Ramadhan, Bulan Tuhan (11)
Tausiyah Ramadhan Hukum dan aturan Tuhan yang dituangkan dalam wadah agama dan syariat, memiliki dimensi rahasia dan batin. Salah satu dari hukum agama adalah menunaikan puasa di bulan Ramadhan. Dalam budaya Islam, bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang paling utama dan paling mulia di sepanjang tahun; sebuah momen yang populer dengan sebutan bulan ibadah dan bulan Allah Swt.
Bulan Ramadhan menurut Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as adalah bulan Islam, bulan kesucian, dan bulan ujian. Menurut beliau, penyebutan bulan Ramadhan dengan bulan Islam atau bulan turunnya al-Quran, karena dalam ajaran Ahlul Bait as, bulan Ramadhan adalah arena untuk mengekspresikan kebenaran Islam yaitu; kepasrahan penuh di hadapan Allah Swt.
Ramadhan merupakan kesempatan untuk mencari keridhaan Tuhan, kaum Muslim bahkan rela menutup mata dari semua kebutuhan alamiah dan halalnya demi keridhaan tersebut dan mereka tunduk menghambakan diri di hadapan Sang Khalik. Latihan satu bulan melawan hawa nafsu merupakan sebuah latihan yang bermanfaat dan positif untuk memperkuat tekad dan mengasah kesabaran di sepanjang tahun.
Manusia yang menjalankan perintah Allah Swt selama satu bulan dalam perkara melawan hawa nafsu dan meninggalkan semua kebutuhan alamiahnya demi mencari keridhaan Tuhan, tentu mereka akan memiliki kekuatan untuk melawan godaan syaitan di bulan-bulan lain dan menjadi seorang yang bertakwa.
Jadi dapat dikatakan bahwa hakikat bulan Ramadhan adalah; membebaskan diri dari sifat hewani dan menjadi pribadi yang bertakwa. Hakikat bulan Ramadhan adalah berakhlak dengan akhlak Tuhan dan mencapai pertemuan dengan-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya puasa itu hanyalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya."
Seorang pakar agama, Hujjatul Islam Mehdi Sharif mengatakan, "Ramadhan adalah satu-satunya bulan Qamariyah yang disebut al-Quran dan merupakan salah satu dari empat bulan yang diharamkan perang (kecuali untuk pertahanan). Di bulan ini, kitab-kitab langit al-Quran, Injil, Taurat, Zabur, dan Suhuf diturunkan. Dalam riwayat Islam, Ramadhan disebut bulan Allah dan bulan jamuan bagi umat Rasulullah Saw. Pada bulan ini, Allah akan menjamu para hambanya dengan penuh kemuliaan dan kasih sayang."
"Ramadhan berarti panas yang menyengat dan pancaran sinar matahari pada batu. Pemilihan kata ini benar-benar sangat teliti, karena ia berbicara tentang peleburan dan perubahan sesuatu akibat terbakar sinar matahari. Pada dasarnya, Ramadhan adalah bulan menanggung beban berat dan dahaga; rasa haus akibat sengatan matahari dan terik panas," kata Hujjatul Islam Sharif dalam penjelasannya.
Kajian Tafsir
Pada segmen ini, kita akan mempelajari tafsir ayat 105 surat al-Maidah yaitu; "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk mawas diri dan menjaga hidayah yang diperolehnya, serta tidak takut terhadap orang-orang yang sesat. Dua kata; petunjuk dan kesesatan berada berlawanan. Hidayah akan mempercepat langkah seseorang untuk mencapai tempat tujuan. Sementara kesesatan akan menempatkan seseorang pada sebuah jalan yang tidak akan pernah sampai di tempat tujuan. Jadi, manusia memiliki dua jalan yang harus dipilih, dan tidak ada pilihan ketiga.
Kedua jalan tersebut akan mengantarkan manusia ke sisi Tuhan. Orang mukmin akan menerima kasih sayang Allah Swt, sementara orang kafir akan menghadapi murka-Nya. Oleh karena itu, orang-orang mukmin diminta untuk menjaga dirinya, tidak terpengaruh oleh orang-orang yang sesat, dan tidak perlu takut terhadap mereka, karena perhitungan orang-orang sesat berada di tangan Allah Swt.
