Yakin Sudah Tahu Cara Penularan HIV?
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i25624-yakin_sudah_tahu_cara_penularan_hiv
Ternyata masih banyak masyarakat yang belum paham betul mengenai cara penularan HIV dari orang yang terinfeksi. Bagaimana dengan Anda?
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 13, 2016 08:29 Asia/Jakarta
  • AIDS
    AIDS

Ternyata masih banyak masyarakat yang belum paham betul mengenai cara penularan HIV dari orang yang terinfeksi. Bagaimana dengan Anda?

Dalam program edukasi Garuda Indonesia Peduli Kanker Serviks dan HIV/AIDS di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, banyak peserta kuliah umum yang menjawab salah ketika ditanya seputar penularan HIV.

 

Mulanya konselor HIV/AIDS dari RSUD Provinsi Kepulaun Riau, Tanjungpinang, dr. Dwinita Vivianti, SpPD melemparkan pertanyaan mengenai cara penularan HIV.

 

Dalam presentasinya, dokter yang akrab disapa Vivi ini menunjukkan gambar dan menanyakan apakah HIV menular lewat gigitan nyamuk, lewat penggunaan toilet duduk, bertukar alat makan, atau bisa menular dengan hanya bersalaman?

 

"Nomor berapa yang benar? Yang mana yang bisa menularkan HIV?" tanya Vivi kepada peserta kuliah umum di Tanjungpinang.

 

Ternyata banyak yang salah menjawab. Padahal, dari semua gambar yang ditunjukkan Vivi, tak ada satu pun cara yang bisa menularkan HIV.

 

Vivi kemudian menjelaskan satu per satu bahwa HIV tak mungkin menular lewat nyamuk, karena virus itu hanya menyerang manusia.

 

HIV juga tidak bisa menular ketika menggunakan toilet duduk yang baru saja digunakan pasien HIV/AIDS, menggunakan alat makan yang sama, atau menular lewat keringat ketika bersalaman maupun berpelukan.

 

"Biasanya mereka agak takut HIV menular lewat ganti tempat makan. Padahal kan enggak bisa menular lewat tempat makan. Di luar negeri ada koki hotel HIV positif, dia tetap dipekerjakan," ungkap Vivi.

 

HIV hanya terdapat di darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Umumnya menular melalui hubungan seksual dan penggunaan napza suntik. Namun, ketika jumlah virus telah ditekan karena rutin konsumsi ARV, virus pun tak menular.

 

"Penularannya tidak mudah. Virus juga tidak bisa bertahan lama di luar tubuh," jelas Vivi.

 

Vivi mengatakan, kurangnya pengetahuan masyarakat ini membuat stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih tinggi, khusunya di daerah.

 

Edukasi HIV/AIDS harus terus dilakukan hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia untuk menghapus stigma sekaligus menurunkan angka kejadian.

 

Vivi mengungkapkan, Kepulauan Riau pun menempati posisi ke-6 untuk jumlah pasien HIV/AIDS tertinggi di Indonesia tahun 2014.

 

Di Kepulauan Riau, kasus HIV/AIDS terbanyak terdapat di daerah Batam, kedua di Kabupaten Karimun, dan ketiga di Tanjungpinang.

 

"Kepulauan Riau ada di peringkat keenam dengan jumlah penduduk yang sedikit, menurut saya sudah lampu kuning ya. Harus segera diatasi dengan baik," kata Vivi.

 

Terkena HIV Sekarang, Baru Tahu 10 Tahun Kemudian

 

Human immunodeficiency virus (HIV) masuk ke tubuh manusia tanpa menimbulkan gejala apapun. Orang yang terkena HIV pada awalnya akan merasa sehat seperti biasa.

 

Hal itu karena masa inkubasi HIV atau masa masuknya virus hingga muncul gejala adalah 5-10 tahun. Bahkan bisa lebih dari 10 tahun jika daya tahan tubuh sangat baik.

 

Tak heran jika ada orang yang terinfeksi HIV, tetapi baru mengetahuinya 10 tahun kemudian. Ketika sudah muncul gejala, orang tersebut biasanya sudah terkena AIDS.

 

"Misalnya, ada yang bilang, 'Saya kayaknya "jajan" hanya sekali, 10 tahun lalu, tapi kenapa kena AIDS?' Bisa saja HIV sudah masuk saat 10 tahun lalu itu karena hubungan seks yang tidak aman," papar Konselor HIV/AIDS di RSUD Provinsi Kepulauan Riau, dr Dwinita Vivianti, SpPD dalam seminar Garuda Indonesia Peduli Kanker Serviks dan HIV/AIDS di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (9/11/2016).

 

Dokter yang akrab disapa Vivi itu menjelaskan, awalnya virus masuk ke dalam tubuh, lalu menyerang imun yang disebut sel T. Virus akan terus menyerang imun, hingga akhirnya sistem imun terganggu.

