Latih Anak Menyelesaikan Masalahnya Sendiri
-
Anak-anak
Orangtua adalah perisai anak. Tapi orangtua juga harus memberi arahan dan kepercayaan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Orangtua Weni marah bukan kepalang ketika tahu putrinya mendapat perlakuan tak pantas dari temannya di sekolah. Segala usaha ditempuh, mulai dari ‘menyerang’ orangtua murid lain di grup Whatsapp sampai melapor ke pihak sekolah dengan tuduhan wali kelas gagal mengawasi perilaku murid-muridnya.
Setelah diusut, ternyata Weni ‘hanya’ terkena dorongan ketika bermain bersama temannya. Dorongan tersebut tidak berakibat fatal pada kondisi Weni yang baru menginjak usia 6 tahun.
Di sisi lain, setelah berunding dengan pihak yang dituduh, terungkap bahwa orangtua Weni ingin anaknya bersikap mandiri. Mereka menilai Weni terlalu bergantung pada orangtua dan kurang mandiri dibanding teman-teman sekelasnya.
Namun, akibat ‘serangan’ oran tua Weni kepada orangtua murid lain, kini Weni mulai dijauhi teman-teman sekelas lantaran mereka tak mau berurusan dengan orangtua Weni yang terlanjur terkenal galak.
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi menyebut jika orangtua ingin anaknya mandiri, hendaknya diberi arahan dan kepercayaan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Orangtua bisa saja tidak intervensi langsung, tapi menjadi tempat diskusi bagi anak untuk tahu bagaimana menyikapi masalahnya. Jadi, orangtua senantiasa ada di belakang anak untuk mengarahkan dan memberi dukungan agar anak belajar mengatasi masalahnya sendiri,” papar Vera.
Urusan kemandirian ini tak bisa dipandang remeh. Sebab berkaitan dengan masa depan si anak dan orangtua anak itu sendiri.
“Banyak kasus yang saya tangani berkaitan dengan hal ini. Sikap orangtua yang over protektif, memanjakan, atau melayani anak membuat anak tumbuh sebagai individu yang terbiasa terpenuhi kebutuhannya tanpa melakukan usaha apa pun,” kata Vera.
Akibat dari perilaku ini, anak selalu menganggap segala masalah akan terselesaikan dengan sendirinya. Ketika dihadapkan dengan masalah atau kesulitan yang menuntut kemandirian, anak tersebut akan mudah frustasi atau lari menghindari masalah tersebut.
Menurut Vera, orangtua boleh dan sah saja langsung mengambil alih masalah dari anak. Dengan catatan, masalahnya sudah serius seperti mengancam keselamatan si anak.
Sikap orangtua yang langsung mengambil alih masalah anaknya, lanjut Vera, disebabkan oleh banyak hal. Misalnya, ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi sendiri, kurang percaya dengan kemampuan anak, kurang sabar mendampingi anak menyelesaikan masalahnya sendiri, dan menjadikan masalah anak sebagai masalah pribadinya sehingga orangtua kerap salah fokus.
Akibat perilaku demikian, orangtua dan anak malah bisa mendapat masalah baru. Dalam kasus di atas, Weni dijauhi teman-temannya. Belum lagi jika ada orangtua murid lain yang tidak terima dengan sikap orangtua Weni.
“Orangtua murid yang lain berhak membela diri dan melindungi anaknya yang ‘diserang’ oleh orangtua Weni lho,” ucap Vera.
Vera menyarankan, jika ingin membela diri, sebaiknya pakai cara yang lebih elegan dan tidak menyamakan diri dengan orangtua Weni. Ada baiknya minta pihak ketiga yang netral untuk jadi penengah.
Sebetulnya, sambung Vera, ada cara untuk menghindari perilaku seperti orangtua Weni. Salah satunya dengan membiasakan memberi kepercayaan pada anak.
“Cara lain, usahakan selalu memandang persoalan dengan tenang dan berimbang. Dengarkan cerita anak mengenai apa yang terjadi di sekolah secara utuh dan jelas. Jangan langsung memotong dan bereaksi berlebihan,” pungkas Vera.
Mendisiplinkan Anak Tanpa Kata Negatif
Namanya juga anak-anak, pasti ada saja perilakunya yang tidak sesuai keinginan kita sebagai orangtua. Bagaimana cara yang tepat agar anak mengubah perilakunya yang keliru dan tidak disiplin?
Menegur anak, menurut psikolog Naomi Soetikno, M.Pd dari Universitas Tarumanegara, bisa dilakukan dengan tegas dan jelas. Namun, hindari kata-kata negatif yang bisa menjatuhkan harga diri anak.
Kata-kata negatif seperti bodoh atau nakal, sebaiknya dihindari. Mengancam anak juga tidak dianjurkan.
"Kata-kata negatif dan cenderung menjatuhkan, atau pun intonasi suara tertentu bisa membuat anak ciut. Jika hal ini jadi kebiasaan lama-lama anak tidak memiliki rasa percaya diri dan juga konsep diri yang baik," kata Naomi.
Selain itu, orangtua juga perlu memperhatikan pilihan kata agar anak tidak rancu dalam mengartikan.
"Misalnya saat anak menumpahkan air. Jangan berkata, 'Sayang, kok tumpah sih airnya'. Kata sayang tersebut jadi rancu karena biasanya anak mendengar kata itu ketika ibunya sedang memeluk," ujarnya.
Ketika menegur anak, fokuslah pada perilakunya. Contohnya, "Adik, itu airnya tumpah, nanti kamu bisa terpeleset".
"Jadi perilakunya yang diberitahu. Dengan demikian tidak membingungkan dan juga tidak menjatuhkan rasa percaya dirinya seperti jika kita memaki-maki dia," katanya.
Semakin sering anak mendapatkan label negatif, akan semakin mengantarkan anak pada kegagalan berulang. Selain itu kondisi psikologis anak bisa terluka.
Meski demikian, memang ada kondisi tertentu yang bisa membuat orangtua kehilangan kesabarannya. Capek sepulang kerja atau ada masalah dengan pasangan, bisa membuat kita mudah marah.
"Berhadapan dengan orang lain itu seperti cermin, kita bisa mudah terpengaruh. Oleh karena itu agar tidak terpancing emosi, lakukan stabilisasi. Turunkan emosi dengan cara menarik napas, memegang benda yang ada di sekitar dan rasakan benda itu agar kembali pada kesadaran. Dengan begitu logika bisa normal lagi," sarannya.
Tingkatkan kebersamaan dengan anak agar lebih mudah memberikan komentar positif. Selalu berikan apresiasi, bukan hanya pujian tapi pada situasi konkrit yang terjadi. Misalnya, saat anak membersihkan kamarnya, beri pujian bahwa kamar yang bersih dan rapi akan membuat suasana lebih nyaman. (Kompas)