berulang kali selama kampanye pemilu dan sesudahnya berjanji menarik pasukan Amerika dari wilayah Asia Barat, namun dalam prakteknya khususnya selama beberapa bulan terakhir terjadi proses pengiriman militer Amerika ke kawasan ini. Sampai saat ini sekitar 14 ribu pasukan Amerika di kirim ke Asia Barat, khususnya Teluk Persia.

Bagaimana pun juga Trump kini menghadapi kendala serius yakni balas dendam Iran. Ia setelah meneror Syahid Soleimani meminta Iran untuk menganggap masalah ini selesai. Jawaban tegas Iran atas permintaan Amerika dengan balasan keras terhadap Washington membuat Trump ketakutan. Mengingat kegagalan langkahnya untuk meredam kemarahan rakyat Iran dan untuk menutupi ketakutannya atas balas dendam Iran serta poros muqawama, Trump mulai mengancam Iran untuk menakut-nakuti negara ini.

Trump Ahad (05/01) kembali mengancam Iran dengan serangan militer dan mengklaim jika Iran menarget tujuan atau tokoh Amerika, maka balasan Washington akan sangat keras dan tidak perlu sepadan. Meski demikian Iran selama 40 tahun lalu telah menunjukkan tidak pernah takut atas ancaman Washington dan senantiasa memberi balasan tegas atas kejahatan Amerika di kawasan.

Kini Washington bukan saja harus menunggu balasan keras Iranm tapi juga harus menutup domainnya di Irak. Tentu saja ini sebuah kegagalan lain bagi kebijakan luar negeri Trump, apalagi di tahun pemilihan presiden. (MF)