Jun 11, 2017 05:24 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Program khusus Ramadhan hari ini akan kita awali dengan mengutip sebuah kisah tentang optimisme. Bulan Ramadhan adalah momentum untuk menumbuhkan harapan yang lebih besar akan rahmat Allah Swt dan alangkah indahnya jika kondisi ini terus menemani hari-hari kita di sepanjang tahun. Al-Quran dalam berbagai ayatnya mendorong manusia untuk tetap optimis akan rahmat dan karunia Tuhan.

Dalam surat Yusuf ayat 87, Allah Swt berfirman, "… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."

Faktanya, sebagian orang berputus asa karena kehilangan kenikmatan atau terjebak dalam masalah dan musibah. Mereka kadang menjadi tidak bersyukur dan ingkar karena lemahnya iman dan tidak punya hubungan yang kuat dengan Allah. Padahal, manusia jika yakin akan kekuasaan mutlak Tuhan, tidak akan pernah berputus asa dari kasih sayang dan rahmat-Nya. Yakinlah, Allah Swt – yang telah menyelamatkan Nabi Yunus as dari dasar lautan dan perut ikan – mampu mengabulkan doa hamba-Nya.

Alkisah, seseorang yang bernama, Labib al-Abid berkata, "Pada suatu hari, tanganku dipatuk ular beracun. Akibat patukan itu, tanganku lumpuh dan kondisiku bertambah parah sehingga seluruh badanku lumpuh dan mataku buta. Aku juga menjadi bisu, tapi aku masih bisa mendengar. Dalam kondisi seperti itu, kadang aku kehausan, tapi tidak ada yang memberikan air dan tidak ada yang mau mengerti kondisiku. Kehidupanku lebih buruk dari kematian."

Labib melanjutkan, "Suatu hari, seorang wanita datang mengunjungi istriku dan bertanya tentang kondisiku. Istriku menjawab, 'Saya pun tidak tahu. Dia tidak hidup, tidak juga mati. Tidak ada apa-apa yang dapat diharapkan darinya.' Mendengar kata-kata itu, hatiku merasa sedih, tapi aku tidak berputus asa."

"Dengan penuh kerendahan dan kekhusyukan, aku berdoa kepada Allah Swt memohon kesembuhan dan keselamatan. Tiba-tiba, sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa dan aku pun tertidur. Ketika terbangun, aku merasakan tanganku bisa digerakkan, aku mulai menggerakannya dengan ragu-ragu. Kemudian aku mencoba menggerakkan kakiku, ia juga bisa digerakkan dan pada akhirnya aku bisa bangkit dari tempatku," kisahnya.

Labib lalu pergi ke luar rumah dan menatap bintang-bintang di langit. Ia hampir pingsan karena rasa gembira yang luar biasa. Sambil mengangkat tangan, Labib berdoa, "Ya Allah, engkau kabulkan permintaanku. Hanya kepadamu aku memuji dan bersyukur." Optimisme Labib akan rahmat dan pertolongan Allah Swt telah berbuah manis dan membawa kebaikan baginya.

Kajian Tafsir

Hari ini kita akan membahas tafsir surat an-Nahl ayat 97. Allah Swt berfirman, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Ayat tersebut berbicara tentang kehidupan yang baik. Kata tayyibah atau tayyib berarti bersih dan suci atau sesuatu yang membuat manusia secara alamiah tertarik kepadanya. Sebaliknya, kata khabis (buruk atau kotor) adalah sesuatu yang dibenci oleh manusia. Jadi, hayatan tayyibah bermakna kehidupan yang bersih dan bebas dari segala noda dan keburukan.

Dalam kamus al-Quran, kehidupan memiliki makna yang dalam. Sekilas, kehidupan adalah sebuah fase yang dimulai dari kelahiran sampai kematian, yang dijalani secara sadar dan tanpa paksaan. Namun, Allah menyiapkan kehidupan lain untuk manusia selain kehidupan duniawi ini. Kehidupan lain ini akan mengantarkan mereka pada kesempurnaan dan membuat tujuan-tujuan spiritual mereka tercapai.

Pada dasarnya, hayatan tayyibah adalah lahirnya sebuah kehidupan baru yang berbeda jauh dengan sebuah kehidupan biasa; sebuah kehidupan yang penuh dengan nuansa spiritual.

Orang yang diberikan hayatan tayyibah akan memiliki ilmu dan pemahaman yang lebih tinggi dari orang lain. Ia akan memiliki kekuatan untuk membela kebenaran dan mengingkari kebatilan. Ilmu dan kekuatan baru ini akan membuat seseorang mampu melihat hakikat sesuatu dan mampu membedakan antara hak dan batil. Dengan demikian, ia tidak akan tergoda dengan gemerlap dunia dan tipuannya.

Pemilik hayatan tayyibah tidak akan mempan lagi digoda oleh syaitan dan ia akan kebal terhadap rayuan syaitan. Sosok yang seperti ini semata-mata mencari keridhaan Tuhan dan tidak ada sesuatu yang baik di matanya kecuali yang dianggap baik oleh Allah, dan tidak ada perkara buruk di matanya kecuali yang dianggap buruk oleh-Nya.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Tips kesehatan hari ini akan kita mulai dengan menukil sebuah hadis. Rasul Saw bersabda, "Makanlah sahur karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." Salah satu sunnah berpuasa di bulan Ramadhan adalah bangun di waktu sahar untuk beribadah dan juga untuk makan sahur. Makan sahur sangat ditekankan meski hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air.

Dalam riwayat disebutkan bahwa sebaik-baik sahurnya orang mukmin adalah kurma. Disebutkan juga bahwa Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang beristighfar di waktu sahar dan mereka yang makan sahur. Waktu berpuasa yang lama membuat tubuh membutuhkan gizi yang cukup untuk dapat beraktivitas secara normal. Berpuasa tanpa sahur akan sangat merugikan bagi sistem pencernaan.

Para ahli gizi mengatakan, "Jangan korbankan sahur agar bisa tidur lebih lama, karena makan sahur membawa berkah. Makan malam tidak akan bisa menggantikan makan sahur, jadi pastikan untuk menyantap sahur meskipun hanya beberapa suap. Tanpa sahur, tenaga akan menyusut di sepanjang hari. Tanpa sahur mungkin juga akan menghilangkan manfaat-manfaat kesehatan berpuasa, karena kebutuhan gizi yang tidak tercukupi bagi orang yang berpuasa."

Dengan tidak bangun sahur, tubuh akan kekurangan asupan cairan yang sukup untuk menjalani puasa seharian. Jika ini terjadi, tubuh akan mengalami dehidrasi dan berdampak pada kegiatan sehari-hari, salah satunya sulit fokus dan lemas. Dampak lain tidak makan sahur adalah nyeri kepala, sakit persendian, lesu akibat penurunan kadar gula, dan mudah lelah.

Oleh karena itu, orang yang berpuasa harus bangun untuk menyantap sahur terutama bagi mereka yang menjalani puasa untuk pertama kalinya. Mereka harus benar-benar memperhatikan makan sahur jika ingin berpuasa.