Jun 14, 2017 05:23 Asia/Jakarta

Tausiyah Ramadhan Pada 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, darah putra Ka'bah bercucuran di Masjid Kufah. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as – menantu, sepupu, dan orang terdekat Rasulullah Saw – ketika sedang melaksanakan shalat di Masjid Kufah, ditebas dengan pedang oleh seorang durjana bernama Abdurahman bin Muljam al-Muradi. Kepala suci Imam Ali terluka parah akibat pukulan ini dan tiga hari kemudian, beliau gugur syahid.

Setelah Perang Siffin, sebagian orang bangkit menentang Imam Ali as dan melancarkan perlawanan terhadap beliau. Mereka dikenal dengan kelompok Khawarij dan dikalahkan oleh Imam Ali dalam Perang Nahrawan. Para buronan Khawarij kemudian menjadikan kota Makkah sebagai pusat kegiatannya dan tiga orang dari mereka merencanakan pembunuhan terhadap Imam Ali, Muawiyah, dan Amru bin Ash. Ibnu Muljam diperintahkan untuk membunuh Imam Ali as.

Pada malam 19 Ramadhan, Imam Ali merasakan kondisi yang tidak biasa. Beliau membacakan surat Yasin dan kemudian menatap langit sambil berkata, "Malam ini adalah malam pertemuan yang dijanjikan kepadaku." Di waktu sahar 19 Ramadhan, Imam Ali pergi ke Masjid Kufah untuk menunaikan shalat subuh. Setelah tiba di sana, beliau naik ke menara untuk mengumandangkan azan subuh dan kemudian mengisi waktunya dengan ibadah.

Imam Ali sudah terbiasa membangunkan orang-orang yang tidur di Masjid Kufah untuk menunaikan shalat. "Shalat, shalat, Allah merahmati kalian, bangunlah dan tunaikanlah kewajiban kalian," seru Imam Ali membangunkan mereka. Ibnu Muljam dengan niat jahat berpura-pura tidur di salah satu sudut masjid. Imam Ali berkata kepadanya, "Bangunlah dari tidurmu, ini adalah tidur yang dibenci oleh Allah."

Amirul Mukminin kemudian kembali ke mihrab untuk shalat. Beliau memperpanjang sujudnya dalam shalat dan Ibnu Muljam memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati mihrab. Imam Ali mengangkat kepalanya dari sujud pertama dan Ibnu Muljab menghujamkan pedangnya ke kepala putra Ka'bah ini di antara dua sujud.

Dengan menahan rasa sakit, Imam Ali berkata kepada Ibnu Muljam, "Bismillah wa billah wa ‘ala millati Rasulillah, fuztu wa Rabbil Ka‘bah. (Dengan nama Allah, bersama Allah dan di atas agama Rasulullah, demi Sang Pemelihara Ka‘bah (sungguh) aku telah meraih kemenangan).”

Racun di pedang Ibnu Muljam cepat menyebar ke sekujur tubuh Imam Ali as. Imam Hasan dan Husein as bersama para pemuda Bani Hasyim segera membawa beliau ke rumah. Wajah Imam Ali as seketika pucat pasi karena pendarahan yang parah. Selanjutnya, Ibnu Muljam dengan tangan terikat dibawa ke sisi Imam Ali as. Sambil memandang orang yang membunuhnya, Imam Ali berkata, "Apakah selama ini aku menjadi pemimpin yang jahat bagimu hingga engkau membalas aku seperti ini?"

Ketika itu, Amirul Mukminin juga mengingatkan putranya, Imam Hasan as tentang cara memperlakukan Ibnu Muljam. Beliau berkata, "Wahai anakku! Ingatlah, jangan membunuh dengan alasan kematianku, kecuali atas pembunuhku. Tunggulah hingga aku mati oleh pukulannya ini. Kemudian pukullah dia dengan satu pukulan dan jangan rusakkan anggota-anggota badannya, karena aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Jauhkan memotong-motong anggota badan sekalipun terhadap anjing gila.'"

