Jun 10, 2017 09:38 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Kesempatan berharga kehidupan biasanya akan sangat cepat berlalu. Demikian juga dengan Ramadhan, tak terasa bulan mulia ini sudah memasuki hari pertengahan. Kami berharap semoga Allah Swt senantiasa membuka pintu rahmat dan ampunannya kepada kita semua. Tanggal 15 Ramadhan bertepatan dengan hari lahirnya cucu baginda Rasulullah Saw, Imam Hasan al-Mujbata as.

Imam Hasan as tumbuh di lingkungan yang penuh dengan nuansa spiritual dan kasih sayang, di bawah bimbingan sang ayah, Ali bin Abi Thalib as dan ibunda, Sayidah Fatimah as. Rasul Saw juga selalu membekali Imam Hasan dengan ajaran agama dan karakter ilahi beliau sudah terbentuk sejak usia dini. Sejak kecil, Imam Hasan memiliki tutur kata yang indah dan menghafal banyak syair.

Umaid bin Ishak berkata, "Hasan adalah satu-satunya orang yang ketika berbicara, aku selalu berharap agar ia melanjutkan ucapannya. Aku tidak merasakan hal seperti ini tentang siapa pun dan aku sama sekali tidak mendengar kata kasar darinya."

Imam Hasan memiliki suara yang sangat merdu dalam melantunkan al-Quran. Beliau dibesarkan di sebuah rumah yang selalu menggema lantunan kalam Ilahi di dalamnya; sebuah rumah di mana ayahnya adalah orang pertama yang mengumpulkan al-Quran dan mereka (Ahlul Bait as) adalah orang-orang yang terdepan dalam mengamalkan kitab suci ini.

Imam Hasan duduk mendengarkan munajat penuh khusyu' ibunya, Sayidah Fatimah as di pertengahan malam, dan dari ayahnya, ia belajar pelajaran berharga tentang keberanian, kepahlawanan, dan kegigihan membela kebenaran. Semua pendidikan ini membuat Imam Hasan siap menghadapi masa-masa sulit setelah kepergian sang ayah dan selama masa imamah. Era setelah perdamaian dengan Muawiyah merupakan fase yang paling sulit dalam kehidupan Imam Hasan as. Beliau melewati masa-masa sulit itu dengan penuh kesabaran.

Sifat lain Imam Hasan as adalah sangat dermawan dan suka membantu orang lain. Beliau selalu membantu orang-orang yang membutuhkan dan membuat mereka benar-benar tercukupi. Imam Hasan kadang makan bersama orang-orang miskin dan dengan penuh kerendahan hati duduk bersama mereka. Beliau selalu mendahulukan orang lain dan berinteraksi dengan masyarakat dengan penuh hormat dan tawadhu.

Mengenai bulan Ramadhan, Imam Hasan as berkata, "Allah menjadikan bulan Ramadhan bagi hamba-Nya sebagai arena kompetisi. Sebagian berlomba dengan yang lain dalam urusan ibadah dan ketaatan demi meraih kebahagiaan dan keridhaan Allah. Golongan lain akan menderita kerugian karena ketidakpedulian dan sikap acuh mereka."

Dalam hadis ini, Imam Hasan menyamakan bulan puasa sebagai arena kompetisi sehingga kita memahami pentingnya memanfaatkan momentum Ramadhan dengan optimal, dan berjuang untuk memperoleh berkah, rahmat, dan ampunan Allah Swt di bulan ini.

Kajian Tafsir

Hari ini kita akan membahas tafsir surat Yusuf ayat 108. Allah Swt berfirman, "Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'"

Pada ayat 107 surat Yusuf, Allah mengancam orang-orang musyrik dengan kedatangan siksa dari langit. Namun pada ayat berikutnya Dia langsung memperkenalkan jalan yang lurus kepada kaum musyrik sehingga mereka sadar dan meninggalkan perbuatan syirik serta memilih jalan yang lurus.

Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk memperkenalkan Islam kepada kaum musyrik dengan berkata; 'Ini adalah jalanku dan kami mengajak kalian untuk mengikutiku menuju kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata).' Jalan kebenaran hanya satu dan para nabi di setiap zaman selalu menyeru masyarakat ke jalan yang lurus.

