Foreign Policy: Perang Hancurkan Hegemoni AS, Eropa Kini Jauhi Washington
https://parstoday.ir/id/news/world-i188876-foreign_policy_perang_hancurkan_hegemoni_as_eropa_kini_jauhi_washington
Pars Today - Majalah Foreign Policy memperingatkan bahwa perang agresif AS dan Israel terhadap Iran telah menjadi titik balik bagi melemahnya persatuan Barat.
(last modified 2026-04-23T16:40:50+00:00 )
Apr 23, 2026 23:37 Asia/Jakarta
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan NATO
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan NATO

Pars Today - Majalah Foreign Policy memperingatkan bahwa perang agresif AS dan Israel terhadap Iran telah menjadi titik balik bagi melemahnya persatuan Barat.

Melaporkan dari ISNA, Pars Today pada Kamis, 23 April 2026, Foreign Policy menulis bahwa perang terhadap Iran bukan sekadar konflik regional, tetapi titik balik geopolitik yang telah secara fatal memicu keruntuhan tatanan internasional yang didominasi AS.

Analisis ini menegaskan bahwa perang yang dipaksakan terhadap Iran "telah melumpuhkan tatanan internasional yang sudah sekarat di bawah kepemimpinan AS," dan Washington kini telah berubah menjadi "ancaman terbesar bagi tatanan internasional".

Normalisasi Kejahatan Perang dan Kematian Hukum Internasional

Majalah AS ini menulis bahwa Donald Trump, dengan melancarkan perang pre-emptif tanpa dasar hukum yang sah, "telah melembagakan agresi sebagai metode normal untuk menyelesaikan perselisihan antarnegara".

Menurut analis Foreign Policy, Trump dengan ancaman menghancurkan infrastruktur sipil,  bahkan seluruh peradaban, "telah mengubah kejahatan perang menjadi taktik militer dan kartu diplomatik untuk tawar-menawar."

Blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS juga digambarkan sebagai "normalisasi persenjataan di jalur-jalur vital ekonomi global", yang telah sangat merusak kredibilitas moral dan hukum AS.

Keruntuhan Aliansi Barat dan Langkah Eropa Menuju Otonomi Nuklir

Foreign Policy melaporkan bahwa perang melawan Iran, selain menghancurkan tatanan global, juga telah melemahkan aliansi transatlantik dalam NATO.

Negara-negara Eropa menolak permintaan Trump untuk mengirim armada laut ke Selat Hormuz, dan membatasi penggunaan pangkalan mereka untuk membombardir Iran. Sebaliknya, Trump menyebut sekutu Eropa sebagai "pengecut" dan mengancam akan keluar sepenuhnya dari NATO.

Analisis ini menegaskan, "Perang ini mungkin akan tercatat dalam sejarah sebagai dokumen resmi pemisahan Washington dari sekutu Eropanya," dan akan mempercepat langkah Eropa menuju otonomi pertahanan, bahkan otonomi nuklir.

Perang yang dilancarkan Trump untuk menunjukkan kehebatan AS justru menjadi bumerang. Tatanan dunia yang ia warisi perlahan runtuh, sekutu-sekutu Eropa mulai menjaga jarak, dan hukum internasional mati perlahan di hadapan agresi yang dilembagakan.

"Kami tidak akan mengirim kapal, kami tidak akan meminjamkan pangkalan", jawaban Eropa kepada Washington tidak hanya mengecewakan, tetapi juga merupakan pernyataan kemerdekaan. Trump mungkin akan mengingatnya sebagai "pengecut". Sejarah mungkin akan mengingatnya sebagai awal perpecahan Barat.

Pertanyaannya sekarang: mampukah Eropa benar-benar membangun otonomi pertahanannya sendiri? Atau akankah ia terus bergantung pada payung AS yang mulai retak?

Yang pasti, tatanan dunia yang tergantung pada satu kekuatan adidaya sudah tidak berkelanjutan. Perang terhadap Iran hanyalah paku terakhir di peti mati.(sl)