Jun 05, 2017 02:46 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Tausiyah Ramadhan Tak terasa kita sudah 10 hari melaksanakan ibadah puasa. Ini artinya, 10 hari pertama bulan Ramadhan sudah kita lalui.

Puasa terutama di bulan Ramadhan akan menyebabkan pengekangan hawa nafsu dan menghadirkan cahaya dalam jiwa. Orang-orang yang berpuasa akan berjuang menjaga seluruh anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah Swt, di samping menahan rasa lapar dan dahaga, sehingga mereka memperoleh derajat tinggi takwa, di mana mereka bahkan tidak memikirkan dosa dan inilah puncak cahaya spiritual puasa.

Imam Ali as dalam sebuah ucapannya berkata, "Puasa hati dari memikirkan dosa lebih tinggi kedudukannya dari puasa perut dari makan dan minum." Tentu saja, ini tidak berarti kita meninggalkan aspek lahiriyah puasa yaitu menahan diri dari makan dan minum, kita tidak boleh berhenti di situ dan kita harus berjuang – dengan bantuan Allah Swt – untuk meraih nilai-nilai spiritual puasa.

Tanggal 10 Ramadhan bertepatan dengan hari wafatnya Sayidah Khadijah as, istri tercinta Rasulullah Saw. Ketika Muhammad Saw diangkat Allah Swt sebagai Rasul, Khadijah adalah orang pertama yang beriman dan memeluk agama Islam. Beliau pun menjadi pendukung utama dakwah Rasulullah dan bahkan mengorbankan seluruh hartanya demi kejayaan Islam.

Sayidah Khadijah memiliki sifat yang terpuji, mulia, bijak, dan pintar, bahkan di era Jahiliyah, beliau dijuluki dengan sebutan 'at-Thahirah' yaitu bersih dan suci. Setelah menikah dengan Rasulullah, rumah Khadijah tetap menjadi harapan dan tumpuan orang-orang miskin dan setiap orang miskin yang mengetuk pintu rumahnya, beliau akan memenuhi hajatnya dengan penuh cinta dan kelembutan.

Dalam peristiwa pengepungan di syi'ib Abu Thalib, kekayaan Khadijah digunakan untuk membantu kaum Muslim dan Bani Hasyim. Wanita mulia ini dengan penuh pengorbanan dan perlawanan, melindungi nyawa Rasulullah dan Bani Hasyim, dan semua hartanya digunakan di jalan Allah Swt.

Mengenai Khadijah, Rasulullah bersabda, "Demi Allah, Khadijah adalah anugerah terbesar dari Allah untukku. Dia beriman kepadaku ketika semua orang mengingkariku, dia membenarkanku ketika semua orang mendustakanku, dia menggunakan hartanya untuk membantuku ketika semua orang memboikotku, dan Allah memberiku keturunan darinya dan tidak diberikan oleh istri-istriku yang lain."

Kajian Tafsir

Hari ini kita akan mengkaji tafsir al-Quran ayat 54 surat al-Maidah yaitu; "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt tidak akan kehilangan apapun dengan munculnya kaum yang murtad dari agamanya dan menyimpan penyakit dalam hatinya. Orang-orang yang awalnya Muslim tapi karena kepentingan materi, mereka perlahan-lahan bangkit menentang Allah dan Rasul-Nya serta menjalin persahabatan dengan musuh agama.

Hati mereka perlahan dipenuhi oleh nifaq (perbuatan menyembunyikan kekafiran) dan kedengkian. Di awal ayat tersebut, Allah memperingatkan mereka – dalam sebuah aturan global – bahwa orang-orang yang berpaling dari agamanya, tidak akan membawa kerugian apapun bagi Allah dan kaum Muslim, tapi Dia akan segera menggantikan kaum murtad dengan golongan yang baru. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah dan semata-mata mencari keridhaan-Nya.

