Ramadhan, Bulan Tuhan (14)
Tausiyah Ramadhan Tak terasa kita hampir memasuki pertengahan Ramadhan dan kita saat ini sedang menjalani hari ke-14 puasa. Kita memohon kepada Allah Swt agar selalu melimpahkan rahmat, berkah, dan ampunan-Nya kepada kita semua.
Makrifat agama dan hukum-hukum Islam seperti, tata cara shalat dan puasa yang sampai kepada kita, merupakan warisan dan hasil kerja keras para ulama dan intelektual Muslim. Mereka menanggung banyak penderitaan dalam mencari ilmu pengetahuan dan menyebarkan pemikiran Islam. Para ulama kadang harus berhijrah dan meninggalkan kampung halamannya demi penyebaran agama.
Mereka bahkan rela kehilangan kebutuhan yang paling dasar demi mencari ilmu pengetahuan, dan memperoleh perhatian khusus dari Allah Swt karena ketulusan niat. Di sini, seorang ulama besar, almarhum Sayid Asadullah Isfahani menukil sebuah kisah tentang perjuangan Mirza Husein Noori Tabarsi atau yang lebih dikenal Muhaddis Noori.
Sayid Isfahani berkata, "Suatu hari aku pergi ke Karbala bersama Muhaddis Noori. Di tengah jalan, ia bercerita tentang dua buah kitab yang sangat disukainya dan sampai sekarang belum menemukannya di toko buku. Ia berniat untuk meminta kedua buku tersebut dari Imam Husein as dan berkali-kali mengulangi kalimat itu sampai kami tiba di Karbala."
"Setelah kami memasuki makam Imam Husein as dan berziarah, kami pun keluar dari komplek makam dan menyaksikan seorang perempuan yang sedang menenteng dua buah kitab. Muhaddis Noori menghampirinya dan bertanya, 'Kitab apakah ini? Perempuan tadi menjawab, 'Kitab-kitab ini ingin aku jual.' Muhaddis Noori kemudian melihat-lihat kitab tersebut dan ternyata itu adalah buku yang selama ini ia impikan."
Muhaddis Noori kembali bertanya, "Berapa harga kitab-kitab ini?" Perempuan tersebut menjawab, "22 Qiran (mata uang Iran di era Dinasti Qajar)." Ia lalu menoleh ke arah Sayid Isfahani dan berkata, "Tolong berikan semua uang yang engkau miliki." Kami mengumpulkan uang yang kami miliki dan total hanya 6 Qiran. Kami bahkan rela menahan lapar untuk bisa membeli kitab langka itu." Muhaddis Noori kembali berujar, "Lalu dari mana kita akan mendapatkan sisa uang untuk buku ini?"
Sayid Isfahani kemudian berkata kepada perempuan tersebut, "Mari ikuti kami ke pasar." Muhaddis Noori lalu menjual jubahnya, sorban dan kain rida. Tapi tetap saja kurang untuk mebayar buku itu. Ia kemudian menjual sepatunya dan terkumpul semuanya 22 Qiran, dan diserahkan kepada penjual kitab tersebut. Muhaddis Noori sekarang tidak memiliki apa-apa kecuali peci dan baju gamis.
Aku berkata, "Apa yang engkau lakukan wahai Muhaddis?" "Tidak masalah, kita ini para darwis," candanya. Kami kembali ke komplek makam Imam Husein as dengan kondisi seperti itu dan teman-teman yang menyaksikan kami, kemudian membawakan pakaian lain untuk Muhaddis Noori.
Almarhum Muhaddis Noori adalah salah seorang ulama besar Syiah dan memiliki kedudukan yang tinggi. Namun, ia rela menjual apa yang dimilikinya demi memperoleh dua kitab berharga dan demi ilmu pengetahuan.
