Piala Dunia 2026: Ketika Geopolitik Masuk ke Lapangan
-
Piala Dunia 2026
Pars Today - Sebuah think tank Amerika menulis: perang terhadap Iran, kebijakan migrasi ketat, dan pembatasan perjalanan pemerintah Trump telah menggandakan pentingnya dan sensitivitas kompetisi sepak bola Piala Dunia musim panas tahun ini.
Melansir IRNA pada hari Minggu, 7 Juni 2026, Council on Foreign Relations dalam sebuah analisis menulis, slogan terkenal Federasi Sep Bola Internasional (FIFA), badan pengatur sepak bola dunia, adalah "Sepak bola menyatukan dunia". Namun Piala Dunia sepak bola putra musim panas tahun ini dimulai ketika selain kompetisi olahraga, ketegangan geopolitik juga menjadi pusat perhatian.
Ini adalah Piala Dunia pertama yang diselenggarakan oleh tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, hubungan AS dengan dua tetangganya pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump telah mengalami ketegangan terkait masalah perdagangan, migrasi, dan kebijakan perbatasan, sebuah situasi yang merupakan perubahan signifikan dibandingkan ketika ketiga negara ini merencanakan tuan rumah bersama pada tahun 2017.
Tanda kecepatan perkembangan adalah bahwa pemerintah AS hanya beberapa minggu sebelum dimulainya kompetisi, membatalkan kewajiban jaminan sebesar 15.000 dolar untuk penerimaan visa yang mempengaruhi pendukung dari lima negara Afrika. Di sisi lain, di tengah perang yang sedang berlangsung terhadap Iran, FIFA mengizinkan tim nasional Iran memindahkan kamp latihan utamanya dari AS ke Meksiko. Meskipun federasi ini mengkonfirmasi bahwa tim Iran akan melintasi perbatasan AS sesuai jadwal untuk melakukan pertandingan babak grup, para pemain tim ini hingga hari-hari menjelang pembukaan masih menunggu penerimaan visa.
Dampak Pembatasan Perjalanan Trump pada Kehadiran Penonton
Pemerintah Donald Trump awal tahun ini memberlakukan larangan perjalanan yang membatasi masuk warga negara dari 39 negara secara penuh atau sebagian ke AS. Pemerintah ini secara bertahap memperluas cakupan pembatasan, termasuk menghentikan proses penerbitan visa imigrasi untuk 75 negara.
Empat negara yang timnya telah lolos ke Piala Dunia berada dalam daftar pembatasan perjalanan pemerintah Trump. Haiti dan Iran menghadapi larangan masuk penuh, sementara Pantai Gading dan Senegal menghadapi pembatasan parsial. Akibatnya, pendukung negara-negara ini tidak dapat hadir dalam pertandingan yang diselenggarakan di tanah AS, kecuali mereka adalah penduduk tetap AS atau memiliki kewarganegaraan ganda dari negara yang tidak berada dalam daftar larangan perjalanan.
Negara-negara lain yang telah lolos ke Piala Dunia juga berada dalam daftar penangguhan penerbitan visa pemerintah Trump, termasuk Mesir, Ghana, Yordania, Maroko, Uruguay, dan Uzbekistan. Tentu saja, pembatasan ini hanya mencakup visa imigrasi.
Bagi pendukung yang dapat melewati hambatan hukum untuk masuk ke AS, biaya akan menjadi tantangan lain. Selain tiket pertandingan tahun ini dianggap yang paling mahal dalam sejarah Piala Dunia, perang melawan Iran juga telah menyebabkan lonjakan harga tiket pesawat.
Bagaimana Kondisi Keamanan Selama Pertandingan?
Beberapa aspek kompetisi Piala Dunia 2026 telah diperiksa dari sudut pandang ancaman keamanan potensial:
Laporan keamanan rahasia pejabat AS dan FIFA yang diakses kantor berita Reuters pada 20 Maret, memperingatkan bahwa kemungkinan serangan oleh kelompok ekstremis terhadap pertandingan, program pendukung, atau infrastruktur transportasi telah meningkat.
Risiko kerusuhan sipil juga meningkat akibat eskalasi ketegangan terkait kebijakan migrasi Donald Trump dan perang terhadap Iran. Sementara itu, kekerasan yang terkait dengan kartel narkoba di Meksiko telah mempengaruhi salah satu kota tuan rumah dalam bulan-bulan menjelang dimulainya kompetisi.
Sejak Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengumumkan bahwa Administrasi Imigrasi dan Bea Cukai akan memainkan peran "kunci" dalam menjamin keamanan Piala Dunia, banyak pertanyaan muncul tentang tingkat kehadiran dan wewenang lembaga ini selama kompetisi.
Ini mungkin mengkhawatirkan bagi beberapa negara peserta. Jerman dan Inggris telah memperingatkan warganya untuk berhati-hati bepergian ke AS karena cara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menerapkan hukum migrasi. Ekuador juga telah mengutuk operasi penangkapan imigran oleh Administrasi Imigrasi dan Bea Cukai AS.
Selain ketegangan politik dan keamanan, kondisi cuaca juga dapat menjadi salah satu tantangan utama bagi kesehatan pemain. Beberapa kota tuan rumah, termasuk Los Angeles dan Mexico City, berada di daerah dengan risiko tinggi cedera akibat panas ekstrem.
Apakah Ada Risiko Boikot Piala Dunia?
Diskusi tentang boikot Piala Dunia 2026 telah diangkat oleh pelatih sepak bola, politisi, dan warga biasa; bahkan presiden dua puluh federasi sepak bola Eropa telah membicarakannya, tetapi tidak ada dari upaya ini yang akhirnya mengarah pada tindakan praktis.
Namun, kemungkinan boikot oleh individu atau kelompok pendukung lebih besar. Laporan telah diterbitkan yang menunjukkan bahwa beberapa penonton telah menjual tiket mereka. Harian Los Angeles Times melaporkan bahwa FIFA juga mendapat untung dari transaksi ini, karena menerima komisi 15 persen dari penjual dan pembeli.
Piala Dunia 2026 mempertemukan tiga negara dengan hubungan yang tegang di bawah kepemimpinan Trump. Ketidakpastian visa, harga yang meroket, dan ancaman keamanan telah mengubah pesta olahraga terbesar di dunia menjadi panggung ketegangan global yang rumit. Pertanyaan apakah sepak bola benar-benar dapat menyatukan dunia kini diuji oleh realitas pahit geopolitik dan kebijakan domestik.
Mereka ingin menjadikan Piala Dunia sebagai panggung persatuan. Namun, satu per satu, tembok kebijakan dan perang mengubahnya menjadi arena perpecahan. Iran kesulitan mendapatkan visa, Haiti dan Senegal dilarang masuk, dan ancaman keamanan meningkat. Ketika tuan rumah tidak ramah dan bola mulai bergulir, yang memanas bukan hanya lapangan, tetapi juga ketegangan di tribun penonton.(Sail)