 

Ketika sistem kekebalan tubuh manusia semakin menurun, barulah muncul gejala dan biasanya sudah terkena penyakit AIDS. Gejalanya antara lain, berat badan menurun 10 persen dalam waktu sebulan, flu berulang dan tak kunjung sembuh, dan sering kelelahan.

 

"Kalau daya tahan tubuh turun atau punya penyakit diabetes melitus, tuberkulosis, hingga kanker, biasanya akan lebih kelihatan, kita sarankan tes HIV," ujar Vivi.

 

Jadi, jika pernah melakukan hubungan seksual yang tidak sehat, sebaiknya melakukan tes HIV. Diketahui lebih cepat dapat mencegah penularan ke orang lain.

 

Yang lebih penting adalah melakukan pencegahan, yaitu dengan tidak bergonta-ganti pasangan dalam hubungan seksual, melakukan hubungan seks yang aman, hingga hindari pemakaian napza suntik.

 

Gejala Apa yang Muncul Setelah Terinfeksi HIV?

 

Banyak orang yang tidak sadar telah terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Umumnya memang tidak ada gejala awal ketika virus baru masuk ke dalam tubuh karena masa inkubasi virus rata-rata mencapai 5-10 tahun.

 

Gejala terinfeksi HIV bisa saja baru terasa 10 tahun kemudian. Saat itu pun pasien sudah terkena AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) akibat infeksi HIV.

 

"Biasanya ada gejala yang paling sering muncul tapi enggak berat, yaitu sering flu," ujar Konselor HIV/AIDS di RSUD Provinsi Kepulauan Riau, dr Dwinita Vivianti, SpPD saat ditemui di Tanjungpinang beberapa waktu lalu.

 

Serangan flu mungkin tidak jelas apakah sebagai gejala HIV/AIDS, alergi, atau sakit biasa. Flu yang perlu dicurigai gejala HIV/AIDS adalah jika sebelumnya jarang terkena flu, tapi tiba-tiba sering flu, atau pun sebelumnya pernah melakukan hubungan seks berisiko, atau menjadi pengguna jarum suntik bergantian.

 

Dokter yang akrab disapa Vivi itu memaparkan, pada dasarnya dalam penyakit HIV/AIDS dikenal adanya gejala mayor dan minor. Gejala mayor antara lain, batuk kronis lebih dari tiga bulan, diare kronis lebih dari 6 bulan, demam terus menerus.

 

"Dalam satu bulan, berat badan bisa turun 10 persen dari berat badan awal," terang Vivi.

 

Adapun gejala minor antara lain, sariawan di mulut yang tak kunjung sembuh, penyakit kulit yang tak sembuh-sembuh meski sudah diberikan obat oleh dokter, muncul kotoran putih di mulut, bahkan sarkoma kaposi atau muncul biru-biru yang menonjol di kulit.

 

Pasien juga jadi mudah lelah yang bekepanjangan karena kadar hemoglobin turun. "Semua itu terjadi karena daya tahan tubuhnya turun semua akibat ada virus," katanya.

 

Gejala terinfeksi HIV yang muncul pada setiap orang berbeda-beda, tergantung pada daya tahan tubuh. Gejala tersebut bisa saja mulai terasa jelas puluhan tahun kemudian.

 

Untuk menurunkan kasus penularan HIV, Vivi mengimbau masyarakat untuk menghindari risiko penularan HIV. Jika telah menjadi kelompok yamg berisiko tertular HIV, sebaiknya segera tes HIV, meskipun saat itu masih merasa sehat. Lebih cepat ditangani, penyakit akan lebih ringan dibanding baru diketahui setelah terkena AIDS.

 

Mengapa Pasien HIV Sebaiknya Tidak Merokok?

 

Merokok memang kebiasaan yang tidak sehat bagi semua orang, tetapi ternyata dampaknya lebih merusak pada orang yang terinfeksi HIV. Bahkan, efek rokok itu lebih membahayakan dibanding virus HIV.

 

Menggunakan simulasi komputer, para peneliti mengungkap bahwa penggunaan tembakau bisa mengurangi usia harapan hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dua kali lipat dibanding virusnya sendiri.

 

Bahkan, ODHA yang berhenti merokok juga memiliki usia harapan hidup lebih tinggi.  Oleh karena itu, diperlukan upaya berhenti merokok yang efektif pada ODHA untuk meningkatkan usia harapan hidup.

 

"Merokok memang buruk bagi kesehatan, tetapi kami bisa menunjukkan separah apa dampaknya. Orang dengan HIV yang rutin minum obat tetapi merokok, risikonya lebih besar meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok ketimbang virus HIV," kata Dr.Krishna P Reddy, peneliti.

 

Merokok diketahui menurunkan kekebalan tubuh karena membantu bakteri berkoloni dan menjadi resisten di tubuh. Padahal, HIV menyebabkan daya tahan tubuh sudah rendah. (Kompas)