Ramadhan, Bulan Tuhan (7)
Tausiyah Ramadhan Acara spesial Ramadhan hari ini akan kita awali dengan sebuah pertanyaan; "Apakah puasa sebuah bentuk latihan (Riyadhah)? Jika demikian, apa bedanya dengan latihan di luar konteks agama? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita akan terlebih dulu mendefinisikan kata 'latihan' atau riyadhah ini. Riyadhah menurut istilah adalah menanggung beban dan kesulitan serta menempatkan diri dalam keterbatasan demi menempa diri secara jasmani dan ruhani.
Kegiatan riyadhah kadang tidak ada hubungannya dengan agama. Sebagian manusia dengan berbagai cara menempa fisiknya sehingga bisa memperoleh kekuatan supranatural atau kekuatan gaib. Sebagian yang lain melakukan riyadhah dengan mengikuti panduan agama dan berdasarkan parameter syariat. Dalam riyadhah agama, seseorang tidak akan keluar dari bingkai ajaran agama, karena ia sendiri menolak setiap kekuatan yang tidak bersumber dari syariat.
Puasa di bulan Ramadhan juga merupakan sebuah latihan pada waktu khusus dan dijalankan sesuai dengan panduan agama. Filosofi syariat dalam Islam adalah untuk mengantarkan manusia pada penghambaan Allah Swt dan mencapai kedekatan dengan-Nya. Jadi, pengaruh riyadhah berbasis syariat dan non-syariat benar-benar berbeda satu sama lain.
Dalam latihan non-syar'i, tujuan final adalah mencapai kekuatan jiwa dan raga. Namun dalam riyadhah syar'i, tujuan dari latihan bukan untuk memperoleh kekuatan, tapi untuk menyucikan jiwa dari keburukan dan meniti jalan kesempurnaan; meskipun dalam perjalanannya, seseorang juga akan memperoleh kekuatan jiwa dan raga.
Perbedaan lain kedua latihan ini terletak pada cara menyalurkan hasil yang dicapai. Seorang muslim yang mencapai kesempurnaan tertentu setelah serangkaian latihan, tidak akan menyalahgunakan anugerah ini dan tidak menggunakannya di jalan yang salah. Tapi seorang pertapa mungkin akan memperoleh kekuatan tertentu selama pertapaannya dan kemudian menggunakan kekuatan itu untuk tujuan jahat.
Riyadhah non-syar'i mengharuskan manusia untuk bertapa dan menjauhi keramaian untuk beberapa waktu. Sementara dalam ajaran Islam, bertapa dan mengasingkan diri selain tidak dianjurkan, Islam menganggap partisipasi aktif individu di tengah masyarakat sebagai media untuk melatih kesempurnaan jiwa dan moral. Dalam sejarah Islam kita membaca kisah para pembela agama yang tetap menjalani puasa meskipun mereka sedang berperang melawan musuh.
Dalam Perang Mu'tah, Jakfar bin Abi Thalib, saudara Imam Ali as, terjatuh di tanah beberapa saat sebelum ia syahid. Ia kemudian dibawa ke tenda dalam kondisi terluka dan kehausan. Para sahabat menggerak-gerakkan dagunya dan kemudian ia membuka matanya. Mereka berkata, "Apakah engkau ingin air?" Ia menjawab, "Simpanlah air sampai magrib tiba. Jika aku masih hidup, aku akan meminumnya nanti dan jika aku telah tiada, biarkan aku menghadap Tuhan dengan rasa dahaga. Aku sedang berpuasa dan tidak ingin membatalkannya."
Kajian Tafsir
Pada kajian tafsir singkat hari ini, kita akan mempelajari tafsir surat al-'Imran ayat 14 yaitu; "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
Allah Swt menciptakan manusia di dunia ini dan menyediakan segala keperluan mereka untuk meneruskan hidupnya. Mereka membutuhkan istri dan anak-anak untuk mempertahankan keturunan, membutuhkan harta benda untuk menjamin kehidupan yang sejahtera, dan memerlukan berbagai jenis hewan dan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Allah Swt telah menyediakan semua kebutuhan itu kepada ciptaan-Nya.
Namun, perlu diingat bahwa semua nikmat tersebut akan cepat berlalu dan hanya bisa menikmatinya maksimal sebatas usia manusia. Oleh sebab itu, orang yang meyakini Allah Swt dan hari kiamat, ia tidak boleh terlena oleh kenikmatan duniawi dan termakan tipu dayanya, karena semua perkara itu tidak akan bernilai pada hari kiamat.
