Ramadhan, Bulan Tuhan (8)
Tausiyah Ramadhan Para psikolog berpendapat bahwa manusia menyimpan berbagai ruang dalam sanubarinya untuk menerima cinta dan kasih sayang. Jika ruang itu hampa, mereka akan merasa ada sesuatu yang kurang dan mulai gelisah. Ruang utama dalam diri manusia adalah sebuah bilik yang dipenuhi oleh kecintaan kepada Tuhan. Cinta ini akan menghadirkan ketenangan dan kedamaian dalam diri kita; sebuah ketentraman yang hilang dari manusia.
Dapat dikatakan bahwa motivasi utama manusia dalam pengembaraan dan perjuangannya adalah untuk merengkuh ketenangan. Mengumpulkan harta untuk mendapatkan ketenangan, membeli rumah dan tanah demi ketenangan, dan penghambaan diri kepada Tuhan juga untuk memperoleh ketenangan. Lalu, kegiatan mana yang akan menghadirkan ketenangan hakiki bagi manusia?
Seorang psikolog Jerman, Erich Fromm menulis, "Asumsinya adalah bahwa kesejahteraan material dan kenyamanan akan menghadirkan kesenangan dan ketenangan. Produksi tak terbatas, kebebasan mutlak, kemajuan yang menakjubkan, dan sampai pada hasrat untuk menjadikan surga dunia sebagai pengganti surga yang dijanjikan, tapi… faktanya adalah bahwa era industri telah gagal dalam meraih janji besarnya dan manusia kian menyadari bahwa memenuhi hasrat yang tak terbatas, bukan jalan untuk mencapai kesenangan dan ketenangan."
Dokter asal Jerman, Albert Schweitzer – penerima Hadiah Nobel tahun 1952 dalam pidatonya ketika menerima hadiah bergengsi itu menuturkan, "Manusia telah menjadi superman, tapi mereka gagal menempatkan kekuatan besarnya pada tujuan yang rasional dan bermanfaat. Semakin superman memperoleh kekuatan, ia justru akan semakin lemah dan masalah ini sudah seharusnya mengguncang nurani kita."
Manusia telah diciptakan oleh Dzat Yang Maha Kuasa, Dia mengetahui semua penyakit dan penawar bagi ciptaannya, dan ketenangan hanya akan diperoleh dengan satu cara yaitu; mengingat dan membangun interaksi dengan Sang Khalik. "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS: Ar-Ra'd: 28)
Maulawi Jalaluddin Rumi – seorang penyair legendaris Iran – berkata, "Di dalam diri manusia ada cinta, luka, dan hasrat, bahkan jika ia memiliki seratus ribu dunia, dia tetap tidak akan tenang dan tentram. Orang bekerja dengan bermacam profesi, keahlian, dan jabatan, dan mereka belajar astrologi dan kedokteran dan sebagainya, tetapi mereka tidak merasa tenang karena apa yang hilang darinya tidak ditemukan."
"Karena hati manusia akan menemukan kedamaian melalui Dia (Tuhan)… Bagaimana mungkin menemukan kedamaian lewat yang lain? Semakin cepat seseorang bangun dan sadar, jalan yang panjang semakin pendek dan semakin sedikit kehidupan orang yang akan tersia-siakan pada anak tangga ini," kata Rumi dalam senandungnya.
Kajian Tafsir
Di hari kedelapan bulan Ramadhan, kita akan mengkaji tafsir al-Quran surat an-Nisa ayat 64. Allah Swt berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Allah Swt memilih orang-orang di antara para hamba-Nya sebagai rasul untuk menyampaikan pesan langit kepada manusia. Mereka bertanggung jawab untuk membimbing masyarakat ke arah kesempurnaan. Para rasul datang dari sisi Allah Swt dan manusia pun wajib menaati mereka atas perintah Ilahi.
Ayat tersebut kemudian menjelaskan bahwa jalan kembali akan tetap terbuka untuk para pendosa. Menariknya, ayat ini tidak langsung menyebutkan bahwa mereka telah melanggar perintah Tuhan, tapi menggunakan ungkapan 'jika mereka telah menganiaya dirinya.' Dengan kata lain, orang yang melanggar perintah Allah Swt dan Rasul-Nya dan tidak menaati perintah agama, sebenarnya mereka telah menganiaya dirinya sendiri.
