Tanker AS Kabur dari Qatar dan Yordania; Kini Mengumpul di Israel
https://parstoday.ir/id/news/iran-i193446-tanker_as_kabur_dari_qatar_dan_yordania_kini_mengumpul_di_israel
Pars Today - Pesawat-pesawat tanker Amerika dipindahkan ke Palestina yang diduduki karena ketakutan akan serangan Iran.
(last modified 2026-07-20T11:38:12+00:00 )
Jul 20, 2026 18:36 Asia/Jakarta
  • Pesawat tanker AS
    Pesawat tanker AS

Pars Today - Pesawat-pesawat tanker Amerika dipindahkan ke Palestina yang diduduki karena ketakutan akan serangan Iran.

Sebagaimana dilaporkan Pars Today, 20 Juli 2026, menyusul pukulan-pukulan telak Iran, dalam sebuah langkah yang menunjukkan mundurnya Pentagon secara terang-terangan, pesawat-pesawat tanker Amerika dipindahkan ke Palestina yang diduduki karena ketakutan akan serangan Iran.

Seorang sumber militer yang mengetahui masalah ini, dalam wawancara dengan Defa Press, merujuk pada pukulan-pukulan berat yang dilancarkan angkatan bersenjata Iran terhadap musuh agresor Amerika dalam beberapa hari terakhir, menyatakan, "Serangan Jumat (17/7) malam angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di Al-Udeid, Qatar, Al-Kharj, Arab Saudi, dan Al-Azraq, Yordania, mengakibatkan hancurnya atau rusaknya sejumlah pesawat tanker Amerika."

Menyusul kejadian ini, para komandan tentara teroris AS, dalam sebuah kemunduran yang terang-terangan, memindahkan sejumlah tanker yang selamat dari serangan ke Bandara Ben Gurion di Wilayah Pendudukan. Setelah kemunduran ini, penumpukan tanker di bandara tersebut dapat menjadi target yang baik bagi pasukan Perlawanan.

Iran telah berhasil dalam beberapa hari terakhir melancarkan pukulan-pukulan yang efektif dan telak terhadap pasukan dan peralatan AS di pangkalan-pangkalan militer AS di Asia Barat, termasuk Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Yordania. Tentu saja, para pakar Barat mengklaim bahwa penempatan luas pesawat-pesawat tanker AS di Palestina yang diduduki berakar pada dua faktor utama: pencegahan defensif terhadap serangan rudal dan drone Iran, dan persiapan ofensif untuk kemungkinan operasi militer skala besar.

Dalam hal ini, dengan meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran, Pentagon telah menyimpulkan bahwa pangkalan-pangkalan udara AS di kawasan, terutama di Qatar dan Bahrain, berada dalam jangkauan serangan roket, rudal, dan drone Iran. Oleh karena itu, pemindahan pesawat-pesawat tanker yang merupakan aset berharga, bermanuver terbatas, dan vital untuk setiap operasi udara ke tempat yang lebih aman dianggap sebagai langkah defensif yang penting.

Menurut laporan, beberapa unit pesawat tanker KC-135 telah dipindahkan dari Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar—pangkalan militer AS terbesar di Asia Barat—ke Pangkalan Ovda di selatan Palestina yang diduduki. Puluhan unit lainnya juga ditempatkan di Bandara Internasional Ben Gurion dan Bandara Ramon.

Menurut para analis, Palestina yang diduduki memiliki keamanan udara dan pertahanan udara yang lebih efektif dibandingkan negara-negara lain di kawasan, dan hal ini menjadikannya pilihan yang tepat untuk menjadi tuan rumah armada ini.

Poin pentingnya adalah, meskipun penempatan pesawat-pesawat tanker menunjukkan aliansi dan koordinasi militer yang erat antara AS dan rezim Zionis, hal ini juga telah menimbulkan masalah bagi rezim tersebut. Di antaranya adalah kehadiran puluhan pesawat tanker berat di bandara yang saat ini juga menghadapi lalu lintas penumpang musim panas dan turis, telah menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan secara luas, serta meningkatkan tekanan politik pada kabinet Netanyahu menjelang pemilihan parlemen.

Faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa peningkatan signifikan jumlah pesawat tanker AS di kawasan menjadi sekitar 60 unit dinilai lebih dari sekadar langkah defensif. Pesawat tanker dianggap sebagai faktor proyeksi kekuatan angkatan udara, tanpa mereka, jet tempur dan pembom tidak dapat melakukan misi jarak jauh dan berkelanjutan.

Dengan penempatan armada ini di Palestina yang diduduki, jet tempur AS dan mungkin rezim Zionis akan mampu mencapai target di kedalaman wilayah Iran, termasuk fasilitas nuklir, pembangkit listrik, fasilitas bawah tanah, dan sistem pertahanan udara, dengan jangkauan operasional yang jauh lebih luas. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan pengkajian opsi-opsi militer yang lebih luas oleh Gedung Putih, dan menunjukkan kesiapan untuk eskalasi konflik jika diperlukan.

Pada saat yang sama, peningkatan signifikan jumlah pesawat tanker AS di kawasan dianggap sebagai tanda eskalasi permusuhan dari pihak AS dan kemungkinan kesiapan mereka untuk serangan udara skala besar, dan telah memicu reaksi Iran dengan ancaman respons militer terhadap fasilitas AS di kawasan.(Sail)