Dari Bertahan ke Menyerang; Era Baru Perlawanan Yaman di Laut Merah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i193486-dari_bertahan_ke_menyerang_era_baru_perlawanan_yaman_di_laut_merah
Pars Today - Perkembangan terkini menunjukkan bahwa perang Yaman bukan lagi sekadar krisis internal atau bahkan konfrontasi bilateral antara Sanaa dan Riyadh, tetapi telah menjadi bagian dari persaingan geopolitik di Asia Barat.
(last modified 2026-07-21T08:44:34+00:00 )
Jul 21, 2026 15:39 Asia/Jakarta
  • Selat Hormuz dan Bab Al-Mandab
    Selat Hormuz dan Bab Al-Mandab

Pars Today - Perkembangan terkini menunjukkan bahwa perang Yaman bukan lagi sekadar krisis internal atau bahkan konfrontasi bilateral antara Sanaa dan Riyadh, tetapi telah menjadi bagian dari persaingan geopolitik di Asia Barat.

Melansir Mehr News, 21 Juli 2026, Yaman selama hampir 12 tahun telah berada di bawah blokade laut, darat, dan udara oleh koalisi pimpinan Arab Saudi. Sebuah blokade yang, menurut pengakuan organisasi-organisasi internasional, merupakan salah satu faktor terpenting dalam terbentuknya krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Selama bertahun-tahun, Arab Saudi berupaya, dengan memanfaatkan superioritas udara, mengendalikan pelabuhan, dan membatasi masuknya barang dan bahan bakar, untuk menguras kemampuan ekonomi dan militer Yaman serta memaksa Sanaa menerima tuntutannya. Namun kini, setelah lebih dari satu dekade, tampaknya persamaan sedang berubah.

Pengumuman resmi "blokade laut Arab Saudi" oleh pasukan bersenjata Yaman menandakan peralihan perang dari fase pertahanan terhadap blokade ke fase penerapan pencegahan timbal balik, sebuah fase yang dapat memiliki konsekuensi melampaui perang Yaman.

Dalam kerangka ini, Yahya Saree, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, dengan mengumumkan dimulainya implementasi persamaan "blokade balas blokade", menegaskan bahwa Arab Saudi selama hampir 12 tahun telah memberlakukan blokade zalim terhadap rakyat Yaman dan menjarah sumber daya negara ini. Ia menyatakan bahwa situasi ini tidak lagi dapat ditoleransi, dan mulai sekarang blokade laut terhadap Arab Saudi akan memasuki fase implementasi. Saree juga memperingatkan bahwa setiap eskalasi tindakan dari Riyadh akan dihadapi dengan "eskalasi menyeluruh" dari pasukan Yaman, dan pasukan bersenjata Yaman telah siap sepenuhnya untuk semua skenario.

Akhir Era Pencegahan Sepihak

Apa yang membedakan pengumuman ini dari banyak pernyataan sebelumnya adalah upaya jelas Yaman untuk mengubah aturan pencegahan. Pada tahun-tahun awal perang, Arab Saudi memiliki posisi militer dan maritim yang unggul, dan mengira dapat mengelola perang melalui blokade ekonomi dan serangan udara tanpa harus membayar biaya yang serius. Namun, pengalaman tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa Sanaa secara bertahap telah berhasil mengembangkan kemampuan rudal, drone, dan maritimnya, serta memperluas jangkauan operasinya dari kedalaman tanah Arab Saudi hingga Laut Merah dan jalur-jalur perairan strategis.

Faktanya, strategi baru Yaman didasarkan pada prinsip bahwa jika ekonomi dan kehidupan rakyat Yaman berada di bawah tekanan blokade, maka ekonomi dan keamanan energi Arab Saudi juga tidak boleh kebal dari konsekuensi perang. Inilah logika yang disebut Yahya Saree sebagai "blokade balas blokade", sebuah persamaan yang mengalihkan biaya perang dari satu pihak ke kedua belah pihak.

Pentingnya Geopolitik Laut Merah

Laut Merah bukan sekadar hamparan air. Ia adalah salah satu jalur perdagangan global terpenting. Sebagian besar perdagangan antara Asia dan Eropa, ekspor energi negara-negara Arab, dan lalu lintas kapal tanker dilakukan melalui jalur ini. Setiap ketidakamanan di kawasan ini akan segera berdampak pada biaya transportasi laut, harga asuransi kapal, dan pasar energi global.

