Ramadhan, Bulan Tuhan (20)
Tausiyah Ramadhan Kita akan segera memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, di mana sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah malam Lailatur Qadar. Malam agung ini sengaja dirahasiakan sehingga kaum Muslim menghidupkan 10 malam terakhir Ramadhan dengan ibadah, membaca al-Quran, dan bermunajat kepada Allah Swt. Jika Lailatul Qadar bukan misteri, banyak orang hanya akan beribadah pada malam tersebut dan melupakan malam-malam lain Ramadhan.
Mengingat malam Lailatul Qadar dirahasiakan, maka kaum Muslim akan mengisi malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan kegiatan ibadah dan memohon ampunan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw selalu melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. I'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan setara pahalanya dengan dua kali haji dan dua kali umrah.
Ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasul Saw melipat tempat tidurnya dan sepenuhnya mempersiapkan diri untuk beribadah dan beliau melakukannya di dalam sebuah tenda yang dipersiapkan untuk ibadah.
I'tikaf adalah sebuah amalan yang dianggap bagian dari kegiatan ibadah dalam syariat Nabi Ibrahim as, dan para pengikut beliau sudah terbiasa dengan i'tikaf. Nabi Sulaiman as juga melakukan i'tikaf di Baitul Maqdis dan memfokuskan diri untuk ibadah. Nabi Musa as – di tengah tanggung jawab besar dan kesibukannya membimbing umat – meninggalkan masyarakat untuk beberapa waktu untuk berkhalwat dengan Allah Swt di Bukit Tursina.
Nabi Zakaria as termasuk orang yang bertanggung jawab untuk mengurusi masyarakat yang melakukan i'tikaf di Baitul Maqdis, termasuk merawat Sayidah Maryam as. Rasulullah Saw seperti para kakeknya, mengamalkan syariat Nabi Ibrahim dan salah satu ritual agama Ibrahim adalah i'tikaf. Beliau memilih Gua Hira' sebagai tempat berkhalwat dengan Allah Swt. Setelah diutus menjadi nabi dan hijrah ke Madinah, Rasul melakukan i'tikaf di Masjid Nabawi dan menyibukkan diri dengan ibadah.
I'tikaf menurut bahasa adalah menetap atau tinggal di suatu tempat atau berdiam diri. Dalam ajaran Islam, i'tikaf adalah menetap di sebuah tempat yang suci untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. I'tikaf merupakan sebuah kesempatan emas sehingga manusia menemukan jati dirinya setelah tenggelam dalam kemegahan dunia. Para pelaku i'tikaf akan melepaskan dirinya dari belenggu materi untuk meraih rahmat, ampunan, dan kasih sayang Tuhan.
Momentum i'tikaf harus dijadikan sebagai kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampunan dari Allah Swt. Ia adalah kesempatan untuk kembali menaati perintah Allah dan meninggalkan segala keburukan.
Kajian Tafsir
Hari ini, kita akan mempelajari tafsir ayat 14 surat al-Naml yang berbunyi; "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan."
Ayat ini menjelaskan tentang kondisi orang-orang yang zalim, di mana mereka mengingkari sesuatu yang mereka yakini dengan hatinya. Kezaliman dan kesombongan telah membuat mereka mengingkari keyakinan hatinya sendiri, tapi nasib mereka akan berakhir tragis.
Salah satu tugas para nabi adalah memberi peringatan. Ketika berhadapan dengan orang-orang sesat dan zalim, para nabi akan memberikan peringatan tentang kondisi yang sedang mereka jalani sekarang dan nasib tragis yang akan menanti mereka kelak. Pada dasarnya, orang-orang yang larut dalam kelalaian tidak mampu memahami realitas kondisinya.
Pada ayat tersebut, Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw – yang sedang memikirkan tanggung jawabnya – bahwa tidak ada gunanya memberi peringatan kepada orang-orang kafir, karena mereka akan tetap melanjutkan jalannya yang sesat. Mereka tetap ingkar meskipun mengetahui dan memahami kebenaran. Oleh sebab itu, peringatan para nabi tidak akan berguna bagi mereka.
Iman merupakan basis perilaku dan gerakan manusia. Iman berarti penyerahan dan kepasrahan hati serta menerima kebenaran dengan tulus. Manusia selama belum jatuh hati terhadap sesuatu, maka ia tidak akan berjuang demi sesuatu itu dan di sinilah terletak perbedaan antara ilmu dan iman. Manusia kadang memiliki ilmu tentang sesuatu, tapi ia tidak jatuh hati kepadanya.
Dalam perkara iman, tidak cukup hanya pengetahuan dan masih butuh pada sesuatu selain ilmu. Tentu saja iman tanpa ilmu juga mustahil, iman yang disertai keraguan benar-benar tidak bernilai. Jadi, ilmu dengan sendirinya tidak cukup untuk menghadirkan iman, tapi ia harus tunduk pada kebenaran sehingga ilmu dapat berfungsi sebagai media yang tepat.
Manusia kadang memahami kebenaran, tapi hati tidak mau menerimanya dan menolak kebenaran itu. Mereka kadang melangkah lebih jauh lagi dan mengingkari kebenaran. Seperti ketika Nabi Musa as menyampaikan dakwahnya, Fir'aun dan para pembantunya memahami kebenaran. Musa as mendatangi istana Fir'aun dengan ayat dan bukti-bukti yang nyata. Para penyihir istana menyaksikan mukjizat Nabi Musa as dan melihat kebenaran sehingga mereka memilih beriman.
Sementara Fir'aun dan para pembantunya meskipun mereka meyakini kebenaran yang dibawa Musa, tapi hawa nafsu, kezaliman, dan kesombongan telah membuat mereka tidak mau menerima kebenaran. Ini adalah sebuah kisah yang terus berulang di sepanjang sejarah.
Tips Sehat Menjalani Puasa
Roti dan gandum adalah makanan pokok berbuka puasa di Iran dan juga termasuk bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Harga yang murah dan budaya israf (berlebih-lebihan) membuat konsumsi roti gandum semakin tinggi dan semakin tidak dihargai. Cara pemanggangan yang salah kadang membuat roti gandum terbuang begitu saja.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, "Muliakanlah roti, karena Allah menurunkannya dari berkah langit dan bumi. Salah satu cara memuliakan roti adalah tidak meletakkannya di bawah kaki." Mengenai keutamaan roti, beliau bersabda, "Allah Swt memberkahi roti untuk kita, dan tidak akan memisahkannya dari roti."
Rasulullah Saw di hari-hari tertentu melakukan puasa sunnah. Ketika tiba waktunya berbuka puasa, beliau melakukannya dengan makanan sederhana. Biasanya, makanan buka puasa beliau adalah sedikit susu dengan roti gandum atau roti dengan garam.
Para pemuka agama menganggap salah satu sedekah terbaik adalah memberikan roti (makanan) kepada orang yang membutuhkan. Roti dan gandum sangat dimuliakan tidak hanya dalam Islam, tapi di tengah masyarakat dunia. Roti mengandung energi, protein, dan bahan-bahan lain seperti, zat besi, kalsium, dan vitamin, yang dibutuhkan oleh tubuh kita setiap hari.