Bukan Yunani atau Italia; Belanda Paling Banyak Keluarga Berutang di Eropa
-
Uang euro
Pars Today - Data terbaru Eurostat menunjukkan bahwa, bertentangan dengan anggapan umum, utang rumah tangga tertinggi di Uni Eropa tidak tercatat di negara-negara selatan benua ini, melainkan di negara-negara kaya di utara dan barat Eropa.
Sebagaimana dilaporkan ISNA, 22 Juli 2026, utang rumah tangga di Uni Eropa pada tahun 2025 setara dengan 49,4 persen dari PDB, dan di zona euro sebesar 50,7 persen, angka yang terus menurun sejak tahun 2020.
Utang rumah tangga mencakup pinjaman perumahan, pinjaman konsumen, dan kewajiban keuangan rumah tangga lainnya. Mengukur utang ini sebagai persentase dari PDB memungkinkan perbandingan antarnegara dan menunjukkan seberapa besar volume utang rumah tangga dibandingkan dengan ukuran ekonomi masing-masing negara. Namun, indikator ini tidak menunjukkan jumlah utang per rumah tangga, melainkan memberikan gambaran umum tentang status utang dalam suatu perekonomian.
Tingkat utang yang tinggi bukanlah tanda kelemahan ekonomi. Negara-negara dengan pasar pinjaman perumahan yang maju, tingkat kepemilikan rumah yang tinggi melalui pinjaman, atau sistem keuangan yang canggih biasanya mengalami rasio utang yang lebih tinggi. Namun, jika utang rumah tangga meningkat terlalu tinggi, hal itu dapat menjadi faktor risiko pada saat resesi ekonomi.
Komisi Eropa menetapkan rasio utang rumah tangga di atas 55 persen dari PDB sebagai ambang batas di mana pinjaman rumah tangga dapat menjadi risiko bagi stabilitas makroekonomi. Alasan penilaian ini adalah bahwa pengalaman historis menunjukkan bahwa krisis kredit lebih sering bersumber dari akumulasi utang sektor swasta daripada utang pemerintah. Contoh nyata dari hal ini adalah krisis keuangan global 2008, yang akarnya terletak pada meningkatnya utang dan masalah neraca rumah tangga, bukan utang pemerintah.
Salah satu temuan terpenting dari laporan ini adalah kesenjangan yang jelas antara utara dan selatan Eropa. Tujuh negara Uni Eropa memiliki rasio utang rumah tangga di atas 55 persen dari PDB, dan semuanya terletak di utara atau barat Eropa. Sebaliknya, rasio utang rumah tangga di Italia adalah 35,9 persen, Yunani 38 persen, dan Spanyol 42,9 persen dari PDB, semuanya berada di bawah rata-rata Uni Eropa sebesar 49,4 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun negara-negara ini dulu dikenal dengan krisis utang pemerintah, rumah tangga mereka meminjam dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan negara-negara Eropa utara.
Berdasarkan laporan ini, Belanda dengan rasio utang 93,5 persen dari PDB memiliki rumah tangga paling berutang di Eropa. Setelah itu, Denmark dengan 84,1 persen dan Swedia dengan 82,3 persen. Finlandia (62,9 persen), Luksemburg (60,5 persen), Prancis (59,5 persen), Belgia (56,4 persen), Siprus (54,2 persen), Portugal (53,9 persen), dan Jerman (49 persen) berada di peringkat berikutnya.
Di sebagian besar negara dengan utang rumah tangga yang tinggi, sebagian besar utang ini berasal dari pinjaman perumahan, tetapi faktor-faktornya berbeda di setiap negara. Belanda, dengan pembebasan pajak bunga pinjaman perumahan dan kemungkinan mendapatkan pinjaman hingga nilai penuh properti, memiliki rasio utang tertinggi. Denmark dan Luksemburg, meskipun memiliki utang yang tinggi, memiliki aset keuangan, tabungan pensiun, dan kekayaan rumah tangga yang signifikan, yang mengurangi risiko yang timbul dari utang.
Di Swedia, Portugal, dan sampai batas tertentu Belgia, pinjaman perumahan memainkan peran utama dalam meningkatkan utang rumah tangga, meskipun di Swedia dan Portugal, tingginya proporsi pinjaman dengan suku bunga mengambang membuat rumah tangga lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga.
EuroNews melaporkan bahwa di Finlandia, selain pinjaman perumahan, pinjaman perusahaan konstruksi juga menyumbang porsi signifikan terhadap utang rumah tangga. Prancis dan Belgia, dengan mengandalkan pinjaman yang sebagian besar bersuku bunga tetap dan aturan pemberian pinjaman yang ketat, telah berupaya mengendalikan risiko utang. Di Siprus, sebagian besar utang rumah tangga masih terkait dengan pinjaman bermasalah dari masa lalu, sementara Jerman, karena tingkat kepemilikan rumah yang rendah dan pasar sewa yang luas, memiliki rasio utang rumah tangga yang mendekati rata-rata Uni Eropa.(Sail)