Kajian Tafsir
Kajian tafsir untuk pertemuan hari ini adalah surat Hud ayat 122. Allah Swt berfirman, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Pada ayat tersebut, Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk tetap istiqamah di jalan yang benar dan terus berjuang membimbing masyarakat. Istiqamah dalam membimbing masyarakat dan kontinyuitas dalam melaksanakan sebuah amal. Istiqamah di sini bukan untuk mencari pujian atau riya', tapi semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah Swt.
Perlu dicatat bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Rasulullah Saw, tapi beliau juga harus mengajak orang-orang yang baru beriman untuk konsisten dan istiqamah. Dari satu sisi, kaum Muslim menghadapi serangan dan hinaan dari musuh, dan dari sisi lain, mereka harus melawan godaan hawa nafsunya. Tentu sebuah tugas yang sangat berat untuk menjaga kaum Muslim agar tetap berada di jalan yang benar dan terjaga dari dua serangan tersebut yaitu; tekanan musuh dan godaan internal. Perlu diketahui bahwa ayat istiqamah ini telah membuat Rasulullah beruban.
Setelah turun ayat tersebut, Rasul Saw harus bekerja keras karena empat perintah penting yakni; istiqamah, ikhlas, membimbing kaum Muslim, dan tidak melampaui batas. Semua perintah ini menuntut kerja keras Rasul Saw dan sangat menguras tenaga. Tanpa menjaga prinsip-prinsip itu, mustahil kaum Muslim akan mencapai kemenangan atas musuh yang memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer.
Khwaja Abdullah Ansari dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, "Di seluruh alam dan di antara semua anak Adam, tidak ada pribadi yang lebih layak untuk menerima perintah tersebut kecuali Muhammad al-Mustafa, yang memiliki sifat dermawan dan utusan Allah Swt. Ia adalah sosok manusia suci dan menerima firman Tuhan ketika berkhalwat."
Tips Sehat Menjalani Puasa
Tidak ada yang menyangkal manfaat puasa bagi kesehatan. Kaum Muslim merasa kondisinya lebih baik setelah beberapa hari menjalani puasa dan badan mereka jadi lebih ringan. Dampak ini akan dirasakan jika kita mampu mengontrol diri dan menjaga pola makan yang seimbang. Kita harus membiasakan diri untuk makan secara proporsional sehingga tetap sehat dan bugar.
Setelah mengkaji sejumlah riwayat dari Nabi Saw dan Ahlul Bait as, dapat disimpulkan bahwa jika manusia melaksanakan tips kesehatan versi al-Quran dan Ahlul Bait, maka risiko terkena berbagai penyakit fisik dan mental akan berkurang signifikan. Menjaga pola makan yang seimbang selain baik bagi kesehatan jasmani, juga baik untuk kesehatan rohani dan mental. Oleh karena itu, salah satu kata bijak berbunyi, “Hidup bukan untuk makan, tapi makan untuk hidup."
Makan secukupnya dan pola makan yang tepat memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan fisik dan mental manusia. Rasulullah Saw menganggap makan dengan porsi sedikit sebagai raja segala obat. Imam Ali as berkata, "Makan sedikit akan membuat jiwa lebih mulia dan fisik lebih stabil."
Ilmu medis mencatat bahwa makan dengan porsi sedikit akan membuat tubuh sehat, wajah cerah, dan usia menjadi panjang. Dalam hal ini, Imam Ali Ridha as berkata, "Tubuh sama seperti tanah yang bersih dan siap ditanami, jadi perlu kehati-hatian dalam mengalirinya, jika kelebihan air ia akan tenggelam dan jika sedikit, ia akan kekeringan. Jika airnya sesuai takaran, kesuburan tanah itu akan bertahan lama dan mendatangkan berkah. Tubuh manusia juga seperti itu dan ia perlu dijaga dalam urusan makan dan minum sehingga selalu sehat."
Imam Ali Ridha as melanjutkan, "Lihatlah apa saja yang cocok dengan perutmu, apa saja yang memberimu energi, dan makanan dan minuman apa saja yang lebih sehat untuk tubuhmu, maka pilihlah ia untuk dirimu." (Bihar al-Anwar, juz 62, hal 310)