Karena, semua perintah Allah Swt diturunkan untuk kepentingan manusia dan orang yang tidak melaksanakan perintah tersebut, mereka telah merusak sendi-sendi kehidupannya dan juga tidak akan mencapai kemajuan dari segi spiritual.
Poin lain, ayat tersebut merupakan jawaban yang tegas kepada orang-orang yang menganggap tawassul (meminta perantara) kepada Rasul Saw sebagai perbuatan syirik. Ia berkata; mendatangi Rasulullah Saw dan menjadikan beliau sebagai pemberi syafaat di sisi Allah dan juga permohonan ampunannya untuk para pendosa, akan membuat taubat seseorang diterima dan memperoleh rahmat Ilahi.
Jika wasilah (perantara) dan permohonan ampunan dari Rasul Saw dianggap syirik, lalu mengapa Quran memerintahkan para pendosa untuk berbuat demikian! Tentu saja, para pendosa pertama-tama harus bertaubat dan meninggalkan jalan yang salah, kemudian baru meminta Rasul Saw untuk memohonkan ampunan untuknya agar taubatnya diterima.
Jelas bahwa Rasul Saw bukan pemberi ampunan dan hanya sebagai wasilah untuk memohonkan ampunan dari Allah Swt. Al-Quran tidak berkata; 'Wahai Rasul mintalah ampunan untuk mereka,' tapi beliau dapat menggunakan kedudukannya di sisi Tuhan dan memohonkan ampunan bagi para pendosa yang bertaubat.
Khwaja Abdullah Ansari ketika menafsirkan ayat 64 surat an-Nisa berkata, "Ayat ini menyinggung kedudukan tinggi Rasulullah di sisi Allah dan sebuah anugerah dari anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya sehingga keridhaan Rasul sejajar dengan keridhaan Allah. Para makhluk harus tahu bahwa ketaatan kepada Rasul sama seperti ketaatan kepada Allah. Perbuatan Rasul adalah firman Tuhan, penjelasan Rasul adalah jalan Tuhan, dan ketaatan kepada Rasul adalah kecintaan kepada al-Haq."
Tips Sehat Menjalani Puasa
Pada tips kesehatan hari ini, kita akan menjawab keluhan orang-orang yang merasa lemah dan lesu ketika harus menahan diri dari makan dan minum. Berpuasa di tengah cuaca panas tentu akan banyak menguras tenaga seperti, cepat haus dan cadangan energi terus menyusut saat melakukan aktivitas. Untuk mengatasi tekanan rasa lapar dan haus selama bulan Ramadhan, para ahli gizi menyarankan kita untuk tidak melupakan makan sahur.
Tanpa sahur, tubuh kita tidak memperoleh asupan karbohidrat dalam waktu yang lama, menurunnya kadar gula darah secara drastis, lesu, sakit kepala, dan melemahnya anggota badan, dan lain-lain. Makan sahur adalah sebuah amalan sunnah, ia juga akan meringankan beban orang yang berpuasa, serta mengurangi durasi rasa lapar dan haus. Oleh sebab itu, orang yang berpuasa disunnahkan untuk makan sahur meskipun dengan sebutir kurma atau segelas susu.
Menu sahur yang kaya protein akan mengurangi rasa lemah karena perut kosong. Usahakan untuk mengkonsumsi makanan yang mengenyangkan lebih lama saat sahur seperti, telur, sup, kacang-kacangan, dan buah. Memperbanyak sayur-sayuran juga akan mencegah lapar di sepanjang hari.
Seorang ahli gizi Iran, dokter Haji Farji mengatakan, "Makan sahur sangat penting untuk orang yang berpuasa dan dengan mengkonsumsi sayuran dan gandum utuh, ia akan mengontrol daya serap usus dan kerja pencernaan. Makanan kaya serat seperti sayuran berdaun hijau dan gandum utuh akan membantu memenuhi asupan air bagi orang-orang yang berpuasa."
Selain itu, waktu sahar (menjelang shubuh) di semua agama merupakan kesempatan terbaik untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah Swt. Rasul Saw bersabda, "Para malaikat akan beristighfar untuk orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahar dan memakan sahur."