Ramadhan, Bulan Tuhan (6)
Tausiyah Ramadhan Program khusus Ramadhan hari ini akan kita awali dengan kajian seputar derajat puasa dan kedudukan orang yang berpuasa. Salah satu derajat puasa berhubungan dengan orang-orang yang hanya meninggalkan makan dan minum, sementara anggota badan mereka seperti telinga, lidah, dan mata disibukkan dengan perbuatan dosa. Sebagian lain berusaha menjaga anggota badannya dari perbuatan tercela, tapi mereka ragu-ragu antara mempertahankan puasa atau membatalkannya.
Sebagian orang menghadiri perjamuan Ilahi, tapi hati mereka melalaikan makna puasa, lesu, bermalas-malasan, dan seluruh anggota badannya sangat berat untuk melakukan pekerjaan. Kondisi mereka sama seperti orang-orang yang membawa hadiah untuk seorang raja, tapi ia bermalas-malasan dalam memikulnya. Hadiah yang dibawa tersebut juga cacat sehingga tidak diterima oleh raja.
Sekelompok orang menjaga anggota badannya dari perkara yang membatalkan puasa, namun mereka tidak menjaga hatinya dari hal-hal yang akan mengurangi nilai ibadah puasa. Kelompok lain tidak hanya menjaga anggota badannya dari dosa, tapi juga menyambut bulan Ramadhan dengan hati dan pikiran yang suci. Mereka berusaha keras untuk melaksanakan perintah-perintah Ilahi. Pada akhirnya mereka berhasil meraih keridhaan Tuhan.
Sebagian orang tidak hanya fokus menjaga hati, pikiran, dan anggota badannya dari dosa dan perbuatan buruk, tapi mereka juga menyibukkan diri dengan ibadah dan perbuatan baik. Mereka tidak hanya melakukan ibadah wajib, namun juga menghiasi dirinya dengan amalan-amalan sunnah. Kelompok ini telah memahami hakikat puasa dan perdagangan yang menguntungkan dengan Allah Swt.
Golongan terakhir adalah puasanya orang-orang khusus, di mana mereka meninggalkan kesibukan kepada selain Allah Swt. Derajat puasa ini adalah milik para nabi, siddiqin, dan shalihin, dan hasil dari puasa ini adalah pertemuan dengan Tuhan. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Setiap memasuki bulan Ramadhan, rona wajah Rasulullah Saw berubah, shalatnya bertambah banyak, dan beliau sangat bersungguh-sungguh dan khusyu' dalam berdoa. Beliau juga berpuasa di selain bulan Ramadhan. Rasul berpuasa tiga hari di setiap bulan dan bersabda, 'Puasa tiga hari tersebut sama seperti puasa setahun.'"
Perlu dicatat bahwa semakin tinggi makrifat manusia terhadap esensi ibadah termasuk puasa, maka mereka akan melakukannya dengan penuh semangat dan kecintaan. Ibadah akan terasa nikmat bagi mereka dan memperoleh kelezatan spiritual.
Kajian Tafsir
Pada kesempatan ini, kita akan kembali menyimak pelajaran tafsir al-Quran yang kami sajikan secara ringkas. Pada surat al-'Imran ayat 164, Allah Swt berfirman, "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
Ayat ini berbicara tentang pengutusan Rasulullah Saw dan misi kenabiannya. Muhammad Saw diutus dari tengah kaum yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) untuk menunjukkan kegangunan risalahnya dan sebagai dalil atas kebenaran risalahnya, karena sebuah kitab seperti al-Quran – dengan kandungan yang penuh makna dan dalam – mustahil lahir dari pemikiran seorang manusia, itu pun dari sosok yang tidak mengenyam pendidikan dan tidak tumbuh di lingkungan akademis.
Ayat tersebut menerangkan misi pengutusan Nabi Saw dalam tiga garis besar yaitu; membacakan ayat-ayat Allah Swt kepada manusia, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan al-kitab dan hikmah. Dua misi terakhir ini bertujuan untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan. Keniscayaan sebuah petunjuk adalah membacakan al-Quran dan merenungi maknanya, menyucikan jiwa dari keburukan moral, dan membekali diri dengan pengetahuan dan makrifat.
