Terpisahnya Inggris dari Uni Eropa
Akhirnya hari penentuan nasib Inggris di Uni Eropa tiba setelah pro dan kontra keanggotaan negara ini di organisasi Eropa tersebut. Hasil referendum yang digelar Kamis (23/6) menunjukkan minat warga Inggris keluar dari Uni Eropa. Dengan demikian Inggris mengakhiri keanggotaannya di Uni Eropa setelah 43 tahun.
Isu keluarnya Inggris dari Uni Eropa untuk pertama kalinya secara resmi digulirkan David Cameron, perdana menteri negara ini saat kampanye pemilu. Di salah satu bagian statemen pemilu yang terdiri dari 83 halaman Partai Konservatif dicantumkan janji Cameron untuk menggelar referendum keanggotaan negara ini di Uni Eropa dan warga akan menentukan nasib keanggotaan London.
Pengumuman isu ini oleh Cameron dirilis di saat rakyat Inggris tengah mengalami kondisi sangat sulit akibat penerapan kebijakan penghematan ekonomi. Kendala ekonomi dan keamanan akibat intervensi di Afghanistan dan Irak, dua kesulitan utama masyarakat Inggris. Oleh karena itu, Cameron selama kampanye fokus pada isu-isu seperti devisit anggaran, peningkatan daya beli properti, peningkatan lapangan kerja dan tidak menaikkan pajak.
Meski Cameron sedikit lambat dalam menunaikan janji-janjinya, namun akhirnya setelah perundingan bulan Februari tahun ini antara perdana menteri Inggris dan anggota Uni Eropa lainnya, referendum akhirnya ditetapkan akan digelar 23 Juni. Di sisi lain, selama proses perundinga, Cameron banyak meraih konsesi dari pejabat Uni Eropa di antaranya undang-undang Uni Eropa akan mengikat Inggris ketika diratifikasi parlemen London. Dengan demikian Cameron semakin optimis Inggris akan tatap menjadi anggota Uni Eropa.
Kini pasca penyelenggaraan pertarungan sengit kampanye dan propaganda kubu pro dan kontra keluarnya Inggris dari Uni Eropa, referendum akhirnya digelar dan warga memilih keluar dari Uni Eropa. Hasil referendum ini tidak diharapkan oleh banyak pemimpin dan pejabat Uni Eropa serta Inggris. Reaksi pertama yang muncul pasca referendum adalah hasil tersebut dinilai sebagai keputusan tragis bagi Uni Eropa dan Inggris.
Cameron jauh hari sebelum penyelenggaraan referendum mengungkapan kecenderungannya bahwa Inggris harus tetap menjadi anggota Uni Eropa dan meminta warga memberikan suaranya mendukung keanggotaan London di organisasi ini. Setelah pengumuman hasil referendum, Cameron langsung menunjukkan reaksi resminya dan mengatakan, "Inggris membutuhkan pemerintah baru untuk berunding terkait keluar dari Uni Eropa."
Seraya menyatakan bahwa dirinya bukan sosok terbaik untuk memimpin negara, Cameron mengatakan, "Perdana menteri baru harus memulai tugasnya sejak Oktober mendatang." Ia menambahkan dirinya akan tetap berusaha menjaga kepentingan Inggris meski negara ini telah keluar dari Uni Eropa. "Saya masih yakin bahwa Inggris akan lebih aman jika berada di Uni Eropa," ungkap Cameron. Perdana menteri Inggris ini seraya mengisyaratkan bahwa suara dan pendapat rakyat yang memilih keluar dari Uni Eropa harus dihormati menambahkan, "Dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak akan cepat muncul, dan negara ini akan tetap hidup meski berada di luar organisasi Erppa."
Sementara itu, mayoritas pejabat Inggris tidak puas atas hasil referendum dan menilainya bertentangan dengan kepentingan London. Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond menyebut suara rakyat yang memilih keluar dari Uni Eropa sangat mengejutkan. "Keputusan ini memperlemah posisi Inggris di dunia," kata Hammond. Meski demikian banyak warga Inggris yang menggelar pesta pasca pengumuman hasil referendum.
Kubu pro-Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) mengatakan kini London mampu mengambil keputusan demi kepentingan nasional tanpa intervensi pihak lain. Selama beberapa tahun terakhir, krisis ekonomi, isu migran, ancaman terorisme dan dampaknya sangat mempengaruhi kehidupan rakyat Inggris. Mayoritas warga Inggris meyakini bahwa pelaksanaan kebijakan Uni Eropa dan suntikan dana oleh Inggris ke organisasi ini membuat kondisi London semakin sulit.
Pro-Brexit menganggap klaim para pejabat Inggris terutama Perdana Menteri David Cameron seputar dampak-dampak negatif Brexit bagi perekonomian Inggris, tidak benar dan tidak realistis. Mantan Walikota London, Boris Johnson mendukung kampanye yang menyuarakan Inggris keluar dari Uni Eropa.
Johnson mengatakan, "Brexit akan membuat kita kembali mengendalikan mata uang nasional, memperoleh kedaulatan sebagai negara sendiri, dan memiliki masa depan ekonomi." Ia juga menuding Obama bersikap munafik lantaran mendukung Inggris untuk tetap menjadi anggota Uni Eropa. AS bukan anggota Uni Eropa dan sekarang meminta rakyat Inggris untuk mengorbankan undang-undang, kedaulatan, mata uang, dan demokrasinya dengan melanjutkan keanggotaan di organisasi itu.