Individu yang menjaga dirinya adalah mereka yang selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah Swt, tidak terpengaruh oleh golongan yang sesat, dan tidak dilalaikan oleh orang lain. Mereka akan menjauhi kebatilan meskipun mayoritas orang memilih jalan batil. Orang mukmin selalu berpegang teguh pada kebenaran meskipun semua orang meninggalkannya.
Oleh sebab itu, mukmin sejati – meskipun melihat mayoritas orang mengejar syahwat dan terbuai kenikmatan duniawi – akan selalu bangga dengan hidayah yang diperolehnya dan tidak meninggalkan amar makruf dan nahi munkar. Mukmin sejati akan berjuang untuk berdakwah sesuai dengan koridor yang tetapkan oleh Allah Swt dan syariat. Sebab dalam membimbing dan menyeru masyarakat, orang mukmin tidak mengizinkan dirinya untuk keluar dari rambu-rambu agama.
Khwaja Abdullah Ansari dalam menafsirkan ayat tersebut menulis, "Wahai kaum mukmin, kalahkan dan tundukkanlah hawa nafsumu sebelum ia mengalahkanmu, tariklah ia untuk taat kepadamu sebelum ia menyibukkanmu dalam maksiat. Lalu salah seorang pemuka agama ditanya tentang makna ayat tersebut, ia menjawab, 'Jika engkau telah memperbaiki kerusakan-kerusakan dirimu, ia juga akan mencegahmu untuk melakukan dosa dan merampas hak orang lain."
Tips Sehat Menjalani Puasa
Tips sehat berpuasa hari ini akan kita awali dengan sebuah riwayat dari Imam Ali Ridha as. Beliau dalam sebuah riwayat berkata, "Allah Swt tidak menghalalkan makanan dan minuman apapun kecuali ada manfaat dan maslahat di dalamnya, dan tidak mengharamkan makanan dan minuman apapun kecuali ada mudharat dan kehancuran di dalamnya. Jadi, apa saja yang bermanfaat dan memberi energi kepada tubuh, telah dihalalkan dan apa saja yang merusak kekuatan fisik atau menyebabkan kematian, telah diharamkan." (Mustadrak al-Wasaʾil, jilid 16, hal 233)
Islam sangat memperhatikan unsur kehalalan makanan. Kriteria-kriteria makanan halal antara lain; makanan itu diperoleh secara sah dan tidak ada hak orang lain yang dirampas dalam memperolehnya, makanan harus suci dan berasal dari sesuatu yang suci, tidak membahayakan orang yang memakannya, tidak bercampur dengan barang-barang haram lain. Dengan menjaga semua kriteria ini, makanan halal akan mendorong manusia ke arah kebaikan dan perbuatan baik.
Luqman Hakim dalam sebuah nasihat kepada putranya berkata, "Aku telah bertemu dengan 400 nabi di sepanjang hidup dan perjalananku. Aku menyimak nasihat dan petuah dari mereka dan aku memilih empat nasihat di antara semua nasihat mereka. Salah satu dari itu adalah; 'Setiap kali duduk di samping sebuah hidangan, maka jagalah mulutmu dari makanan haram.'" (al-Mawaid al-Adidiyah, hal 142)
Makanan haram juga memiliki beberapa petunjuk. Allah Swt mengharamkan kita memakan sebagian hewan dan sebagian tumbuhan. Bangkai hewan, ikan tanpa sisik, dan burung yang memiliki cengkeram, tidak boleh dimakan. Bagian tertentu dari hewan sembelihan juga dilarang untuk dimakan seperti, darah, kemaluan hewan, kotoran, dan lain-lain. Di antara tumbuh-tumbuhan, semua buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian adalah halal untuk dikonsumsi kecuali yang membawa mudharat dan beracun.
Al-Quran lewat berbagai ungkapan melarang manusia untuk memakan dan meminum sesuatu yang haram. Dalam surat al-Baqarah ayat 188, Allah Swt berfirman, "Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui."