Jun 04, 2017 06:16 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran dan ia menyimpan sejuta keutamaan dan keagungan.

Rasulullah Saw bersabda, "… sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya merupakan paling utamanya hari, malam-malamnya paling utamanya malam, dan detik-detiknya paling utamanya detik. Inilah bulan ketika kalian diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini, nafas kalian dihitung tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian diijabah. Berdoalah kepada Allah Tuhan kalian dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Dia membimbing kalian untuk menunaikan puasa dan membaca kitab-Nya…"

Berpuasa di bulan Ramadhan wajib hukumnya bagi setiap Muslim yang telah memasuki usia baligh. Puasa merupakan sebuah sarana efektif untuk menciptakan dan meningkatkan ketakwaan seseorang. Sementara takwa berperan penting dalam mendidik dan membentuk kepribadian Islami seorang Muslim. Rasul Saw dalam pidatonya mengenai keutamaan bulan Ramadhan, bersabda bahwa sebaik-baiknya perbuatan di bulan ini adalah menghindari dan menjauhi dosa.

Bulan Ramadhan adalah musim semi al-Quran. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, "Setiap sesuatu memiliki musim semi dan musim semi al-Quran adalah bulan suci Ramadhan." Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa barang siapa yang membaca satu ayat dari ayat-ayat al-Quran di bulan Ramadhan, maka ia seperti mengkhatamkan al-Quran di bulan-bulan lain. Keutamaan ini hanya diberikan untuk Ramadhan dan tidak dimiliki oleh bulan lain. Jadi, dapat dikatakan bahwa al-Quran dan bulan Ramadhan memiliki hubungan yang sangat erat dan tak terpisahkan.

Jelas bahwa tidak ada hal yang lebih bernilai dari membaca al-Quran dan memahami makna yang dikandungnya. Dalam surat Muhammad ayat 24, Allah Swt berfirman, "Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” Al-Quran adalah cahaya di mana Tuhan membimbing para pencari-Nya ke jalan yang lurus, sementara tadabbur dan tafakkur adalah jalan untuk meraih cahaya Ilahi.

Pada segmen ini, kami menyajikan perkataan Bapak Pendiri Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra mengenai keutamaan bulan Ramadhan. Beliau berkata, "Ini adalah sebuah undangan dari sisi Allah. Ini adalah sebuah nikmat dan rahmat dari Allah kepada hambanya yang lemah dan hina sehingga ia bisa meningkatkan derajatnya.” Imam Khomeini menambahkan, “Bersungguh-sungguhlah meraih berkah Ramadhan dan jangan biarkan berlalu begitu saja. Nuansa religi yang dirasakan selama Ramadhan harus tetap dilestarikan untuk menjalani bulan-bulan selanjutnya.”

Imam Khomeini ra di berbagai ceramahnya selalu menyeru masyarakat pada ketaatan dan ibadah kepada Allah Swt. Selama bulan Ramadhan, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk berdoa dan bermunajat dengan Sang Khalik dan berusaha untuk memanfaatkan kesempatan emas ini dengan maksimal. Imam Khomeini ra kadang harus berpuasa selama 18 jam di tengah teriknya suhu udara di kota Najaf, Irak yang mencapai 50 derajat Celcius. Beliau tidak menyantap hidangan berbuka sebelum menunaikan shalat magrib dan isya serta ibadah sunnah.

Kajian Tafsir

Hari ini kita akan mengkaji tafsir al-Quran ayat 69 surat an-Nisa yaitu; "Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang menaati perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah. Dalam surat al-Fatihah, Allah menyebutkan ciri orang-orang yang dianugerahi nikmat. Mereka adalah para individu yang hanya menyembah Allah Swt dan meminta pertolongan kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang melangkah di jalan yang lurus dan menjauhi segala bentuk kesesatan.