Kubu pendukung Brexit selalu menekankan masalah keuntungan finansial dan ekonomi jika Inggris keluar dari UE. Mereka percaya bahwa Brexit akan memperkuat pertumbuhan ekonomi Inggris, sementara melanjutkan keanggotaan justru akan mendorong resesi ekonomi dan menambah jumlah kedatangan imigran. Mereka juga tidak senang dengan dominasi Uni Eropa terutama dalam hal pemaksaan untuk menerima pengungsi dan isu-isu hak asasi manusia.
Sementara itu, pejabat Eropa pasca pengumuman hasil resmi referendum mulai menunjukkan reaksi. Presiden Perancis, Francois Hollande mengatakan, keputusan rakyat Inggris menempatkan Eropa pada ujian besar. Angela Merkel, kanselir Jerman mengatakan, Uni Eropa sangat kuat dan akan menjawab keputusan langkah Inggris dalam waktu yang tepat. Adapun Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi, Eropa membutuhkan penataan ulang suaranya setelah keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, menyatakan penyesalan atas keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa, dan menyebutnya sebagai hari yang menyedihkan bagi Eropa. Jerman telah mendorong Inggris untuk tetap di Uni Eropa, di mana Steinmeier sebelumnya mengatakan bahwa Brexit bisa mengarah pada "disintegrasi" dari proyek Eropa. Adapun perdana menteri Hungaria menyatakan, suara rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa mengindikasikan bahwa organisasi ini harus memberi jawaban yang tepat terkait isu-isu penting seperti isu migran.
Kini jelas bahwa rakyat Inggris sangat tidak puas atas kebijakan Uni Eropa terkait isu migran. Sejumlah sumber terpercaya bahkan berani mengklaim bahwa salah satu alasan utama suara menolak rakyat Inggris adalah isu penerimaan migran dan dana besar bagi para pengungsi. Dalam pandangan Uni Eropa dan Amerika Serikat, realita ini sangat transparan. Presiden AS, Barack Obama sebelumnya dalam jumpa pers dengan David Cameron menilai keanggotaan Inggris di Uni Eropa menjadi faktor bagi keamanan dan kesejahteraan negara ini. Ia memperingatkan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan memperlemah kekuatan London dan merusak hubungan perdagangan dan lapangan pekerjaan di negara ini. Namun demikian Obama setelah hasil referendum mengatakan bahwa dirinya menghormati keputusan rakyat Inggris.
Di saat sebagian masyarakat Inggris masih dicekam syok, para pemimpin lembaga Eropa menyatakan, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa pasca keputusan bersejarah di negara ini harus segera dimulai. Ketua Dewan Eropa, Donald Tusk, Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, Ketua Parlemen Eropa Martin Schulz dalam statemen bersamanya menyatakan, "Saat ini kami mengharapkan pemerintah London segera melaksanakan keputusan rakyatnya."
Para pemimpin lembaga Eropa menyatakan kesiapannya untuk memulai perundingan dalam masalah ini. Sepertinya hal ini sebagai jawaban atas statemen sejumlah petinggi Inggris yang mengingatkan bahwa implementasi keputusan ini membutuhkan tempo 2-10 tahun demi meredam dampak negatifnya. Banyak pengamat sebelumnya memperingatkan dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Tak lama setelah pengumuman hasil referendum, dampak tersebut terlihat di bursa saham dan finansial.
Setelah pengumuman hasil referendum, nilai mata uang Inggris, Poundsterling untuk pertama kalinya selama beberapa dekade terakhir anjlok terhadap dolar. Yang pertama terkena imbas dari anjloknya poudsterling adalah importir Inggris, khususnya wisatawan negara ini. Anjloknya nilai mata uang pound sama halnya dengan melambungnya produk impor dan harga bahan bakar di Inggris. Indeks saham FTSE 100 London untuk pertam akalinya selama 31 tahun terakhir turun sebesar 500 poin.
Maskapai penerbangan British Airline setelah sahamnya turun 22 persen memperingatkan penurunan keuntungan maskapai ini hingga akhir tahun. Adapun ketua Bank Sentral Inggris saat mereaksi kondisi ekonomi menjelaskan, krisis ekonomi pasca pengumuman hasil referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak dapat dihindari.
Terlepas dari dampak politik referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa, fenomena ini ditakutkan memperbesar kecenderungan di anggota lain untuk keluar dari Uni Eropa. Meski demikian Cameron mengatakan tidak ada perubahan mendasar terkait lawatan dan bepergian warga Inggris atau keluar masuknya barang dan pelayanan jasa. Tapi meski Inggris menyatakan dalam kondisi siap sepnuhnya dan Bank Sentral mengaku telah memiliki program yang diperlukan, masih ada keraguan besar dan serius dalam masalah ini.
Menurut para pengamat, keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa memiliki dampak yang panjang baik bagi London maupun Uni Eropa. Referendum ini dapat menjadi teladan bagi anggota lain jika mereka menentang kebijakan Uni Eropa. Hal inilah yang membuat pajabat Eropa sangat khawatir. Kondisi ini untuk jangka panjang dapat merusak solidaritas dan kekuatan Uni Eropa.