Talaie-Nik: Sistem Internasional Gagal Menghadapi Negara Agresor
-
Brigadir Jenderal Reza Talaie-Nik, Direktur Pengembangan Manajemen dan Perencanaan Strategis Kementerian Pertahanan Iran
Pars Today - Direktur Pengembangan Manajemen dan Perencanaan Strategis Kementerian Pertahanan serta Dukungan bagi Angkatan Bersenjata Iran menegaskan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz setelah berakhirnya perang akan dilakukan sesuai dengan protokol-protokol yang ditetapkan Iran.
Sebagaimana dilaporkan Pars Today, 29 April 2026, Brigadir Jenderal Reza Talaie-Nik, Direktur Pengembangan Manajemen dan Perencanaan Strategis Kementerian Pertahanan serta Dukungan bagi Angkatan Bersenjata Iran, dalam pertemuan para menteri pertahanan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) menyatakan bahwa sebagaimana diketahui, Republik Islam Iran sebagai anggota dan bagian dari organisasi ini, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, mengalami dua kali serangan dan agresi ilegal oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis, yakni pada Juni 2025 dan Februari 2026. Agresi-agresi tersebut telah menyebabkan kawasan Asia Barat terjerumus ke dalam ketidakamanan dan krisis, sehingga lingkungan politik-keamanan sistem internasional akan terpengaruh selama beberapa dekade mendatang.
Jenderal Talaie-Nik menegaskan bahwa bangsa Iran yang berperadaban besar, sepanjang sejarah panjangnya, tidak pernah bersedia menerima dominasi dan eksploitasi oleh kekuatan mana pun, dan juga tidak pernah berupaya menguasai atau menjajah negara mana pun.
Dalam pertemuan tersebut, ia juga menyampaikan terkait kondisi Selat Hormuz bahwa kelancaran arus lalu lintas armada komersial melalui selat tersebut setelah berakhirnya perang akan menjadi prioritas, asalkan tetap mematuhi protokol-protokol yang tidak membahayakan keamanan Iran.
Jenderal Talaie-Nik menjelaskan bahwa Republik Islam Iran dalam sejarah kontemporernya selalu bertindak sebagai titik keseimbangan di kawasan demi mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan keamanan yang berkelanjutan. Sebagai salah satu contoh nyata, ia menyebutkan lebih dari satu dekade perjuangan melawan terorisme dan keberhasilan mengalahkan ISIS di Asia Barat melalui kerja sama dengan Federasi Rusia, serta pemulihan kembali stabilitas dan keamanan di kawasan tersebut.
Ia selanjutnya menegaskan bahwa perkembangan terkini sekali lagi mengungkap kegagalan struktur dan sistem internasional dalam melaksanakan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta dalam menghadapi negara-negara agresor.
Di akhir pernyataannya, Jenderal Talaie-Nik menegaskan bahwa perang ini membuat dunia dengan jelas mendengar suara patahnya tulang punggung unilateralisme dan kediktatoran global. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kemunduran akhir sistem hegemonik serta terciptanya sistem multirasional yang berbasis keadilan dan martabat bangsa-bangsa adalah hal yang dapat diwujudkan. Sebagai momentum bersejarah, ia mengajak bangsa-bangsa independen di dunia untuk melampaui keraguan, berada pada posisi tengah yang tepat, dan berdiri di sisi sejarah yang benar.(sl)