Jun 08, 2017 05:06 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Manusia secara alamiah dan naluri menginginkan kelezatan dan ada kepuasan setiap kali mencicipi sesuatu yang lezat.

Kelezatan tentu saja tidak selalu bersifat materi dan duniawi, tapi ada bentuk kelezatan lain yang lebih tinggi nilainya dan lebih nikmat dari kelezatan material yaitu kelezatan spiritual. Contoh dari kelezatan spiritual adalah berinfaq dan berbuat baik kepada orang lain, mencari ilmu, melakukan ritual ibadah, berpuasa di bulan Ramadhan, dan meninggalkan dosa demi keridhaan Allah Swt.

Jika manusia sudah mencicipi kelezatan spiritual, maka kelezatan material tidak ada artinya bagi mereka. Dalam hal ini, Ayatullah Morteza Mutahhari menulis, "Manusia memiliki dua jenis kelezatan; pertama, kelezatan yang berhubungan dengan salah satu panca indera dan diperoleh karena kontak antara satu indera dengan objek luar seperti, kelezatan mata dengan cara melihat, telinga dengan cara mendengar, lidah dengan cara mencicipi, dan indera peraba setelah bersentuhan dengan objek lain."

"Kedua, kelezatan yang berhubungan dengan kedalaman jiwa dan hati nurani manusia, dan tidak ada hubungannya dengan anggota badan tertentu. Seperti kelezatan yang dirasakan manusia lewat pengabdian dan memecahkan masalah orang lain, kelezatan karena dicintai khalayak atau karena kesuksesan yang diraih oleh dirinya atau anaknya. Kelezatan spiritual lebih kuat dan lebih awet dari kelezatan material. Kelezatan ibadah dan menyembah Allah Swt bagi seorang arif termasuk bentuk kelezatan spiritual. Orang arif – yang melakukan ibadah dengan khusyu' – meraih kelezatan yang paling tinggi dari ibadah dan hubungan dengan Tuhan," kata Ayatullah Mutahhari dalam penjelasannya.

Salah satu dampak ibadah adalah merasakan indahnya kelezatan spiritual, yang membawa ketenangan, memberikan kepuasan batin, dan menghadirkan gairah dalam diri manusia. Ahlul Bait as dalam munajatnya selalu memohon kepada Allah Swt agar dapat merasakan kelezatan seperi itu, seperti ucapan Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad dalam doanya, "Ya Allah, anugerahkanlah kami kelezatan bermanajat kepadamu dan jadikanlah kami mampu mencicipi manisnya kasih sayang dan kedekatan dengan-Mu."

Kajian Tafsir

Hari ini, kita akan mengkaji tafsir surat Hud ayat 3 yaitu; "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat."

Dosa merupakan sebuah pukulan terhadap kesucian jiwa dan spiritual manusia, dan kesucian itu akan hilang tertutupi noda. Pada dasarnya, dosa akan melunturkan dimensi spiritual manusia sebagai pembeda antara dirinya dengan semua makhluk lain dan menjatuhkan derajat mereka. Dosa akan menjadi hijab antara manusia dan rahmat Allah Swt. Namun, Allah membuka pintu istighfar dan taubat untuk menolong manusia sehingga dapat mengangkat hijab tersebut dan membuka pintu rahmat Ilahi.

Dengan memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat serta mengerjakan kebajikan, maka pintu rahmat akan terbuka untuk manusia. Mereka kemudian akan diberi kenikmatan yang baik sepanjang kehidupan mereka di dunia ini. Allah juga akan membimbing mereka ke arah kenikmatan-kenikmatan lain seperti, keamanan, kesejahteraan, dan kemuliaan.

Di tengah komunitas seperti ini, masyarakat tidak lupa mengingat Allah dan mereka larut dalam kenikmatan di bawah lentera iman. Mereka kemudian berbagai kenikmatan itu kepada sesama sehingga ketimpangan sosial dan kemiskinan dapat dihapus. Allah – sesuai dengan sunnah dan ketetapan-Nya –akan menambah nikmat tersebut kepada orang-orang yang bersyukur.

