Amerika Tinjuan dari Dalam, 6 September 2020
-
Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai pernyataan Mahkamah Pidana Internasional ICC yang menolak sanksi AS.
Isu lain mengenai pernyataan Biden bahwa sepak terjang Trump bukan cermin presiden yang baik, wali kota San Francisco menyebut Trump sebagai seorang Teroris, polisi AS kembali membunuh satu warga dan petugas polisi AS tewas ditembak di Cleveland, pertemuan penasehat Pompeo dengan Raja Bahrain, dan klaim Pompeo bahwa Iran sebagai ancaman terbesar AS di Asia Barat.
ICC: Sanksi AS Tidak Bisa Diterima
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) Rabu (2/9/2020) malam dalam statemennya mengecam langkah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi dua petinggi lembaga internasional ini.
ICC menyebut sanksi Amerika tersebut illegal dan tidak bisa dibenarkan. Mereka menilai langkah seperti ini sekedar melemahkan upaya bersama untuk melawan kekebalan dihadapan kejahatan publik.
Kementerian Keuangan Amerika hari Rabu mengumumkan, nama Fatou Bensouda, jaksa ICC dan Phakiso Mochochoko, ketua bidang humas dan kerja sama peradilan ICC dimasukkan ke daftar individu yang disanksi Amerika.
Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo juga mengancam setiap individu dan lembaga yang mendukung kedua petinggi internasional ini juga akan dikenakan hukuman.
Pompeo menyatakan, mereka yang terlibat di upaya ICC di bidang penyidikan pasukan Amerika juga akan dikenakan pembatasan visa ke negara ini.
Presiden AS Donald Trump awal bulan Juni menginstruksikan implementasi sanksi sejumlah petingg ICC yang berperan dalam penyidikan internasional soal kejahatan militer Amerika di Afghanistan.
Instruksi ini memungkinkan menteri luar negeri AS melalui konsultasi dengan menteri keuangan untuk memblokir aset sejumlah staf ICC yang terlibat di penyidikan kejahatan perang AS di Afghanistan.
Amerika memprotes penyidikan Mahkamah Pidana Interansional tanpa meminta izin dari Washington.
Biden: Sepak Terjang Trump Bukan Cermin Presiden yang Baik
Kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden menilai pernyataan Donald Trump yang menyudutkan militer menunjukkan bahwa dia bukan orang yang tepat untuk mencalonkan diri kembali sebagai sebagai presiden.
CNN melaporkan, Joe Biden hari Jumat (4/9/2020) mengatakan ketidakhormatan Donald Trump kepada militer AS menampakkan Trump bukanlah orang yang cocok untuk menjabat sebagai presiden dan panglima militer AS.
Biden menyebut pernyataan Trump memuakkan.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa mereka yang menjadi sukarelawan dinas militer sebagai orang bodoh.
"Penurunan ekonomi yang dimulai sebelum periode yang memburuk baru-baru ini menunjukkan kegagalan Trump selama menjabat sebagai presiden AS saat ini," kata Biden menyinggung laporan terbaru tentang situasi ketenagakerjaan yang menyedihkan di Amerika Serikat.
Di bagian lain dari statemennya, Joe Biden menekankan kesalahan manajemen Trump dalam menangani pandemi Covid-19, yang telah menyebabkan pengangguran di Amerika Serikat berlipat ganda.
Amerika Serikat hingga kini tetap berada di urutan teratas jumlah kasus Covid-19 dengan lebih dari enam juta orang.
Sejauh ini, hampir 200.000 orang di Amerika Serikat meninggal akibat virus Covid-19.
Wali Kota San Francisco: Trump Seorang Teroris !
Wali Kota San Francisco, California, Amerika Serikat menyebut Presiden Donald Trump seorang teroris.
Situs Washington Examiner (5/9/2020) melaporkan, Wali Kota San Francisco, London Breed mengatakan, kita memiliki seorang teroris, seorang diktator yang tengah memimpin negara ini, dan Nancy Pelosi berada di garis depan dalam melawan orang ini, setiap hari, Anda tahu, saya tdak akan membiarkan semua yang telah terjadi.
Para demonstran Amerika baru-baru ini mengecam kunjungan Pelosi ke sebuah salon di San Francisco yang seharusnya tutup untuk mencegah penyebaran Covid-19, tanpa mengenakan masker wajah.
Wali Kota San Francisco menuturkan, saya tahu perasaan para demonstran, mereka tengah menyuarakan suara hatinya, tapi kami sedang melakukan yang terbaik, saya tahu itu tidak cukup bagi mereka, saya paham, tapi di ujung hari benar-benar waktunya untuk kita melangkah maju.
Lagi, Polisi AS Bunuh Satu Warga
Polisi Washington DC menembak mati seorang warga di daerah tenggara kota.
Menurut laporan surat kabar The Hill, pria itu meninggal Rabu (02/09/2020) setelah dibawa ke rumah sakit setempat, menurut Kepala Polisi Washington DC Peter Newsham.
"Polisi mendatangi tempat kejadian untuk menindaklanjuti laporan adanya senjata di dalam kendaraan, tetapi ketika petugas tiba, orang-orang di dalam mobil tersebut melarikan diri," jelas Newsham.
