Krisis Media di Tahun 2020
https://parstoday.ir/id/radio/other-i88992-krisis_media_di_tahun_2020
Tahun 2020 yang belum lama berakhir diwarnai berbagai peristiwa penting terutama perjuangan individu, kelompok dan pemerintah melawan virus Corona, yang menimbulkan implikasi politik, sosial dan ekonomi yang sangat besar bagi dunia.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Jan 04, 2021 15:29 Asia/Jakarta
  • Krisis Media di Tahun 2020

Tahun 2020 yang belum lama berakhir diwarnai berbagai peristiwa penting terutama perjuangan individu, kelompok dan pemerintah melawan virus Corona, yang menimbulkan implikasi politik, sosial dan ekonomi yang sangat besar bagi dunia.

Selain masalah virus Corona dan dampaknya, sepak terjang Donald Trump, ancaman dan pelecehan terhadap jurnalis dan penutupan media, serta tekanan ekonomi dan kesulitan keuangan, menjadi isu terbesar media dunia pada tahun 2020.

Wabah virus Corona selama setahun terakhir tidak hanya menjadi headline media dunia, tetapi juga berdampak besar terhadap kehidupan dan karir para pelaku di berbagai media, termasuk di bidang industri hiburan dan perfilman. Semua bioskop, tempat hiburan, tempat olahraga, dan acara massal ditutup, dan hampir semua area industri hiburan terkena dampak pandemi Covid-19.

Banyak bidang industri hiburan bergantung pada kehadiran fisik penonton seperti bioskop dan konser. Tapi karena pembatasan jarak sosial, penyelenggaraan acara ini menghadapi tantangan yang cukup berat. Tentu saja, ada peluang lain di dunia seni dan hiburan, dan langkah vaksinasi publik diharapkan akan memberikan harapan baru.

 

Vaksin Covid-19

 

Presiden AS Donald Trump tidak hanya menjadi salah satu sumber krisis paling serius di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Dia juga telah memproduksi dan menciptakan krisis di media. Dia pernah menuduh media dengan cuitannya tentang "media pembohong". Trump menyebut media menggambarkan citra mengerikan dari virus Corona dan menciptakan ketakutan di pasar. Namun kemudian dia dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa dirinya suka bercuit di Twitter, tapi sering menyesalinya.

Donald Trump tidak melihat media sebagai sarana hiburan belaka, bahkan ia menyebutnya sebagai "musuh bangsa" tahun lalu. Selama epidemi Corona, Amerika Serikat, meskipun mengklaim sebagai negara terkuat di dunia, tapi menghadapi jumlah kasus positif Covid-19 tertinggi di dunia.

Pada masa-masa awal, Trump mengabaikan penanganan virus Corona, hingga menjadikan negaranya menempati posisi tertinggi dunia dari angka kematian akibat Covid-19.

 

 

Seiring merebaknya virus Corona dan penutupan bisnis yang meluas, pilar utama ekonomi dunia rusak parah. Sementara itu, lembaga-lembaga yang tidak dapat menghasilkan pendapatan paling menderita, dan kelangsungan hidup mereka bergantung pada sumber daya keuangan industrinya, termasuk media.

Di negara seperti Afghanistan, sebagian besar media tidak dapat menyediakan dana dan sumber daya yang mereka butuhkan melalui saluran seperti iklan, kegiatan ekonomi tambahan, atau bantuan pemerintah. Oleh karena itu, wabah Corona akan memaksa mereka untuk tutup atau memberikan tekanan berat dan ganda terhadap karyawan dan jurnalisnya yang dirugikan secara finansial.

Namun, media yang bertahan selama ini menunjukkan komitmennya untuk mempertahankan prestasi gemilangnya di bidang kebebasan berekspresi dan aktivitas media serta memperjuangkan cita-cita. Mereka berhak mendapatkan lebih banyak dukungan dan berharap dapat keluar dari himpitan krisis.

Di tengah perjuangan media bertahan dalam himpitan krisis saat ini, dari Australia muncul berita heboh. Pasalnya, baru-baru ini muncul sebuah gugatan diajukan terhadap kerajaan media Rupert Murdoch di Australia dan dipublikasikan di Internet dengan mengumpulkan lebih dari setengah juta tanda tangan.

Petisi itu dibagikan di situs parlemen pada bulan Oktober menyusul video kampanye mantan Perdana Menteri Australia dan pemimpin Partai Buruh Kevin Rudd tentang korporasi media Murdock.

