May 28, 2017 05:22 Asia/Jakarta

Bulan suci Ramadhan adalah bulan penghambaan dan perhatian kepada sesama. Di bagian kedua acara ini, kita akan mengalihkan perhatian kita kepada Muslimin yang berada dalam situasi perang di sejumlah negara dunia, kemudian menyimak nasihat-nasihat Al Quran terkait bulan Ramadhan, dan di akhir akan disinggung secara singkat tentang tips kesehatan di bulan suci ini.

Di hari kedua bulan suci Ramadhan kami berharap ketaatan dan ibadah anda semua diterima Allah Swt. Bulan Ramadhan di sejumlah negara Muslim dunia dalam beberapa tahun ini, berlangsung dalam suasana yang berbeda. Di saat Muslimin di seluruh dunia menyambut tibanya bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita, pada saat yang sama di belahan dunia lainnya, terjadi perang. Sungguh disayangkan bulan Ramadhan bagi sebagian banyak bangsa kawasan seperti di Yaman, Suriah, Irak dan Palestina harus dilalui dengan berbagai kesulitan yang sungguh berat bagi masyarakatnya. Karena di negara-negara itu terjadi perang, pembunuhan, pengungsian, kelaparan dan di beberapa tempat kelangkaan bahan makanan dan paceklik yang menyedihkan.

Perang yang tak berkesudahan dan aksi kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah dan kegagalan dunia internasional menyelesaikan krisis regional, menyebabkan penderitaan masyarakat kawasan yang dilanda perang bertambah besar terlebih di bulan suci Ramadhan di saat hanya sedikit orang yang peduli dengan nasib mereka. Muslimin di seluruh penjuru dunia membeli bahan makanan untuk berbuka dengan pergi ke pasar-pasar, akan tetapi di wilayah perang masyarakatnya sangat kesulitan untuk menemukan makanan berbuka.   

Salah satu musibah terbesar yang melanda kawasan Timur Tengah saat ini adalah kejahatan kelompok-kelompok teroris di Suriah dan Irak. Muslimin Suriah sejak sekitar enam tahun lalu menderita karena perang. Kelompok-kelompok teroris tidak pernah menghomarti kesucian bulan Ramadhan. PBB dalam salah satu laporannya mengumumkan, ribuan warga Suriah yang tinggal di lokasi-lokasi perang dan kamp-kamp penampungan di negara-negara tetangga, menderita karena kelangkaan bahan makanan. Para pengungsi Muslim yang tinggal di kamp-kamp penampungan di beberapa negara Eropa juga menghadapi kesulitan untuk menjalankan ibadah puasa.

Di Yaman, Muslimin yang tengah berpuasa harus berhadapan dengan banyak kesulitan. Serangan-serangan jet tempur Arab Saudi ke Yaman menyebabkan warga di sebagian besar wilayah negara itu kesulitan untuk mendapatkan air bersih, makanan dan pakaian. Perang dan pemboman di sejumlah wilayah Yaman menyebabkan kondisi hidup warga begitu berat dan lebih dari 14 juta orang terancam bahaya kepalaran akibat perang.

Muslimin dunia akan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini di saat 1,8 juta warga Gaza berada di dalam blokade total dan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Warga Gaza di Palestina, karena blokade rezim Zionis Israel, tidak bisa mengakses hampir seluruh kebutuhan pokoknya, kondisi ini semakin mempersulit hidup mereka. Membeli makanan di bulan Ramadhan bagi warga Gaza sangat sulit dilakukan. Karena pendapatan yang sangat rendah, warga Gaza terpaksa membeli makanan murah dan dalam jumlah sedikit.

Muslimin Gaza dan Tepi Barat biasanya mendapat berbagai bentuk serangan dari Israel selama bulan Ramadhan. Padahal lembaga-lembaga pembela hak asasi manusia berulang kali menuntut penghentian serangan Israel terhadap warga Palestina di bulan Ramadhan, akan tetapi Israel tidak pernah menggubrisnya dan terus melanjutkan aksinya. Selama ini kita hanya bisa menunjukkan solidaritas kecil untuk Muslimin tertindas akibat perang. Kita akui penderitaan mereka sama sekali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam acara sebelumnya, di setiap pembahasan kita akan menyimak beberapa ayat dari kalam Ilahi. Kali ini kami akan mengutip ayat 184 Surat Al Baqarah kelanjutan ayat sebelumnya sebagai berikut:

" ایَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ کَانَ مِنْکُمْ مَرِیضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَیَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِینَ یُطِیقُونَهُ فِدْیَةٌ طَعَامُ مِسْکِینٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَیْرًا فَهُوَ خَیْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَیْرٌ لَکُمْ إِنْ کُنْتُمْ تَعْلَمُونَ."

"….(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Allah Swt setelah menjelaskan hukum dan falsafah puasa di ayat 183, Surat Al Baqarah, di ayat berikutnya memberikan beberapa perintah yang dapat meringankan beban berat berpuasa. Dengan maksud untuk memahamkan kita bahwa perintah puasa yang diwajibkan Allah Swt bagi setiap Mukminin adalah tugas yang kecil dan tanpa kesulitan. Allah Swt berfirman, kalian tidak perlu berpuasa sepanjang tahun atau dalam waktu yang lama, tapi hanya beberapa hari saja kalian diwajibkan berpuasa.

