Mengapa Para Dai Bisa Amat Populer di Media Sosial?
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i48855-mengapa_para_dai_bisa_amat_populer_di_media_sosial
Dunia internet, khususnya media sosial, tak hanya berfungsi sebagai hiburan maupun komunikasi antara keluarga atau teman. Media sosial kini bagaikan pasar malam: dikunjungi banyak sekali orang dari segala lapisan. Bahkan, para pendakwah pun turut menyebarkan syiar agama di sana.
(last modified 2026-03-10T09:59:38+00:00 )
Des 29, 2017 14:37 Asia/Jakarta

Dunia internet, khususnya media sosial, tak hanya berfungsi sebagai hiburan maupun komunikasi antara keluarga atau teman. Media sosial kini bagaikan pasar malam: dikunjungi banyak sekali orang dari segala lapisan. Bahkan, para pendakwah pun turut menyebarkan syiar agama di sana.

Hamzah Sahal, aktivis media Nahdlatul Ulama dan founder alif.id, mengamini hal itu. Menurut penuturannya, media sosial adalah sarana lanjutan dalam berdakwah.

“Watak Islam, kan, dakwah. Ia (pendakwah) akan menggunakan sarana apapun sebagai media dakwah. Media sosial akan menjadi sarana dakwah. Bukan hanya Islam, semua agama menggunakan (sarana) apapun sebagai media dakwah,” terangnya pada Tirto.

Hal senada diucapkan Wasisto Raharjo Jati, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tiga tahun terakhir, Wasisto menekuni fenomena kebangkitan kelas menengah Muslim di Indonesia.

“Itu (dakwah lewat media sosial) adalah dakwah agama yang mengggunakan media baru untuk menyampaikan ajaran agama,” terang Wasisto pada Tirto melalui telepon, Kamis (28/12/2017). Lebih lanjut ia mengungkapkan, penggunaan media sosial merupakan pemecah masalah eksistensi bagi pendakwah, terutama para pendatang baru.

“Ada problematika eksistensi. Eksis di media sosial untuk menjangkau jemaah. Kalau ingin head-to-head di ruang teologis, mereka kesulitan karena dihadang ulama NU dan Muhammadiyah,” terangnya.

Ada cukup banyak media sosial yang populer digunakan berdakwah oleh para dai di Indonesia. Salah satu yang paling lazim dipakai adalah YouTube. Di medium khusus video itu, tayangan dakwah dari berbagai ustaz sering menempati posisi trending alias yang paling laku.

radikalisme di medsos

Islam Populer & Kehausan Spiritual Masyarakat Urban

 

Kepopuleran konten-konten dakwah yang disajikan media sosial oleh para pemuka agama disebabkan terutama karena ada audience (pasar) yang memang membutuhkan. Menurut Hamzah, setidaknya ada tiga kriteria pengguna yang menyimak dakwah lewat saluran-saluran media sosial.

Pertama, pengguna yang memiliki keterbatasan waktu. Terutama karena bekerja atau aktivitas lain. Kedua, mereka yang malu datang langsung pada pemuka agama. Ini terutama disebabkan oleh umur yang menua, namun tanpa didukung kedalaman ilmu agama. Ketiga, mereka yang ingin belajar secara instan. Fenomena ini jamak terjadi dalam masyarakat kelas menengah urban. 

Wasisto mengedepankan terminologi “Islam populer” dalam karyanya bertajuk “Islam Populer Sebagai Pencarian Identitas Muslim Kelas Menengah Indonesia” yang dimuat dalam Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam (2015). Terminologi tersebut mengacu pada modernisasi terhadap nilai-nilai budaya Islam dalam masyarakat. Dengan kata lain, ia merupakan sebentuk akulturasi dunia modern dengan Islam.

Islam populer, menurut Wasisto, dijadikan strategi adaptasi oleh masyarakat muslim untuk menghadapi dinamika zaman tanpa meninggalkan identitas keislamannya.