Pada ayat ini, Allah Swt telah menyempurnakan nikmatnya kepada empat golongan manusia. Kelompok pertama, para nabi yaitu orang-orang yang terdepan dalam membimbing, memimpin, dan menyeru manusia ke jalan yang lurus. Kemudian shiddiqiin yaitu mereka yang selalu berkata dan berperilaku jujur. Perilakunya mencerminkan kejujuran ucapannya dan mereka juga tidak memamerkan keimanannya, tapi benar-benar meyakini dan melaksanakan perintah Allah Swt. Dari sini dapat dipahami bahwa setelah posisi kenabian, tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari kejujuran.

Golongan ketiga, syuhada yaitu orang-orang pilihan yang akan memberikan kesaksian atas amal perbuatan manusia pada hari kiamat kelak (bukan orang-orang yang gugur di medan perang). Dan terakhir, salehin yaitu orang-orang saleh yang melakukan perbuatan baik dan mengikuti perintah para nabi sehingga layak untuk memperoleh nikmat dari Allah Swt. Jelas bahwa sosok-sosok seperti ini akan menjadi sahabat idaman.

Mengenai sebab-sebab turunnya ayat tersebut, Khwaja Abdullah Ansari menulis, "Seorang sahabat Rasul Saw yang bernama Tsauban bin Bujdad didera gelisah yang parah sehingga membuat tubuhnya kurus kering dan tak berdaya. Rasul kemudian bertanya kepadanya, 'Apakah engkau sedang memikul beban yang sangat besar sehingga kurus seperti ini?' Tsauban menjawab, 'Aku sangat gelisah karena di akhirat nanti, engkau akan berada di surga yang tinggi dan kami tidak bisa lagi berjumpa denganmu.'" Ayat ini turun berkaitan dengan kondisi Tsauban.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Selama beberapa hari lalu, kita telah mempelajari tentang pentingnya gizi di bulan Ramadhan dan dampaknya bagi kesehatan. Satu hal yang paling utama adalah menyiapkan makanan yang halal dan suci untuk diri kita dan keluarga. Sebab, makanan halal akan membantu tumbuhnya keutamaan-keutamaan moral dan sifat terpuji. Allah Swt menyediakan berbagai kenikmatan untuk manusia dan menyeru mereka untuk memilih makanan yang halal dan sehat.

Al-Quran tak lupa mengingatkan tentang hubungan antara makanan yang halal dan amal saleh. Dalam surat al-Mukminun ayat 51, Allah Swt berfirman, "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Mencari dan mengkonsumsi makanan yang halal merupakan faktor yang menghadirkan kemuliaan dan keutamaan bagi manusia.

Makanan yang halal – sama seperti ucapan yang baik dan terpuji – akan berpengaruh pada kepribadian dan ketinggian jiwa seseorang. Ia akan membantu manusia untuk mencapai kesempurnaan spiritual dan menjaga nilai-nilai moral. Nilai ibadah puasa juga terletak pada kesucian dan kehalalan makanan yang dikonsumsi untuk sahur dan berbuka.

Makanan yang halal dan suci benar-benar selaras dengan fitrah dan jiwa manusia, terlebih jika makanan itu diperoleh dari hasil kerja keras. Para ahli gizi percaya bahwa ketika manusia mengkonsumsi makanan yang halal dan suci, ia akan mendatangkan kesehatan, kegembiraan, dan menyembuhkan. Dalam masalah kesehatan makanan, al-Quran telah menyebutkan beberapa jenis makanan dan buah-buahan yang halal dan baik untuk kesehatan manusia.

Sejumlah riwayat telah menjelaskan pengaruh beberapa jenis makanan pada perilaku manusia. Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Madu akan memperkuat hafalan, menjernihkan hati, dan memberi kesembuhan. Kurma akan membuat orang menjadi penyabar."

Imam Ali Ridha as menganjurkan kita untuk mengkonsumsi minyak zaitun dan berkata, "Minyak zaitun akan membersihkan usus, memperkuat saraf, menghilangkan penyakit-penyakit fatal, memperbaiki akhlak, dan memberi ketenangan kepada jiwa…" Buah anggur juga termasuk buah yang mengubah depresi dan stres menjadi ketenangan dan relaksasi. Para ahli gizi menyarankan orang yang berpuasa untuk tidak melupakan makanan dan hidangan yang sehat.