Selain itu Allah Swt di ayat ini menerangkan bahwa Kami memberikan perintah puasa sebagai sebuah kewajiban dengan memperhatikan kondisi orang-orang yang kesulitan  menjalankan perintah ini. Orang-orang berusia lanjut, perempuan hamil dan menyusui, juga orang sakit yang puasa memberatkan mereka, harus mengganti puasa mereka dengan membayar fidyah, itupun jumlahnya terjangkau oleh semua orang, yaitu memberi makan seorang miskin. Akan tetapi jika seseorang ingin mengganti sehari tidak berpuasa dengan memberikan makan lebih dari satu orang miskin, itu lebih baik.

Ayat 184 Surat Al Baqarah ini menunjukkan bahwa agama Islam memiliki aturan rinci dan memberikan aturan yang tepat bagi setiap orang dengan berbagai kondisi yang dialaminya. Hal terpenting adalah ketaatan kepada Allah Swt yang merupakan hal bernilai. Jika Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk berpuasa, maka kita harus menjalankannya dan jika memerintahkan untuk berbuka, maka kitapun harus melakukannya. Ayat ini turun di saat Rasulullah Saw tengah melakukan perjalanan di bulan suci Ramadhan, maka saat itu juga Rasulullah meminta air dan meminumnya. Setelah itu beliau memerintahkan yang lainnya untuk membatalkan puasa.

Di akhir ayat kita diingatkan bahwa berpuasa lebih baik, maka berpuasalah dengan kerelaan tanpa perasaan berat. Karena jika timbangan kebaikan ini jelas bagi semua, tidak ada seorangpun yang berharap seandainya saya tua renta dan bisa mengganti puasa.

Khoja Abdullah Ansari dalam salah satu pernyataannya menyindir dengan tajam, "Salah satu hikmah puasa adalah bahwa Tuhan mengetahui kondisi para darwis dan orang-orang lapar dan membantu mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa Allah Swt meyatimkan Muhammad Saw sejak awal sehingga beliau menyayangi anak-anak yatim, setelah itu mengasingkannya sehingga beliau mengasihi semua orang yang terasing, dan memiskinkannya sehingga beliau tidak melupakan kaum fakir miskin."

Apa yang telah Kami lakukan tentang kemuliaan, bersamamu dalam kemiskinan dan yatim

Berlakulah seperti itu juga wahai pemilik kemuliaan terhadap ciptaan Kami

Sebagaimana sudah kami sampaikan sebelumnya, agama Islam sebagai agama paling sempurna, memberikan aturan dan nasihat atas seluruh urusan kehidupan kita. Di bagian akhir acara ini, kami akan mengutip sejumlah anjuran terkait kesehatan dan menu makanan di bulan suci Ramadhan.

Haus dan lapar di bulan suci Ramadhan menimbulkan kondisi khusus bagi orang-orang yang berpuasa. Kebanyakan dari orang-orang yang berpuasa di bulan suci merasakan kelelahan, malas, pusing, keram anggota badan, sakit perut dan yang lainnya. Alasan utama semua keluhan tersebut adalah menurunnya konsumsi makanan yang diperlukan tubuh. Berpuasa, di tengah udara panas dan waktu yang lama dengan menahan lapar dan haus, menambah kesulitan bagi orang-orang yang berpuasa. Meskipun demikian, karena puasa juga memberikan banyak dampak positif, terdapat beberapa cara agar kita bisa mengurangi tekanan puasa di bulan suci sehingga tubuh tidak terganggu.

Supaya badan lebih sehat dalam kondisi ini, perlu diterapkan pola makan yang tepat. Langkah pertama, sebagaimana juga dianjurkan Islam, puasa bagi orang sakit tidak diwajibkan. Sebagian orang menutup mata atas penyakit yang dideritanya saat memasuki bulan Ramadhan karena memperhatikan maknawiah yang terkandung di bulan suci ini. Akan tetapi keputusan berpuasa atau tidak bagi seorang yang sakit, bergantung pada jenis penyakit, kondisi khusus setiap orang, jenis obat dan banyak pertimbangan lainnya dan kita tidak bisa menetapkan satu aturan baku bagi seluruh orang yang sakit, bahkan bagi yang jenis penyakitnya sama sekalipun. Di sini setiap orang lebih mengetahui kondisi dirinya sendiri apakah bisa berpuasa atau tidak. Jika ia tidak bisa memperoleh keyakinan terkait bahaya-bahaya yang mungkin menyerangnya saat berpuasa, maka harus merujuk ke dokter ahli dan menerima pendapatnya.

Terkait hal ini, Dr. Saeed Hosseini, subspesialis gizi dan makanan dari Universitas Ilmu Kedokteran Tehran membagi dua kelompok orang yang menderita sakit, orang-orang yang menderita diabetes dan penyakit MS (multiple sclerosis). Ia mengatakan, penyakit-penyakit seperti diabetes dan tekanan darah tinggi menciptakan banyak gangguan bagi orang yang berpuasa, kelompok orang berpenyakit ini harus merujuk ke dokter dan meminta konsultasinya sebelum memutuskan untuk berpuasa atau tidak. Orang-orang yang menderita penyakit namun bermaksud untuk berpuasa harus mengontrol kadar gula darahnya 3-4 hari sebelum tibanya bulan suci Ramadhan. Sebelum waktu sahur atau berbuka kadar gula darahnya harus di bawah 130 dan dua jam setelahnya harus di bawah 180.

Orang-orang yang menderita penyakit MS, katanya, juga tidak boleh berpuasa di saat penyakitnya kambuh dan sedang mengkonsumsi kortikosteroid. Lebih dari itu, orang-orang sakit yang harus mengkonsumsi obat dengan cara dimakan atau setelah disuntik mengalami gejala-gejala seperti panas dan sakit badan, dan untuk mengurangi gejala ini harus mengkonsumsi obat, tidak boleh berpuasa, perhatikan, syarat pertama untuk berpuasa adalah kesehatan tubuh.