Karena itu, jika Yaman dapat mengubah ancamannya menjadi tindakan praktis, tidak hanya Arab Saudi yang akan menjadi sasaran, tetapi seluruh persamaan keamanan Laut Merah akan memasuki fase baru. Bahkan tanpa penghentian total lalu lintas kapal, peningkatan risiko keamanan dapat memaksa perusahaan pelayaran dan asuransi untuk mengubah rute atau menaikkan biaya—sebuah masalah yang pada akhirnya akan memberikan tekanan ekonomi langsung pada Riyadh dan sekutunya.

Peralihan Perang dari Darat ke Ekonomi

Ciri penting dari perkembangan ini adalah bahwa medan perang, lebih dari sebelumnya, bergeser dari geografi militer ke ranah ekonomi. Pengalaman perang kontemporer menunjukkan bahwa konflik mencapai titik pencegahan ketika pihak lawan merasa bahwa biaya ekonomi perang telah melebihi keuntungannya.

Arab Saudi selama bertahun-tahun telah menghabiskan miliaran dolar untuk perang Yaman, tetapi pada saat yang sama berupaya menjaga keamanan ekspor minyak, pelabuhan, dan jalur perdagangannya. Sekarang, jika komponen ini juga memasuki arena konfrontasi, biaya kelanjutan perang bagi Riyadh akan meningkat secara signifikan.

Pencegahan Jaringan Poros Perlawanan

Pengumuman blokade laut Arab Saudi tidak dapat dianalisis secara terpisah dari perkembangan yang lebih luas di kawasan. Dalam beberapa tahun terakhir, para aktor poros perlawanan berupaya, dengan mengandalkan posisi geopolitik mereka, untuk menciptakan semacam pencegahan jaringan, pencegahan yang dibentuk berdasarkan penyebaran geografis dan berbagai titik tekanan.

Yaman, dengan penguasaannya atas Bab al-Mandab dan sebagian besar Laut Merah, dianggap sebagai salah satu mata rantai terpenting dalam jaringan ini. Dalam kondisi seperti itu, setiap eskalasi ketegangan di kawasan dapat secara bersamaan memengaruhi beberapa jalur strategis, sebuah masalah yang membuat perhitungan militer dan ekonomi pihak lawan menjadi lebih rumit.

Dari perspektif ini, tindakan terbaru Sanaa bukan sekadar keputusan militer, tetapi bagian dari proses di mana kendali atas jalur-jalur perairan strategis telah menjadi salah satu alat pencegahan terpenting di Asia Barat.

Persamaan Baru di Kawasan

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa perang Yaman bukan lagi sekadar krisis internal atau bahkan konfrontasi bilateral antara Sanaa dan Riyadh, tetapi telah menjadi bagian dari persaingan geopolitik di Asia Barat. Pentingnya perkembangan ini menjadi lebih jelas ketika dianalisis bersama dengan komponen-komponen kekuatan regional lainnya. Dari sudut pandang banyak pengamat, semakin besar kemampuan para aktor regional untuk memengaruhi jalur-jalur vital perdagangan dan energi, semakin tinggi pula biaya setiap tindakan militer atau tekanan eksternal.

Dalam kerangka ini, tindakan terbaru Yaman dapat menunjukkan terbentuknya fase baru pencegahan regional, sebuah fase di mana persamaan tidak lagi ditentukan hanya oleh superioritas udara atau kemampuan militer klasik, tetapi keamanan jalur air, jalur pelayaran, ekspor energi, dan ekonomi global juga telah menjadi bagian dari arena pencegahan.

Jika tren ini berlanjut, Asia Barat akan memasuki periode di mana setiap petualangan militer terhadap para aktor kawasan tidak hanya terbatas pada medan perang, tetapi konsekuensinya dapat mempengaruhi seluruh jaringan perdagangan dan energi di kawasan. Dari perspektif ini, pengumuman "blokade balas blokade" harus dinilai lebih dari sekadar ancaman militer,sebagai tanda perubahan keseimbangan pencegahan dan awal dari babak baru persaingan geopolitik di kawasan.(Sail)