Di masyarakat non-agamis, meskipun mereka maju dan berperadaban, masyarakat terbagi dalam dua golongan yaitu kuat (penindas) dan lemah (tertindas). Oleh karena itu, pada bagian akhir ayat tersebut dijelaskan bahwa jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku (Rasulullah Saw) takut bahwa kalian akan ditimpa siksa pada hari kiamat kelak. Sebuah siksaan yang mengerikan di mana tidak ada yang bisa memberikan pertolongan kecuali Allah Swt sendiri.

Khwaja Abdullah Ansari dalam menafsirkan ayat tersebut menulis, "Pertama beristifghar-lah sehingga kalian bersih dari dosa, kemudian bertaubat-lah sehingga kalian jadi orang yang benar. Pertama, bangkitlah dan laksanakanlah semua perintah syariat sehingga kalian memperoleh kenikmatan dunia, kemudian bangkitlah atas perintah Allah sehingga kalian memperoleh keutamaan dari-Nya."

Tips Sehat Menjalani Puasa

Sebagian orang kadang menyiapkan berbagai hidangan untuk sahur dan berbuka sehingga masuk kategori israf (berlebih-lebihan). Israf dalam bahasa agama sangat tercela dan membuat seseorang kehilangan nikmat. Al-Quran telah menjelaskan berbagai kenikmatan dan karunia yang diberikan Allah kepada manusia dan dalam sebuah pesan global, Allah Swt berfirman, "Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Surat al-A'raf ayat 31)

Dalam mendefinisikan kata israf, Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Barang siapa yang memiliki rezeki untuk kebutuhan satu harinya, tapi ia tidak puas dan masih meminta-minta kepada orang lain, maka ia termasuk orang yang berlebih-lebihan."

Israf dan makan berlebihan merupakan sumber dari banyak penyakit fisik dan mental, membuat hati mengeras, dan menghalangi seseorang untuk merasakan nikmatnya ibadah. Rasulullah Saw bersabda, "Sumber dari segala penyakit adalah perut dan meninggalkan kebiasaan banyak makan adalah awal untuk setiap pengobatan." Seorang dokter Kristen setelah mendengar hadis tersebut berkata, "Seluruh ilmu kedokteran tersembunyi dalam sabda nabi kalian."

Sebenarnya, kebiasaan banyak makan dipicu oleh berbagai faktor; sebagian orang memperbanyak makan saat dilanda stres atau emosi, dan mereka ingin menenangkan dirinya dengan cara itu. Sebagian lain bermewah-mewahan dalam makan dan minum serta mengabaikan orang lain karena mereka kaya. Namun, banyak makan kadang sudah menjadi kebiasaan sebagian orang dan mereka tidak mampu mengendalikan dirinya. Mereka biasanya akan menderita obesitas dan berbagai penyakit lain.

Salah satu contoh israf selama bulan Ramadhan adalah berlomba-lomba dalam kemewahan dan makan berlebihan. Sebagian orang justru melupakan filosofi puasa dan menyiapkan berbagai jenis hidangan sehingga nilai spiritual puasa ternodai.

Seorang dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Tehran, Saaed Hosseini mengatakan, "Jika Anda penggemar cake, mungkin saja gula darah Anda menjadi tidak stabil. Dengan makan makanan manis seperti cake, manisan dan coklat, kondisi Anda akan menjadi lebih buruk, karena gula darah akan menambah nafsu makan. Naik-turunnya kadar gula darah akan memacu produksi insulin, di mana meningkatkan potensi seseorang menderita diabetes tipe kedua."

Menurut Dokter Hosseini, mengkonsumsi terlalu banyak berbagai jenis makanan, lemak, dan gula akan meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti, tekanan darah, diabetes, kardiovaskular, arthritis, dan bahkan risiko kanker. Bulan Ramadhan adalah sebuah latihan untuk mengurangi makan dan menghilangkan kebiasaan banyak makan. Dengan menjaga pola konsumsi dan memenuhi kebutuhan gizi secara proporsional selama bulan puasa, kita dapat terbebas dari bahaya banyak makan.

Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan pola konsumsi yang tepat sehingga puasa – sebagai periode menginstirahatkan pencernaan dan membuang racun tubuh – berdampak efektif bagi kesehatan kita.