Jalan Terjal Membangun Perdamaian di Afghanistan
Dewan Keamanan Nasional Afghanistan menyatakan bahwa kelompok Taliban meningkatkan serangannya terhadap pasukan pemerintah dalam tiga hari terakhir.
Dewan ini mengatakan Taliban melancarkan 67 serangan terhadap pasukan keamanan Afghanistan di berbagai daerah selama tiga hari lalu.
Pertempuran antara pasukan keamanan Afghanistan dan Taliban telah menewaskan 85 anggota kelompok itu.
Serangan ini terjadi setelah Taliban dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan damai di Doha, Qatar. Berdasarkan kesepakatan ini, Taliban berkomitmen menghentikan perang di Afghanistan termasuk serangan terhadap pasukan pemerintah.
Pasukan AS dalam beberapa hari terakhir juga menyerang posisi kelompok Taliban di Provinsi Helmand.
Langkah Taliban mengintensifkan serangan di Afghanistan setelah menyetujui kesepakatan damai dengan AS, telah menyingkap beberapa fakta mendasar.
Pertama, kesepakatan Amerika-Taliban secara prinsip tidak disusun untuk meredam kekerasan terhadap pasukan keamanan Afghanistan. Dengan kata lain, AS tidak berniat mengakhiri perang di Afghanistan melalui kesepakatan tersebut, tapi hanya ingin mengurangi biaya dan korban jiwa dari pihaknya.
Kedua, kesepakatan ini menjanjikan pembebasan 5000 tahanan Taliban dari penjara pemerintah Afghanistan. Namun ini hanya komitmen yang dibuat oleh Washington dan Taliban, tanpa melibatkan pemerintah Kabul dan otoritas setempat memiliki aturannya sendiri mengenai pembebasan tahanan Taliban.
Serangan yang dilakukan Taliban sepertinya bertujuan untuk menekan pemerintah Kabul agar membebaskan tahanan dan memperlihatkan kekuatan mereka.
Analis masalah militer dan keamanan Afghanistan, Kabul Khan Tadbir menuturkan kelompok Taliban ingin menunjukkan bahwa mereka masih beroperasi di seluruh wilayah Afghanistan dan berniat memperoleh konsesi dalam situasi saat ini.
Ketiga, banyak pihak di Afghanistan percaya bahwa Taliban – meskipun mencapai kesepakatan damai dengan AS – bukanlah aktor yang memikirkan penyelesaian krisis di Afghanistan melalui perundingan. Taliban tetap sebagai pemain lama yang mengandalkan kekuatan militer sebagai senjata ampuhnya.
Surat kabar Hasht-e Sobh Afghanistan dalam sebuah artikel dengan tema “Ilusi Taliban menuntut perdamaian” menulis, “Serangan beruntun Taliban membuktikan bahwa mereka sedang berusaha meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Afghanistan dan menaikkan daya tawarnya sebelum terlibat negosiasi dengan Kabul. Dari caranya berperang, Taliban tidak memandang perundingan sebagai strategis. Taliban berdasarkan salah satu skenario sedang berusaha memperpanjang perundingan dan kemudian mengumumkan bahwa negosiasi tidak membawa hasil. Jika mereka benar-benar ingin mengakhiri perang, tentu tidak akan meningkatkan kekerasan.”
Meningkatnya kekerasan di Afghanistan menunjukkan bahwa kesepakatan damai Amerika-Taliban sangat rentan dan menghadapi banyak tantangan di masa depan. Tragisnya lagi, AS sebagai kekuatan trans-nasional dan pendudukan, tidak berniat mengakhiri perang dan kekerasan di Afghanistan, karena jika mereka benar-benar serius, sekarang adalah waktunya menekan Taliban agar menghentikan kekerasan. (RM)