Di bagian akhir, ayat ini menyinggung kesesatan yang menyelimuti seluruh umat manusia sebelum pengutusan Nabi Saw. Kesesatan pada masa itu sudah sangat parah, karena masyarakat menyembah dan mencari perlindungan kepada berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan sendiri, menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup, dan anak laki-laki menikahi ibu kandungnya.
Pada zaman Jahiliyah, perempuan dianggap sebagai barang dagangan dan tidak memiliki hak-hak kemanusiaan yang paling dasar sekali pun, pikiran masyarakat disandera oleh khurafat dan takhayul, dan rasa dendam dan permusuhan tidak pernah hilang dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, pertumpahan darah dan pembunuhan sudah menjadi sebuah tradisi.
Kedatangan Rasulullah Saw dengan membawa kitab, hikmah, dan pengajaran telah menyelamatkan manusia dari kesesatan yang nyata. Tidak diragukan lagi bahwa kesuksesan Rasul merupakan salah satu dari bukti keagungan Islam dan mukjizat beliau, karena mampu menanamkan pengaruh dan mengubah masyarakat Jahiliyah.
Berkenaan dengan pengutusan Rasulullah Saw, seorang arif besar, Khwaja Abdullah Ansari berkata, "Allah telah menghiasinya dengan hakikat kenabian dan mengutusnya ke tengah masyarakat yang jahil, di mana tidak pernah mengetahui kebenaran dan tersesat di dunia ini. Dan ketika ia diutus sebagai rasul, ia mulai menyebarkan agama dan syariat Islam. Ia ibarat tuan rumah yang membuka jamuan Islam kepada tamu-tamunya."
Tips Sehat Menjalani Puasa
Jika kita tidak memiliki pola makan yang tepat selama bulan Ramadhan, maka berpuasa tidak akan mengurangi bobot badan kita, tapi justru kita akan kelebihan berat badan. Bahan-bahan makanan dan gula akan menumpuk di tubuh, dan dari sisi lain, telat tidur juga akan meningkatkan risiko obesitas.
Tips kesehatan kali ini, kami menyarankan orang-orang yang menjalankan ibadah puasa untuk meminum susu hangat rendah lemak. Minuman ini lambat dicerna tubuh dan memiliki efek mengenyangkan lebih lama sehingga kita tidak tergoda untuk ngemil sampai larut malam. Seorang pakar gizi Iran, Dokter Kimiagar menuturkan, "Susu dan produk olahan susu merupakan salah satu dari kelompok utama makanan dan sumber utama nutrisinya adalah susu. Sebaiknya konsumsilah susu, keju, dan rice pudding dengan rendah gula ketika berbuka puasa."
Susu memiliki banyak manfaat dan susu rendah lemak akan mengurangi stres dan menenangkan saraf, sehingga tubuh siap untuk istirahat. Konsumsi susu akan memberikan energi yang cukup dan mengusir rasa lesu. Oleh karena itu, jangan lupakan susu dan produk olahan susu selama menjalani ibadah puasa.
Pengobatan tradisional merekomendasikan susu sebagai bahan yang kaya manfaat untuk berbuka puasa. Susu kaya akan kalsium, potasium, sodium, vitamin B, protein, fosfor, dan lain-lain. Konsumsi susu juga sangat ditekankan oleh para pemuka agama. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, "Imam Ali senang berbuka puasa dengan susu."
Mengkonsumsi rice pudding bersama sari kurma dan buah murbei saat berbuka akan mempercepat pengaturan kadar gula darah dan memasok asupan mikronutrien, terutama kalsium yang cukup bagi tubuh. Rice pudding adalah makanan yang ringan, mudah dicerna, berstektur lembut, dan bergizi. Kita juga dapat menambah kayu manis pada rice pudding untuk memperkuat saluran pencernaan.