Harapan untuk Kopassus TNI AD di Usianya ke-66
-
Pasukan Kopassus TNI AD
Pengamat militer, Susaningtyas NH Kertopati, mengharapkan prajurit Komando Pasukan Khusus TNI AD harus memiliki kemampuan untuk menghadapi perang proksi yang kini telah menyebar ke seluruh dunia.
"Perang proksi yang kini menyebar di seluruh dunia juga harus menjadi pengetahuan yang dikuasai prajurit Kopassus," kata Susaningtyas, di Jakarta, menanggapi peringatan HUT ke-66 Kopassus TNI AD, Senin ini.
Pasukan khusus yang dibentuk Mayor Idjon Djanbi (terlahir Rokus Bernardus Visser) pada 1952 ini memang dilengkapi dengan kemampuan khusus di bidang militer dan intelijen.
Menurut Nuning, sapaan Susaningtyas, seiring dengan pergeseran ancaman yang dihadapi pasukan khusus militer secara global, Kopassus TNI AD perlahan tapi pasti bermetamorfosa menjadi pasukan khusus yang tetap memiliki ketangkasan dan kehebatan khusus militer juga operasi sandi yudha tetapi lebih humanis dan strategis.
"Kemampuan intelijen sandhi yudha yang dimiliki sebagai kemampuan menghadapi perang modern dan asimetrik," tandas mantan anggota Komisi I DPR itu.
Sandi yudha sebagai suatu operasi intelijen dalam tubuh Kopassus TNI AD, ujar dia, kini dituntut lebih piawai dalam melaksanakan operasi yang bersifat pencegahan, preemptif, dan cipta kondisi.
"Terlebih, saat ini terorisme dan radikalisme merupakan ancaman faktual yang harus kita waspadai dan ditangani secara holistik hingga ke tingkat embrio," tuturnya.
Kopassus TNI AD telah berusia 66 tahun. Berbicara komando pasukan khusus ini, tidak bisa lepas dari kehadiran Komandan Teritorium III/Siliwangi, Kolonel Alex Evert Kawilarang, yang bersama teman seperjuangannya, Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi, memikirkan kehadiran kesatuan berkekuatan personel kecil namun lincah dan punya kualifikasi di atas pasukan reguler guna mematahkan pergerakan pasukan-pasukan pemberontak di dalam negeri.
Pada masa itu, dasawarsa '50-an, gerakan pemberontakan di dalam negeri tidak kurang jumlahnya dan seperti susul-menyusul dengan berbagai latar belakang penyebab dan kepentingan. Adalah TNI yang ditugaskan pemerintahan Presiden Soekarno untuk menghadapi mereka. Di Teritorium III/Siliwangi, mereka menghadapi gerombolan DI/TII yang dipimpin Sekarmadji Kartosuwiryo.
Kawilarang kemudian menemukan seorang bekas perwira Korps Speciale Troepen Kerajaan Belanda, Visser, dan meminta dia menjadi pelatih "pasukan khusus" yang sedang dia bidani. Visser bersedia, sampai akhirnya terbentuklah cikal-bakal Kopassus TNI AD, yaitu sejak dia dinamakan Kesatuan Komando Teritorium III/Siliwangi (16 April 1952-18 Maret 1953).
Lalu dia berubah nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (18 Maret 1953-25 Juli 1955), Resimen Para Komando Angkatan Darat (25 Juli 1955-12 Desember 1966), Pusat Pasukan Khusus AD (12 Desember 1966-17 Februari 1971), Komando Pasukan Sandi Yudha TNI AD (17 Februari 1971-26 Desember 1986), dan kemudian menjadi Komando Pasukan Khusus TNI AD sejak 26 Desember 1986 itu.
Sejak dia dibentuk pada 1952 hingga kini, baret yang dikenakan tetap sama, yaitu baret berwarna merah darah. Visser yang adalah veteran Perang Dunia II dan pernah terlibat pada beberapa operasi besar Sekutu, pernah memimpin pasukan ini pada 1952-1956, dengan pangkat terakhir mayor infantri.
Sementara itu, Komandan Komando Pasukan Khusus TNI AD, Mayor Jenderal TNI Eko Margiyono, menegaskan, Kopasus TNI AD harus beradaptasi dengan perubahan zaman agar tidak tergerus zaman. Dia baru menjalani proses penyerahan satuan dari senior yang dia gantikan, Mayor Jenderal TNI Madsuni.
"Kalau Kopassus tidak pernah mau beradaptasi dengan perubahan zaman maka suatu saat kita akan dilindas oleh zaman," kata Margiyono, usai upacara itu, di Markas Komando Kopassus TNI AD, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat.
Menurut dia, salah satu ancaman itu adalah ancaman siber, yang saat ini kian nyata; oleh karena itu prajurit Kopassus TNI AD juga harus mampu mengantisipasi hal itu.
"Sekali lagi, bukan hanya Kopassus (TNI AD), bagian-bagian lain juga menangani yang berkaitan dengan siber. Hoaks itu hanya satu bagian daripada serangan yang berkaitan dengan siber," ujar dia.
Sementara itu, Madsuni menerangkan, Kopassus TNI AD terus mengembangkan kemampuan dan keterampilan prajuritnya. Di antaranya mengembangkan Satuan Siber Kopassus TNI AD untuk menghadapi perang asimetris ke depan.
"Saat ini Kopasus TNI AD sedang giat mengembangkan kembali kemampuan dan keterampilan prajurit," ujar Madsuni.
Kemampuan itu, di antaranya kemampuan perang hutan dan pertempuran kota. Kemampuan dasar yang harus dimiliki seluruh prajurit Kopassus TNI AD itu dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan.
"Selain itu, untuk mendukung keberhasilan satuan, kita juga sedang membentuk dan mengembangkan Satuan Siber Kopassus dalam rangka menghadapi perang asimetris," kata Madsuni, yang saat ini menjadi panglima Kodam XIII/Merdeka, di Manado, Sulawesi Utara. (Antaranews)