Pasukan Quds Iran: AS Lakukan Dua Kesalahan Besar di Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i19120-pasukan_quds_iran_as_lakukan_dua_kesalahan_besar_di_kawasan
Wakil Komandan Pasukan Quds Iran, mengatakan tindakan para pembela Haram (tempat suci) bukan hanya mempertahankan Haram, tetapi membela seluruh kemanusiaan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 30, 2016 06:00 Asia/Jakarta
  • Pasukan Quds Iran: AS Lakukan Dua Kesalahan Besar di Kawasan

Wakil Komandan Pasukan Quds Iran, mengatakan tindakan para pembela Haram (tempat suci) bukan hanya mempertahankan Haram, tetapi membela seluruh kemanusiaan.

"Jika para teroris takfiri bangkit, mereka tidak akan mengasihani siapa pun dari anak manusia bahkan Ahlu Sunnah," kata Brigadir Jenderal Hamid Mokhtas Abadi dalam pidatonya di kota Qom, Senin (29/8/2016) sore, seperti dikutip IRNA.

Menurutnya, jika para teroris takfiri menemukan ruang, mereka akan membuat Eropa berdarah dan negara-negara Barat perlu tahu bahwa jika bukan karena perjuangan para pembela Haram, maka banyak dari ibukota negara-negara Eropa sekarang telah menjadi basis teroris.

"Amerika Serikat perlu mengetahui bahwa mayoritas medali pembela nilai-nilai kemanusiaan dan penumpas terorisme harus diberikan kepada para pembela Haram dan Eropa juga berutang budi kepada para pejuang ini," tegas Brigjend Mokhtas Abadi.

Para pembela Haram, lanjutnya, telah menggagalkan semua konspirasi rumit yang dirancang oleh musuh di wilayah Timur Tengah.

"AS melakukan dua kesalahan besar di kawasan dalam beberapa dekade terakhir, di mana keduanya telah memantik perlawanan. Pertama berhubungan dengan peristiwa pasca 11 September dan serangan ke Afghanistan, dan kedua pembentukan kelompok teroris Daesh," jelas Brigjend Mokhtas Abadi.

"Ketika kami berkata Daesh buatan AS, ini bukan slogan. Capres AS sudah membocorkannya bahwa mereka membentuk Daesh," tambahnya.

"Keberadaan Daesh mendorong kaum Muslim dari berbagai suku bangsa untuk bersatu dan terjun ke medan untuk membela garis perlawanan dan menorehkan heroisme," tandas Brigjend Mokhtas Abadi. (RM)