Dunia di sini adalah semua bentuk kecintaan dan ketertarikan pada perkara-perkara yang disinggung dalam ayat tersebut. Pada ayat 46 surat al-Kahf, Allah Swt berfirman, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…" Perhiasan ini akan cepat hilang dan yang tersisa darinya hanya penyesalan dan ratapan. Semua kenikmatan dan perhiasan ini merupakan media untuk ujian manusia.
Di dunia ini, kebaikan dan keburukan, serta kebahagiaan dan kesengsaraan; semua berada dalam jangkauan manusia. Mereka dapat memilih salah satu di antara keduanya, jadi barang siapa yang bahagia, sungguh ia bahagia karena ikhtiarnya, dan orang yang sengsara, ia sengsara karena ikhtiarnya pula. Kecintaan kepada wanita dan anak-anak serta kepemilikan harta yang berlimpah; semua ini adalah kesenangan sesaat dan nikmat duniawi.
Namun, syaitan menjadikan semua kesenangan itu sebagai perhiasan bagi manusia dan menyibukkan mereka dengan urusan duniawi dan akhirnya melalaikan Tuhan. Tetapi, orang-orang mukmin akan menggunakan kenikmatan tersebut sebatas kebutuhan dan memanfaatkannya untuk keperluan hidup. Mereka menganggap dunia ini sebagai ladang untuk bercocok tanam dan akhirat sebagai tempat untuk memetik hasil.
Di bagian akhir, ayat 14 surat al-'Imran berkata 'Di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).' Kalimat ini untuk menyemangati manusia agar tidak menggadaikan kenikmatan hakiki dan abadi dengan kenikmatan duniawi yang cepat berlalu.
Seorang arif besar, Khwaja Abdullah Ansari ketika menafsirkan sebuah riwayat dari Imam Ali as, berkata, "Ali al-Murtadha… setiap kali ia berurusan dengan perkara dunia, ia akan berjalan penuh hati-hati untuk menjaga agamanya sambil berujar, 'Wahai dunia tipu-lah selain aku karena engkau telah aku talak tiga yang tidak mungkin ada rujuk kembali.'"
Tips Sehat Menjalani Puasa
Sekarang kita akan kembali mempelajari tips sehat selama berpuasa. Salah satu pelajaran penting di bulan Ramadhan adalah melatih kedisiplinan dalam makan. Pola makan teratur memiliki banyak manfaat untuk kesehatan dan salah satunya adalah untuk menyimpan cadangan energi di sepanjang hari. Pola makan tidak teratur membuat badan kekurangan energi di sepanjang hari, tapi makan teratur akan menjaga keseimbangan kadar gula darah dan mencegah rasa letih karena efek lapar.
Pola makan teratur akan mencegah kita makan berlebihan dan menyantap menu yang tidak perlu. Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk melatih disiplin dan mempersiapkan sebuah kehidupan yang ideal selama bulan ini dan seterusnya. Meninggalkan makan dan minum pada batas waktu tertentu serta mawas diri, juga akan membuat seseorang disiplin dalam berpikir.
Para pemuka agama sangat menganjurkan kita untuk menjaga kesehatan dan kebersihan serta memilih makanan yang sehat. Sebab, akal yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat pula. Jadi, manusia perlu menjauhi segala jenis makanan dan perkara-perkara yang merugikan mereka. Ini juga yang menjadi filosofi Islam mengharamkan makanan tertentu untuk manusia.
Para pemuka agama mengingatkan kita untuk tidak makan secara berlebihan, menjaga adab makan, dan makan secara teratur. Jika tips kesehatan ini dipraktekkan selama Ramadhan, kita akan mengerti bahwa kita tidak perlu menumpuk makanan dalam perut saat berbuka dan sahur. Tubuh memiliki mekanisme pengaturan yang akan bekerja di sepanjang puasa dan lemak tubuh juga akan terbakar secara efektif selama Ramadhan.
Tubuh membutuhkan gizi yang seimbang untuk menjaga kesehatan dan aktivitas seseorang selama bulan Ramadhan. Perlu dicatat bahwa jika muncul gangguan kesehatan yang tidak diakibatkan oleh penyakit tertentu, ini disebabkan oleh pola makan yang tidak seimbang dan tidur yang tidak teratur.