Jun 07, 2017 09:13 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Berkah, rahmat, dan ampunan Allah Swt di bulan Ramadhan akan menyirami jiwa yang gersang dengan kesejukan iman dan harapan. Untuk itu, marilah kita mempertebal ilmu kita tentang hakikat Ramadhan dan mengisi kesempatan ini dengan berbagai kegiatan ibadah.

Pada 12 Ramadhan tahun pertama setelah Hijriyah, Rasulullah Saw membangun ikatan persaudaraan antara golongan Muhajirin Makkah dan kaum Anshar Madinah. Kedua komunitas ini memiliki ras, latar belakang, dan hidup di lingkungan yang berbeda dan muncul kekhawatiran bahwa perbedaan tradisi dan budaya berpotensi menyulut konflik di tengah mereka. Oleh karena itu, Rasul Saw memutuskan untuk mempersatukan mereka atas dasar ikatan agama dan akidah.

Semua Muhajirin dari Makkah dipersatukan dengan saudara mereka dari Anshar di Madinah kecuali Ali bin Abi Thalib as. Ia dipersaudarakan dengan Rasulullah Saw sendiri. Rasul Saw membangun ikatan persaudaraan di antara kaum Muslim, karena untuk membentuk pemerintah dan masyarakat Madani, dibutuhkan ikatan persaudaraan antara individu masyarakat dengan latar belakang yang berbeda.

Kaum Muslim pertama-tama harus bersatu dan berkomitmen terhadap sesama sehingga mereka dapat bekerjasama dan membantu Rasulullah Saw untuk mencapai tujuan-tujuannya. Piagam persaudaraan telah mendorong kaum Anshar dan Muhajirin untuk berbagi beban dan mengurangi kesulitan mereka. Kaum Anshar merasa memiliki tanggung jawab di hadapan saudaranya dari Muhajirin dan berbagi beban dalam masalah ekonomi.

Pada masa Jahiliyah, masyarakat membangun persaudaraan atas dasar kabilah atau kepentingan untuk menghadapi ancaman dari kelompok lain. Model hubungan ini berubah total setelah Rasulullah Saw meletakkan dasar-dasar persaudaraan Islami dan menggantinya dengan hubungan atas dasar iman.

Bulan suci Ramadhan menjadi momentum kebersamaan dan persatuan kaum Muslim di seluruh dunia. Kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia menyambut bulan ini dengan penuh suka cita dan penghormatan khusus. Puasa Ramadhan – sama seperti manasik haji – adalah sebuah ibadah yang disepakati oleh semua mazhab Islam dan dijalankan secara serentak. Untuk itu, Ramadhan harus menjadi momentum untuk memperkokoh persaudaraan dan menyatukan setiap individu Muslim di bawah naungan umat yang satu.

Kajian Tafsir

Hari ini, kita akan membahas tentang takwa sebagai tema kajian tafsir kita. Dalam surat al-A'raf ayat 201, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."

Ayat ini berbicara tentang cara orang-orang yang bertakwa menghadapi godaan syaitan. Mereka menjauhkan godaan syaitan dari dirinya dengan cara mengingat Allah Swt. Takwa menurut istilah al-Quran adalah antonim dari kata kelalaian. Takwa berarti selalu menjaga diri dari seluruh tindak tanduk sehingga ia benar-benar sesuai dengan perintah Allah Swt.

Pada dasarnya, hidup adalah pergerakan di sebuah jalur yang licin di mana kedua sisinya terbentang jurang yang terjal. Kelalaian sedikit saja akan membuat manusia terjatuh, kecuali ia punya pengangan yang kuat untuk menyelamatkan hidupnya. Maksud dari kata "sekelompok dari syaitan"طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ adalah golongan syaitan yang bersiaga di sekitar hati manusia dan menunggu kesempatan untuk menggoda mereka.

Para pelaku dosa dan maksiat tidak menyadari keluar-masuknya syaitan ke hati mereka dan bisikan makhluk tersebut. Sementara orang yang bertakwa benar-benar menyadari kehadiran dan godaan syaitan. Ketika melakukan dosa kecil sekalipun, ia akan segera tersadar dan langsung ingin menghapusnya. Ketika syaitan datang mendekatinya, ia langsung mengingat Allah dan berlindung kepada-Nya dari godaan syaitan.