“Islam populer bisa dimaknai dua hal: pertama syariatisasi pasar, kedua kapitalisasi Islam. Kedua perspektif membawa makna berbeda. Dakwah di media sosial itu kapitalisasi pasar, karena ada semacam adaptasi Islam terhadap pasar. Begitupun sebaliknya, bagaimana Islam beradaptasi di era modern. Makanya menggunakan ikon pop culture (seperti Youtube, Facebook, dan Twitter),” terangnya menjelaskan makna Islam populer lewat sambungan telepon.

Secara tak langsung, media sosial yang dipelopori perusahaan-perusahaan teknologi asal Barat merupakan simbol modernitas. Dan konten-konten agama yang kemudian hadir di platform modern itu merupakan bentuk akulturasi antara umat dan kemajuan zaman.

 

Komersialisasi Agama

 

Fenomena dijadikannya media sosial sebagai sarana dakwah sesungguhnya bukanlah hal yang mengherankan. Media sosial hanyalah perluasan medium dakwah. Persis seperti apa yang diungkap Hamzah di awal.

Kanal YouTube Khalid Basamalah bisa dijadikan salah satu contoh. Merujuk aplikasi SocialBlade, layanan analisis media sosial, kanal tersebut diperkirakan memperoleh pendapatan antara $421 hingga $6.700 per bulan—suatu angka yang melewati standar pendapatan rata-rata orang Indonesia.

“Dai di era sekarang itu bukan lagi seorang pendakwah, tapi marketer, motivator, dan presenter,” kata Wasisto.

Terkait aspek pendapatan dari dakwah juga bukan baru-baru ini saja terjadi melalui kapitalisasi aset-aset digital di media sosial. Jamak para pendakwah mendapatkan honor atau pengganti transport dari jemaah yang mengundangnya ceramah. Hal ini dialami dari dai kondang macam Zainuddin M.Z.. dulu hingga para kiai-kiai di kampung.

 

Radikalisasi lewat Media Sosial

 

Masih dalam artikelnya, Wasisto mengatakan terdapat dua bentuk islamisasi yang terangkum dalam kerangka Islam populer, yaitu skriptural dan substansial. Islamisasi skriptural ialah proses islamisasi dalam masyarakat yang menekankan pengajaran nilai-nilai Alquran dan hadis secara literal. Ini yang kerap ditemui pada konten-konten keagamaan di media sosial.

“Pemaknaan kesalehan kita masih simbolik. Belum menyentuh taraf substansial. Yang penting syar'i dulu,” tegas Wasisto.

Kehadiran dakwah islami dalam balutan SMS premium maupun media sosial yang dikonsumsi masyarakat kota dan berbeda sifat dibandingkan pendahulunya mengundang cukup banyak kekhawatiran. Greg Fealy dalam Ustadz Seleb, Bisnis Moral, dan Fatwa Online: Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer (2012) mengemukakan , kekhawatiran itu terkait perubahan sifat pokok Islam Indonesia dari pluralis, toleran, dan telah diindigenisasi menjadi lebih ke arab-araban, puritan, dan radikal.

Namun, di luar kekhawatiran itu, mencari ilmu agama melalui media sosial maupun internet yang baik dan benar sesungguhnya dimungkinkan. Hamzah mencontohkan bagaimana kata kunci dalam pencarian Google berperan erat pada ilmu yang akan didapat si pencari. Kata kunci yang hanya berkutat pada masalah salafi, menghasilkan rujukan-rujukan salafi semata. Perlu kedalaman dan variasi kata kunci untuk mendapat ilmu agama yang memadai melalui internet.

“Sebetulnya kalau tertib, urut, dan disiplin [dalam memaksimalkan mesin pencari], itu cukup sebetulnya. Sangat menguntungkan bagi orang yang tidak sempat datang ke guru,” tutup Hamzah. (tirto.id)