Kampung Toleransi dan Pesan Damai Natal
Saat toleransi menjadi bahan perdebatan antarkelompok di Indonesia, warga Dusun Losari RT 04/RW 04, Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang justru menunjukkan wajah toleransi.
Kampung Losari yang terdiri dari 70 kepala keluarga, memiliki komposisi pemeluk agama Islam dan Kristiani yang hampir sama. Mereka punya tradisi unik setiap hari raya Idul Fitri maupun Natal. Seperti saat Natal, mereka menggelar silaturahmi Natal.
Dalam silaturahmi Natal, warga Kristiani berdiri berjejer di sepanjang jalan kampung. Sementara warga muslim berjalan menyalami dan mengucapkan selamat Natal kepada mereka.
"Tradisi ini kami mulai sejak tahun 2.000an. Kesepakatan warga, saat Lebaran dilangsungkan halal bihalal bersama pada hari pertama. Kemudian saat Natal warga mengucapkan Natal bagi warga yang merayakannya," kata Ketua RT 04 RW 04 Losari, Sumarno, di sela Silaturahmi Natal, Senin (25/12/2017).
Sebelum acara berjabat tangan, ketua RT memberikan sambutan dalam seremonial sederhana ini. Mewakili pengurus RT dan warga, Sumarno menyampaikan ucapan sukacita atas perayaan Natal ini dan tak ketinggalan mengucapkan selamat Natal bagi warga Kristiani.
Menurut Sumarno, kegiatan Silaturahmi Natal ini bukanlah ritual peribadatan sehingga tidak ada atribut ibadah. Warga hanya saling mengucapkan selamat Natal. "Inilah kampung toleransi," tandasnya.
Perbedaan keyakinan, sambung dia, tidak menjadi penghalang bagi warganya untuk hidup berdampingan. Semua perbedaan dapat dikelola dengan baik dan warga saling menghormati perbedaan tersebut.
Hal inilah yang menjadi landasan bagi warga Kampung Losari dapat menyelenggarakan acara Silaturahmi Natal ini.
"Saya senang dan bangga mendapatkan ucapan selamat dari para tetangga muslim kami. Suasana kebersamaan seperti ini selalu kami rindukan," ucap Antonius Suharjono (49), warga pemeluk Katolik di Kampung Losari.
Ia mengungkapkan, saat umat muslim merayakan Idul Fitri, ia dan warga non muslim menjadi panitia acara halal bihalal. Demikian halnya saat Natal. Saat warga Kristiani pergi beribadah ke gereja, para warga muslim di kampung ini bahu membahu menjadi panitia Silaturahmi Natal. "Semoga warga lain bisa mencontoh yang dilakukan di sini," tuntasnya.
Kegiatan Silaturahmi Natal ini selesai menjelang adzan Dzuhur, diakhiri dengan acara ramah tamah dengan menyantap makanan yang dibawa dari rumah masing-masing.
Sementara itu, perayaan Natal di Alun-Alun Bung Karno, Senin (25/12/2017) dinihari diikuti umat kristiani dari 40 gereja se-Kota Ungaran dan sekitarnya. Misa Natal dimulai tepat setelah umat muslim menjalankan ibadah Shalat Subuh, sekitar pukul 04.30 WIB.
Pendeta Sonang Saragih dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) Langensari menjadi pengkhotbah dengan tema "Natal, Terang Dunia".
Dalam khotbahnya ia mengatakan, sebagai orang Kristen harus berbuat baik dan berperilaku baik sehingga membawa dampak yang baik bagi lingkungannya.
"Jadi anak-anak, Tuhan harus menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Itu yang menjadi terang di dunia," kata Sonang Saragih.
Ia juga menegaskan bahwa perilaku Kristiani adalah berkata jujur dan tidak melakukan korupsi. Sebab berbohong dan korupsi tidak pernah diajarkan oleh Tuhan.
"Kebenaran inilah yang harus ditegakkan menjadi pelaku firman Tuhan yang kita praktikkan dalam hidup sehari-hari, dalam pekerjaan, keluarga," tandasnya.
Kegiatan misa Natal ini berjalan dengan khidmat dengan penjagaan dan pengamanan dari aparat kepolisian, TNI, Linmas, dan Banser.
Natal Penuh Persaudaraan di Ambon
Suasana persaudaraan terlihat di sejumlah kawasan di Kota Ambon saat Perayaan Hari Natal, Senin (25/12/2017).
Banyak dari warga muslim mengunjungi kerabatnya yang merayakan Natal sambil berjabat tangan dan memberikan ucapan selamat.
Di beberapa kawasan terlihat warga yang mengenakan busana muslim mendatangi perkampungan yang sebagian besar warganya beragama Kristen seperti di kawasan Kudamati, Lateri, Mardika dan sejumlah kawasan lainnya untuk bersilaturahim dengan kerabatnya yang merayakan Natal.
Emi Hasan salah seorang warga Kebun Cengkeh, Kecamatan Sirimau kepada Kompas.com di kawasan Lateri Kecamatan Baguala megaku kebiasaan mengunjungi kerabatnya yang beragama Kristen saat perayaan Natal, sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya.
“Kita sudah semacam saudara. Setiap tahun saya selalu ke sini, tahun kemarin juga datang kesini,”kata Emi di rumah keluarga Radjabaicole yang beragama Kristen.
Emi yang datang bersama sejumlah rekannya itu tampak terlihat begitu akrab dengan kerabat yang dikunjunginya itu. Dia dan rekan-rekannya bahkan makan bersama dan tampak santai bercerita di rumah kerbatnya yang non muslim itu tanpa sedikit pun rasa cemas.
Sementara Dhila warga Galunggung yang ditemui di kawasan Poka mengaku dia bersama suaminya sejak siang telah mengunjungi beberapa rumah rekan dan kerabatnya yang merayakan Natal.
“Di Ambon saling mengunjungi saat lebaran dan Natal itu sudah menjadi tradisi, dan itulah wujud hakiki persaudaraan kami disini,”ujarnya.
Dia mengatakan saling mengunjungi disaat hari besar keagamaan bagi warga Ambon merupakan sebuah hal yang sudah berlangsung sejak lama, dankebiasaan itu hingga kini masih terus terjaga di masyarakat.
“Tidak tahu dengan daerah lain tapi di Ambon tradisinya sudah begitu, malah kalau kita tidak datang kita yang tidak enak sendiri begitupun sebaliknya saat lebaran,”akunya.
Kebiasaan saling mengunjungi saat perayaan Natal dan Idul Fitri di Kota Ambon telah menjadi tradisi selama ini. Tidak hanya saat Natal, saat lebaran tiba warga Kristiani juga banyak mengunjungi kerabatnya yang beragama muslim untuk bersilaturahim.
Sosialog IAIN Ambon, DR Abdul Manaf Tubaka mengatakan kebiasaan saling mengunjungi antarsesama umat beragama saat hari besar keagamaan merupakan wujud manisfestasi dari nilai-nilai persaudaraan orang bersaudara di Maluku.
Menurut dia tradisi yang mengakar di masyarakat Maluku tersebut telah menjadi simbol persaudaraan yang tidak dapat dipsahkan oleh sekat-sekat perbedaan apapun.
“Jadi hal ini bukan hanya sekedar toleransi semata namun telah menjadi simbol persaudaraan masyarakat di Maluku,” katanya. (Kompas)