Allah Swt akan menjaga orang yang bertakwa dari kejahatan syaitan dan mengangkat tirai kelalaian dari hatinya sehingga ia bisa melihat jalan kebenaran. Oleh sebab itu, orang yang bertakwa sama seperti badan yang sehat, ia kebal terhadap serangan bakteri dan tubuhnya segera melakukan perlawanan jika ada benda asing yang masuk. Jadi, godaan syaitan tidak bisa menembus hati orang yang bertakwa, kalau pun berhasil ditembus, ia akan segera tersadar dan menangkal godaan itu.

Khwaja Abdullah Ansari dalam menafsirkan ayat tersebut menulis, "Orang yang memperoleh taufik dari Allah Swt akan kebal dari godaan syaitan."

Tips Sehat Menjalani Puasa

Agama Islam telah menetapkan serangkaian adab dan tata cara makan dan minum. Jika prinsip-prinsip ini diperhatikan, tubuh kita akan merasakan nikmat sehat. Tentu kita pernah melakukan wisata kuliner ke barbagai daerah dan menyaksikan bermacam tingkah manusia saat menyantap makanan. Kadang tingkah mereka membuat kita tidak nyaman dan terganggu. Untuk tujuan itu, Islam memaparkan sejumlah adab yang perlu dijaga ketika makan.

Setiap hari, tangan kita bersentuhan dengan berbagai perangkat yang kotor dan penuh kuman, dan banyak penyakit muncul karena kontak tersebut. Imam Ali as selalu menyarankan untuk mencuci tangan sebelum makan dan berkata, "Mencuci tangan sebelum makan akan memperbanyak rezeki dan memperkuat penglihatan mata."

Poin lain, menyantap makanan harus dimulai dengan menyebut nama Allah Swt, karena Dia telah menyediakan berbagai makanan yang sehat untuk memenuhi kebutuhan manusia dan menyeru kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Imam Ali as berkata, "Sebutlah nama Allah ketika makan dan hindari perkataan yang sia-sia, karena makanan adalah nikmat dan rezeki dari Allah, dan menjadi kewajiban kita untuk menyebut-Nya dan bersyukur."

Kemudian memulai makan dengan makanan yang paling ringan. Dalam riwayat juga disebutkan bahwa memulai makan dengan mencicipi garam dulu akan terhindar dari banyak penyakit, tentu saja perlu perhatian khusus untuk mereka yang menderita penyakit tertentu seperti, darah tinggi. Ilmu kedokteran mencatat bahwa menyantap makanan yang masih panas memiliki efek bahaya bagi kesehatan. Pakar sistem percernaan dan hati dari Iran, Amin Hossein Faghihi mengatakan, "Makanan panas membakar sistem pencernaan. Lebih dari itu, minuman panas lebih berbahaya. Ketika minuman panas dikonsumsi akan merusak tenggorokan dan lambung."

Imam Ali as berkata, "Suatu hari makanan panas dihidangkan di hadapan Rasulullah. Ketika itu beliau bersabda, 'Tunggu makanan ini dingin hingga bisa dimakan.'" Rasulullah Saw juga melarang sahabatanya untuk meniup makanan supaya dingin, tapi membiarkannya dingin secara alami.

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk makan dengan tangan kanan, mengambil suapan yang kecil, dan mengunyah dengan sempurna. Para pakar kesehatan menyarankan agar makanan dikunyah dengan baik dan perlahan-lahan sehingga mudah untuk dicerna dan mencegah obesitas. Imam Ali as berkata, "Setiap kali mengkonsumsi makanan, mulailah dengan menyebut nama Allah, kunyahlah dengan baik, dan berhentilah sebelum kenyang."

Islam juga memiliki tata cara dan adab untuk mengakhiri acara makan. Dari segi spiritual, kita harus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt dan berdoa untuk memperoleh berkah. Dari segi sosial, kita tidak boleh melupakan orang-orang yang kelaparan dan kita punya kewajiban untuk membantu mereka. Dan dari segi medis, kita harus mencuci tangan dan membersihkan mulut, dan tidak langsung tidur setelah makan.