Setelah pengutusan Nabi Muhammad Saw, jalan kebenaran hanya milik para pengikut agama Islam dan seluruh syariat agama lain telah dihapus. Siapa saja setelah mengenal Islam dan setelah sempurnanya hujjah, tetap mengikuti agama lain seperti Nasrani dan Yahudi, maka tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Seruan kepada kebenaran (jalan Allah) dilakukan dengan memberi pencerahan dan menyempurnakan hujjah, dan bukan atas dasar fanatisme atau dorongan materi. Ayat tersebut juga menegaskan bahwa Rasulullah Saw bertugas untuk menyeru masyarakat kepada Islam, demikian juga dengan kaum Muslim. Mereka juga memikul tanggung jawab untuk mengajak orang lain kepada Islam. Dengan kata lain, seorang Muslim harus menjadi penunjuk jalan untuk orang lain.

Dalam pandangan al-Quran, tidak adanya pengajaran yang benar dan pendidikan Ilahi telah menjadi kendala utama bagi perkembangan spiritual manusia. Dan satu-satunya jalan keselamatan dan kebahagiaan mereka adalah memperoleh pengajaran dan pendidikan dari Rasulullah Saw dan para pemuka agama. Di awal permulaan Islam, seruan atas dasar bashirah ini dilakukan oleh Rasulullah dan kemudian dilanjutkan oleh Ahlul Bait dan para ulama.

Khwaja Abdullah Ansari dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, "Bashirah (hujjah yang nyata) akan menyelamatkan manusia dari kegelisahan dan membimbing mereka ke jalan yang benar. Bashirah ini akan mengurangi kelalaian para hamba dan mengarahkan mereka menuju ke jalan Allah."

Tips Sehat Menjalani Puasa

Bulan puasa merupakan momentum untuk mempererat hubungan sosial dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Buka puasa bersama dan undangan berbuka telah menjadi sebuah tradisi mulia di tengah masyarakat Muslim sepanjang bulan Ramadhan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda, "Berilah sedekah ketika berbuka puasa dan berilah makanan kepada orang lain meskipun sebutir kurma atau seteguk air."

Memberi makanan berbuka kepada orang lain merupakan sebuah sunnah yang sama pahalanya dengan membebaskan seorang budak dan menyebabkan terampuninya dosa-dosa. Makan sendiri dianggap sebagai perbuatan tercela dan Islam menganjurkan kita untuk mengajak orang lain ikut makan bersama. Rasul Saw menilai tradisi memuliakan tamu di sebuah masyarakat sebagai penjamin kebahagiaan dan keselamatan mereka.

Rasul bersabda, "Umatku selalu berada dalam kebahagiaan dan kesenangan selama mereka hidup rukun, menunaikan amanah, menjauhi perkara haram, memuliakan tamu, mengerjakan shalat, dan menunaikan zakat…" Dalam ajaran Islam, makan bersama keluarga, pembantu, dan anak yatim dianggap sebagai perbuatan terpuji dan sangat dianjurkan.

Di sini, ada beberapa adab yang harus diperhatikan ketika menjamu orang lain. Pertama, tamu harus dihormati dan dimuliakan. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah menyediakan menu yang sama dengan makanan milik tuan rumah. Kedua, tidak menatap wajah tamu atau orang lain yang sedang makan bersama. Ketiga, mendahulukan orang tua saat menghidangkan makanan. Keempat, makanan tidak dibawa kembali ke dapur sebelum semua tamu selesai. Dan kelima, makan bersama tamu dan tidak berhenti dulu sebelum para tamu selesai makan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasul Saw terus menyibukkan diri dengan makan sampai para tamu selesai makan. Hal ini dilakukan sehingga para tamu tidak merasa malu makan sendiri. Jelas bahwa jika tuan rumah berhenti lebih cepat, maka tamu akan canggung dan malu untuk melanjutkan aktivitasnya menyantap hidangan.

Dan yang terpenting, tuan rumah tidak memaksakan diri dalam menyiapkan hidangan dan cukup hanya dengan makanan yang tersedia di rumah untuk menjamu tamunya.