Golongan baru ini memiliki sejumlah kriteria khusus. Mereka bersikap rendah hati dan lemah lembut di hadapan orang-orang mukmin. Namun, mereka bersikap keras dan tegas terhadap musuh dan orang-orang kafir. Mereka selalu berjihad di jalan Allah Swt dan dalam menjalankan perintah-Nya dan membela kebenaran, mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela.

Sebagian masyarakat memiliki sifat terpuji dan luhur, tapi mereka takut dan tak berdaya dalam menghadapi serangan opini publik yang menyimpang. Namun, Mukmin sejati – seperti yang disebutkan dalam ayat tadi – selain memiliki kekuatan fisik, mereka juga punya keberanian untuk melawan tradisi-tradisi yang salah dan menentang mayoritas yang menyimpang. Ia juga tidak takut dicela dan dicemooh oleh golongan mayoritas.

Bagian akhir ayat 54 surat al-Maidah menyebutkan bahwa keistimewaan itu – selain kerja keras manusia – membutuhkan karunia dan bantuan dari Allah Swt. Dia akan menganugerahkan karunianya kepada siapa saja yang dikehendaki dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.

Khwaja Abdullah Ansari dalam menafsirkan ayat tersebut menulis, "Ayat ini merupakan sebuah berita gembira untuk orang-orang mukmin. Allah adalah pelindung agama yang lurus dan kaum Muslim dan jika sebuah golongan berpaling dan murtad, Dia akan mendatangkan kelompok lain yang memegang agama dengan hati dan jiwanya, mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah dan Allah juga mencintai mereka."

Tips Sehat Menjalani Puasa

Kesehatan akan terjamin jika pola makan kita didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah dan disusun dengan memperhatikan semua kebutuhan tubuh. Jika prinsip-prinsip itu tidak diperhatikan, maka akan muncul gangguan pada kinerja seluruh sistem tubuh dan membuat manusia kehilangan kekuatan raga dan jiwa. Salah satu dari prinsip tersebut adalah memperhatikan kehalalan makanan dan meninggalkan barang haram.

Sebuah pola makan yang baik dan seimbang akan menghadirkan energi dan banyak dampak positif bagi jiwa manusia. Oleh karena itu, al-Quran menyeru semua orang untuk mengkonsumsi makanan yang baik dan halal, dan mencela golongan yang mengharamkan makanan tertentu untuk dirinya. Dalam surat al-A'raf ayat 32, Allah berfirman, "Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?"

Rezeki yang baik dan halal akan mensucikan dan mencerahkan jiwa manusia. Rasul Saw bersabda, "Barang siapa yang ingin doanya dikabulkan, maka rezeki yang diperolehnya harus halal." Seseorang berkata, "Aku ingin doaku dikabulkan wahai Rasulullah." Beliau lalu bersabda, "Hidupmu harus bersih dan jangan biarkan barang haram masuk ke perutmu."

Al-Quran selain menyerukan manusia untuk memakan makanan halal dan baik, juga memperingatkan mereka terhadap barang-barang haram. Rezeki yang haram adalah rezeki yang diperoleh dengan cara ilegal seperti, menjual barang di atas harga pasar, mengurangi timbangan, mencuri, memakan riba, atau melakukan korupsi.

Secara lahiriyah tidak ada perbedaan antara rezeki halal dan haram. Tapi, rezeki yang haram akan menghalangi jalan manusia menuju kesempurnaan dan membawa dampak negatif bagi jiwa mereka. Mengkonsumsi makanan yang haram akan mengotori jiwa dan raga manusia dan mendorong mereka ke arah dosa.

Seorang dosen dan guru Hauzah Ilmiah di Iran, Hujjatul Islam Mahdavi Niya mengatakan, "Makanan haram akan menyebabkan hilangnya berkah, tidak terkabulnya doa, dan memperkuat motivasi untuk melakukan dosa. Makanan haram akan membuat hati menjadi keras dan ternodai sehingga tidak mau menerima nasihat. Pada Hari Asyura, Imam Husein as berkata kepada pasukan Umar bin Saad, 'Perut kalian telah dipenuhi makanan haram dan hati kalian telah terkunci, kalian tidak lagi mau mendengar dan menerima kebenaran."