Nov 10, 2017 09:00 Asia/Jakarta

Hari ini, Jumat tanggal 10 November 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 21 Shafar 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 19 Aban 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Kitab Miftahul Falah, Karya Syaikh Bahai Selesai Disusun

388 tahun yang lalu, tanggal 21 Shafar 1051 HQ, penulisan kitab Miftahul Falah selesai dikerjakan oleh Syaikh Bahai, seorang ilmuwan muslim terkemuka.

Penulisan ini dilakukan di kota Ganjeh yang terletak di kawasan Kaukasus. Penerjemahan kitab Miftahul Falah ke dalam bahasa Persia dilakukan oleh Shadraiy Tabrizi, seorang ahli hadis abad ke-11 Hijriah dan memberi nama kitab terjemahan itu dengan nama Adab-e Abasi.

Kitab Miftahul Falah terdiri dari enam bab yang berisi penjelasan mengenai amal-amal dan doa-doa di berbagai waktu dalam sehari semalam.

Hari Pahlawan, Rakyat Surabaya Melawan Sekutu

72 tahun yang lalu, tanggal 10 November 1945 kota Surabaya, ibukota provinsi Jawa Timur Indonesia, dengan dalih kematian Brigjen Mallaby, rakyat dan pemuda menghalangi perlucutan tentara Jepang oleh Sekutu.

Rakyat dan pemuda tidak mau menyerahkan tawanan Jepang dan senjatanya kepada Sekutu. Pada tanggal 10 November 1945 kota Surabaya dibombardir oleh kapal-kapal Sekutu dari laut dan pesawat-pesawat tempur mereka dari udara. Ribuan rumah di kota Surabaya hancur dan ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana.

Berhari-hari Sekutu melakukan serangan tersebut dengan kejam tanpa pertimbangan perikemanusiaan sama sekali. Tujuan mereka supaya rakyat dan pemuda minta ampun dan menyerah kepada Sekutu.

Tetapi rakyat dan pemuda Surabaya di bawah pimpinan Soemarsono (PRI) dan satuan-satuan bersenjata lainnya yang pantang menyerah dan pantang minta ampun, makin menguatkan tekad dan semangat untuk meneruskan perlawanan bersenjata terhadap siapa saja yang akan memaksakan kembalinya penjajahan di Indonesia.

Atas dasar ideologi dan semangat rakyat dan pemuda Surabaya yang pantang menyerah itulah maka tanggal 10 November dijadikan "Hari Pahlawan" di Indonesia.

Shah Umumkan Keterbukaan Politik di Iran

41 tahun yang lalu, tanggal 19 Aban 1355 HS, Shah Pahlevi mengumumkan keterbukaan politik di Iran.

Pasca kemenangan Jimmy Carter sebagai presiden dari partai Demokrat Amerika, ia menyatakan dukungannya atas pelaksanaan hak asasi manusia. Untuk itu, sebagai bentuk propagandanya, ia bermaksud menguji pelaksanaan HAM di negara-negara yang bergantung pada Amerika seperti Iran. Guna menyelaraskan kebijakannya dengan Gedung Putih, Shah mengumumkan keterbukaan politik, sosial dan ekonomi pada 19 Aban 1355 Hs.

Apa yang dilakukan Shah menunjukkan Iran kembali menjadi korban propaganda Amerika dan menjadikan solusi atas masalah dalam negeri adalah sistem kapitalisme.

Pengumuman keterbukaan politik di Iran oleh Mohammad Reza Pahlevi pada hakikatnya pernyataan loyalitas Shah kepada Carter. Oleh karenanya rezim Shah mulai melakukan perubahan lahiriah untuk menarik perhatian wakil Palang Merah Internasional, terkait kondisi tahanan politik di Iran. Rezim Shah mencabut sebagian pembatasan dan tekanan terkait penyebaran pengumuman, kaset dan pikiran-pikiran Imam Khomeini ra.

Kebijakan keterbukaan politik yang ditetapkan rezim Shah ternyata tidak membuat Shah meraih tujuan politiknya dan ia tidak mampu meredam kemarahan rakyat, tapi menambah masalah baru. Padahal masalah-masalah lama juga tidak pernah diselesaikan. Kebijakan ini justru menjadi kesempatan penting bagi kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1357 HS.