Menurut pejabat tersebut, polisi menemukan dua senjata di tempat kejadian, tetapi belum jelas siapa yang terbunuh dalam penembakan itu.
Polisi belum merilis identitas pria yang ditembak oleh polisi, tetapi sumber informasi mengatakan korban adalah seorang bocah lelaki berusia 17 tahun tidak bersenjata.
Newsham tidak menjawab pertanyaan mengapa petugas polisi menembak orang ini pada saat itu dan berkata, "Kita tidak boleh membicarakan kejadian tersebut dengan spekulasi pada saat itu."
Ada protes luas di Amerika Serikat selama beberapa waktu terhadap kekerasan polisi dan ketidakadilan dan rasisme yang dilembagakan.
Ribuan orang terluka dalam protes dalam beberapa pekan terakhir di Amerika Serikat.
Petugas Polisi AS Tewas Ditembak di Cleveland
Seorang petugas polisi Amerika Serikat di kota Cleveland tewas ditembak, dan polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa pelaku penembakan tersebut.
Petugas polisi itu tewas saat bertugas pada Kamis (3/9) malam di kota Cleveland.
Seperti dikutip Fox News, saat ini polisi masih mengumpulkan bukti untuk mencari pelaku yang menembak mati petugas berusia 35 tahun itu.
Kepolisian Cleveland kepada Fox News mengatakan, insiden penembakan terjadi sekitar pukul 22 waktu setempat. Sementara sumber lain mengatakan, penembakan dilakukan beberapa kali terhadap petugas polisi yang sedang berpatroli di wilayah barat kota Cleveland.
Selain petugas polisi yang mengembuskan napas terakhir setelah dilarikan ke rumah sakit, seorang lain juga terkena tembakan dan tewas di tempat.
Pasca insiden, puluhan personil polisi dikerahkan ke lokasi kejadian, dan sampai sekarang mereka masih melakukan penyelidikan.
Penasihat Trump Bertemu dengan Raja Bahrain
Penasihat Senior Presiden AS, Jared Kushner bertemu dengan raja Bahrain sebagai bagian dari kunjungannya ke negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) untuk membahas proses normalisasi hubungan diplomatik dengan rezim Zionis.
Selama pertemuan antara Jared Kushner dengan Raja Bahrain, Sheikh Hamad bin Isa Al Khalifa yang berlangsung di Istana Al-Safriya, dibahas kerja sama antara Bahrain dan Amerika Serikat dan cara-cara untuk memperluas hubungan antara kedua negara di berbagai bidang.
Raja Bahrain dalam pertemuan yang berlangsung hari Rabu (2/9/2020) mengatakan, "Stabilitas dan solidaritas negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk [Persia] di semua posisi bergantung pada Arab Saudi dan kami berada di sisinya dalam situasi apa pun demi mencapai perdamaian dan kemakmuran,".
Sheikh Hamad bin Isa Al Khalifa menggambarkan posisi UEA sebagai langkah untuk membela kepentingan negara-negara Arab.
Ia mengklaim bahwa upaya UEA ditujukan untuk mencapai solusi yang adil dan komprehensif sebagai jaminan bagi hak-hak sah rakyat Palestina dan pembentukan perdamaian abadi di kawasan.
Jared Kushner, penasihat Presiden sekaligus menantu Donald Trump, juga bertemu dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman selama kunjungan ke Riyadh sebelum mengunjungi Bahrain.
Kedua belah pihak membahas berbagai masalah regional, terutama isu Palestina.
Jared Kouchner memulai lawatan barunya ke kawasan Asia Barat dengan mengunjungi UEA bersama delegasi ekonomi Israel pada hari Senin. Kemudian melanjutkan perjalanannya ke negara-negara Teluk Persia lainnya demi mencari dukungan untuk menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis.
Pompeo: Iran Ancaman Terbesar AS di Asia Barat
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan Uni Emirat Arab dan rezim Zionis Israel menganggap Iran sebagai ancaman terbesar, dan berusaha membentuk koalisi untuk mencegah ancaman tersebut sampai ke Amerika.
Mike Pompeo, Minggu (6/9) dinihari mengklaim, dalam pandangan UEA dan Israel, Iran adalah ancaman terbesar bagi mereka.
Dalam wawancara dengan Fox News, Pompeo menilai kesepakatan UEA-Israel sebagai kesepakatan bersejarah dan menuturkan, Presiden Amerika menganggap Iran sebagai ancaman terbesar Timur Tengah, dan ancaman bagi warga Amerika.
Menurut Pompeo, Iran bahkan mengancam keamanan Amerika dari dalam wilayah negara ini.
"UEA dan Israel juga menganggap Iran sebagai ancaman terbesar, maka dari itu ditemukan jalan untuk menjalin hubungan yang bisa membangun koalisi untuk memastikan bahwa ancaman ini tidak akan sampai ke pesisir pantai Amerika atau mencederai siapapun di Timur Tengah," paparnya.
Sebelumnya Menlu Amerika juga melemparkan tuduhan tak berdasar pada Iran. Ia mengatakan, masyarakat internasional harus mendesak Iran untuk bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang dilakukannya.(PH)