Rudd, yang secara rutin dikritik dan diserang oleh News Corporation, sebuah grup media yang dimiliki oleh Rupert Murdoch, merilis video yang mengkritik tajam kerajaan media Murdoch, yang diklaim menyebabkan terjadinya kanker dalam politik dalam negeri Australia. 

Kevin Rudd mencatat bahwa di Queensland, di mana dia tinggal, Rupert Murdoch menggunakan pengaruh medianya untuk mengarahkan intervensi politik.

 

Kevin Rudd dan Murdock

 

Reporters Without Borders (RSF) dalam laporan tahunannya mengungkapkan berbagai kasus kekerasan dan perlakuan buruk terhadap jurnalis di tahun 2020. Sebanyak 50 jurnalis di seluruh dunia terbunuh di tahun lalu.

Menurut laporan itu, meski jumlah jurnalis yang terbunuh di negara-negara yang dilanda perang telah menurun, tapi lebih banyak jurnalis yang terbunuh di negara-negara yang tidak berperang. Menurut organisasi tersebut, 937 jurnalis telah terbunuh dalam 10 tahun terakhir.

Lebih banyak wartawan juga dilaporkan tewas di negara-negara yang dikenal sebagai negara yang relatif damai, termasuk Meksiko, Honduras, dan Filipina. Dari semua jurnalis yang dibunuh berhubungan dengan aktivitas mereka pada tahun 2020, 84 persen di antaranya dilkukan secara sengaja. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 63 persen dibandingkan tahun lalu.

Meksiko adalah negara paling mematikan bagi jurnalis tahun lalu, dengan delapan jurnalis tewas. Setelah Meksiko, Irak dengan enam jurnalis, Afghanistan dengan lima, India dan Pakistan dengan masing-masing empat tewas, berada dalam daftar negara paling mematikan bagi jurnalis.

Sayangnya, saat ini terdapat 387 jurnalis mendekam di penjara di seluruh dunia, dan beberapa di antaranya telah ditangkap dan dipenjara semata-mata karena melaporkan dan menyelidiki krisis Corona. Lebih dari 130 jurnalis telah ditangkap secara sewenang-wenang sejak musim semi tahun 2020 karena melaporkan krisis epidemi Corona. Dalam beberapa kasus, penahanan berlangsung berjam-jam atau berhari-hari, dan dalam kasus lain, wartawan ditahan selama beberapa minggu.

Salah satu kasusnya menimpa jurnalis Zimbabwe Hopewell Chin'ono, yang menyelidiki penjualan obat Covid 19 oleh pemerintah dengan harga selangit dan ditahan dengan kejam di rumahnya.

 

Hopehul Chinonu

 

Dalam laporannya, Reporters Without Borders (RSF) juga menyinggung permusuhan Presiden AS Donald Trump terhadap jurnalis dan media, dengan mengulang frasa "berita palsu", dan sekarang digunakan oleh para pemimpin dunia lainnya sebagai alat untuk menekan media.

Permusuhan terhadap jurnalis dan media di Amerika Serikat semakin dalam dan intensif, meskipun hanya sedikit orang seperti Trump yang menyerang media dengan nada berapi-api. Pelecehan terhadap pers semakin memburuk selama krisis wabah virus Corona. Jurnalis yang meliput tanggapan pemerintahan Trump terhadap krisis menjadi sasaran selama konferensi pers.

Dan yang tak kalah pentingnya, laporan tahunan yang dirilis oleh Dewan Eropa dengan bantuan LSM yang menangani kebebasan media menunjukkan bahwa kebebasan media di benua Eropa semakin terancam.

 

 

Laporan tersebut menunjukkan bahwa intimidasi terhadap jurnalis, bahkan ancaman untuk memenjarakan dan membunuh mereka, meningkat secara signifikan pada tahun 2020.

Laporan tersebut secara khusus menyebut Rusia, Turki, dan beberapa negara, seperti Hongaria, Polandia, Malta, dan Bulgaria, sebagai negara dengan tingkat pelecehan dan intimidasi tertinggi terhadap jurnalis yang melanggar prinsip kebebasan pers.

Laporan tersebut mencatat lebih dari 30 jurnalis telah dipukuli tahun lalu, dan lebih dari 100 jurnalis masih berada di balik jeruji besi. Laporan tersebut mencantumkan lusinan ancaman terhadap kebebasan media di Eropa selama setahun terakhir, termasuk 33 serangan fisik, 17 penangkapan dan penahanan baru, 43 pelecehan dan 2 percobaan pembunuhan jurnalis.(PH)