Kajian Tafsir

Pada segmen ini, kami telah memilih ayat 54 surat an-Nur sebagai tema kajian tafsir kita. Allah Swt berfirman, "Katakanlah: 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.'"

Dengan memperhatikan prinsip tauhid, menaati dan mengikuti perintah siapa pun (selain Allah) tidak dibenarkan kecuali jika si pemberi perintah menerima mandat dari Allah. Pada ayat tersebut, Allah mewajibkan ketaatan kepada Rasul Saw setelah ketaatan kepada diri-Nya. Perlu diingat bahwa jika manusia berpaling dari Rasul, perbuatan ini tidak akan merugikan beliau, karena ia hanya berkewajiban untuk menyeru dan menyampaikan risalahnya. Manusia punya kewajiban untuk menaati Rasul agar memperoleh petunjuk. Namun jika mereka berpaling, maka Allah dan Rasul-Nya tidak akan dirugikan sama sekali.

Rasul Saw mengemban tugas untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia dan jika ada penentangan dan pengingkaran dari masyarakat, maka tidak ada kerugian apapun bagi beliau, karena ia hanya sebagai penyampai risalah Allah Swt.

Ketaatan kepada Allah berarti mematuhi firman-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah. Sementara ketaatan kepada Rasulullah adalah mengikuti serta menjalankan sepenuhnya ajaran beliau, di mana jalan yang beliau tempuh adalah jalan yang lurus dan jalan Allah Swt. Ketaatan kepada Rasul memiliki wilayah yang sangat luas yaitu ketaatan terhadap seluruh aturan dan hukum Allah Swt yang beliau sampaikan. Dalam sebuah ayat disebutkan bahwa segala yang beliau ucapkan dan sampaikan adalah wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Tubuh manusia mulai dari kelahiran sampai kematian, secara alamiah membutuhkan makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Jika manusia tidak punya akses ke air, kematian dan kepunahan akan membayangi mereka. Sumber daya air di muka bumi mencapai 70 persen, begitu juga dengan tubuh manusia yang mengandung cairan sekitar 70 persen.

Jelas bahwa kondisi ideal untuk makhluk yang menyimpan kandungan air 70 persen di tubuhnya adalah mengkonsumsi makanan yang mengandung cairan minimal 70 persen. Para pakar kesehatan menyarankan kita untuk mengkonsumsi madu, buah-buahan yang kaya air, dan sayuran.

Secara alami, makanan yang dihasilkan dari tumbuhan dan hewan mengandung banyak air. Sebagai contoh, madu mengandung kadar air sekitar 20 persen, sementara gula yang sudah disaring hanya 3 persen. Untuk itu, madu dapat menjadi minuman terbaik untuk berbuka puasa dan sahur. Demi mencukupi kebutuhan gizi selama puasa, konsumsi madu sangat bermanfaat bagi kesehatan kita. Madu adalah makanan yang sehat, mudah dicerna, alami, dan kaya energi.

Madu mengandung karbohidrat yang tinggi, protein, rendah lemak, enzim dan berbagai jenis vitamin. Satu sendok madu mengandung 60 kalori, 11 gram karbohidrat, 1 mg kalsium, 0,2 mg zat besi, 0,1 mg vitamin B, dan 1 mg vitamin C. Pakar gizi berkesimpulan bahwa madu memiliki kandungan mineral tertinggi  yang sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Tidak salah jika madu dianggap sebagai makanan yang paling bernilai bagi manusia.

Madu juga memiliki berbagai khasiat untuk mengobati penyakit. Salah satu khasiat terpenting madu adalah antimikroba. Berbeda dengan jenis makanan pada umumnya yang menjadi media paling baik bagi perkembangbiakan mikroba. Madu justru merupakan makanan pembunuh mikroba. Dengan demikian, madu sangat efektif mengatasi infeksi.

Madu juga sangat sehat bagi jantung dan pembuluh darah. Selain itu, madu membantu melancarkan penyumbatan saluran darah, dan menurunkan kadar kolesterol jahat karena mengandung enzim diastase. Oleh karena itu, madu sangat baik dikonsumsi oleh lanjut usia dan mereka yang menderita penyakit jantung.