Kanker Kandung Kemih: 4 Kali Lebih Sering Serang Pria, Rokok Pemicu Utama
https://parstoday.ir/id/news/iran-i191320-kanker_kandung_kemih_4_kali_lebih_sering_serang_pria_rokok_pemicu_utama
Pars Today - Seorang spesialis radioterapi dan onkologi memperingatkan tingginya prevalensi kanker kandung kemih pada pria, seraya mengatakan, "Penyakit ini empat kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita, dan konsumsi rokok, paparan bahan kimia karsinogenik, serta penuaan merupakan faktor risiko utamanya.
(last modified 2026-06-11T08:29:30+00:00 )
Jun 11, 2026 15:28 Asia/Jakarta
  • Kanker kandung kemih
    Kanker kandung kemih

Pars Today - Seorang spesialis radioterapi dan onkologi memperingatkan tingginya prevalensi kanker kandung kemih pada pria, seraya mengatakan, "Penyakit ini empat kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita, dan konsumsi rokok, paparan bahan kimia karsinogenik, serta penuaan merupakan faktor risiko utamanya.

Melansir IRNA dari Kementerian Kesehatan, Pengobatan, dan Pendidikan Medis, Zahra Keshtpour Amlashi, 11 Juni 2026, dengan merujuk pada fakta bahwa kanker kandung kemih adalah salah satu kanker paling umum pada pria, mencatat, berdasarkan statistik global, sekitar 200 ribu orang setiap tahun terjangkit penyakit ini, dan di Iran pun tingkat prevalensinya pada pria jauh lebih tinggi dibandingkan wanita.

Ia menyatakan bahwa kanker kandung kemih terutama teramati pada individu di atas 65 tahun, dan menambahkan, "Diagnosis dini penyakit ini memiliki dampak yang sangat signifikan dalam proses pengobatan dan pencegahan perkembangannya."

Spesialis radioterapi dan onkologi ini menyebut konsumsi rokok sebagai faktor risiko paling penting untuk kanker kandung kemih, dan melanjutkan, "Penggunaan tembakau meningkatkan risiko terjangkit penyakit ini hingga dua kali lipat. Bahan kimia karsinogenik dalam asap rokok, setelah masuk ke aliran darah, dikeluarkan melalui urine dan seiring berjalannya waktu merusak dinding kandung kemih."

Keshtpour Amlashi mencatat, "Bahkan individu yang tidak merokok secara langsung, tetapi terpapar asap rokok, juga menghadapi risiko lebih tinggi untuk terjangkit kanker kandung kemih."

Ia juga menyebut paparan pekerjaan terhadap bahan kimia karsinogenik sebagai faktor risiko penting lainnya, dan mengatakan, "Individu yang bekerja di industri petrokimia, penyamakan kulit, percetakan, produksi pewarna, dan pekerjaan yang berkaitan dengan bahan kimia harus serius memperhatikan langkah-langkah keselamatan dan penggunaan alat pelindung."

Anggota staf pengajar Universitas Ilmu Kedokteran Hamedan ini, dengan merujuk pada faktor-faktor lain yang memengaruhi munculnya penyakit ini, menambahkan, "Peradangan kronis kandung kemih, batu kandung kemih berulang, radioterapi pada area panggul, konsumsi air yang tercemar arsenik, riwayat keluarga, dan penuaan merupakan faktor risiko yang telah dikenali untuk kanker kandung kemih."

Ia menekankan bahwa kanker kandung kemih tidak memiliki program skrining khusus, dan mengatakan, "Diagnosis penyakit ini biasanya dilakukan setelah gejala muncul, dan adanya darah dalam urine, meskipun tanpa rasa sakit, merupakan tanda peringatan paling penting."

Keshtpour Amlashi menyebut seringnya buang air kecil, urgensi buang air kecil, rasa sakit saat buang air kecil, dan penurunan berat badan tanpa sebab sebagai tanda-tanda lainnya, dan menambahkan, "Jika salah satu dari gejala ini teramati, kunjungan cepat ke dokter spesialis sangat diperlukan."

Ia memperingatkan, "Pada tahap awal, kanker kandung kemih biasanya terbatas pada lapisan dalam kandung kemih, tetapi jika terjadi keterlambatan dalam kunjungan dan pengobatan, ia dapat menembus lapisan yang lebih dalam dan bahkan menyebar ke organ-organ seperti hati dan tulang."

Spesialis radioterapi dan onkologi ini, mengenai metode pengobatan kanker kandung kemih, mengatakan, "Pembedahan adalah metode pengobatan utama penyakit ini, yang tergantung pada kondisi pasien, dapat mencakup pengangkatan tumor, pengangkatan sebagian kandung kemih, atau dalam kasus lanjut, pengangkatan kandung kemih secara keseluruhan. Metode seperti kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi juga digunakan untuk mengendalikan dan mengobati penyakit."

Keshtpour Amlashi, dengan menekankan pentingnya pencegahan, mencatat, "Berhenti merokok adalah salah satu langkah paling efektif untuk mengurangi risiko kanker kandung kemih. Selain itu, konsumsi air yang cukup dan mematuhi prinsip-prinsip keselamatan di lingkungan kerja dapat berperan penting dalam mengurangi kemungkinan munculnya penyakit ini."

Ia menekankan perlunya meningkatkan kesadaran publik tentang faktor risiko dan tanda peringatan kanker kandung kemih, dan mengatakan, "Penyebaran informasi yang benar, berhenti dari tembakau, menghindari paparan bahan kimia berbahaya, dan kunjungan tepat waktu ke dokter dapat membantu mengurangi statistik kasus dan meningkatkan hasil pengobatan."

Melengkapi laporan sebelumnya tentang rokok dan pencernaan dengan menambahkan satu korban lagi yang jarang dibicarakan: kandung kemih. Logikanya sederhana tetapi mengerikan, zat karsinogenik dari rokok masuk darah, disaring ginjal, lalu "menggenang" di kandung kemih sebelum dikeluarkan. Artinya, dinding kandung kemih perokok terpapar racun berkali-kali setiap hari, selama bertahun-tahun. Dan karena tidak ada program skrining khusus, penyakit ini sering baru terdeteksi ketika sudah muncul darah di urine, yang biasanya berarti sudah bukan tahap awal lagi. Ini adalah pengingat lain: rokok tidak memilih organ. Ia menyerang semua yang dilewatinya.(Sail)