Dari Hormuz hingga Beirut: Iran Siapkan Strategi Perang Berbeda
-
Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran
Pars Today - Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, dalam wawancara eksklusif dengan jaringan Al-Manar Lebanon, menjawab pertanyaan tentang masa depan Selat Hormuz dan kesepakatan Iran dengan Oman.
Melansir IRNA, Kamis, 27 Agustus 2026, beberapa poin wawancara ekslusif Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran sebagai berikut:
Tentang Koridor Selat Hormuz
Rezaei menyatakan bahwa Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan untuk membuka sebuah koridor sementara bagi masuk dan keluarnya kapal-kapal. Koridor ini akan membentang di tengah Selat Hormuz, dengan sebagian berada di perairan Iran dan sebagian lainnya di perairan Oman, dan akan dikelola bersama. Jika Amerika Serikat memenuhi semua syarat Iran, kapal-kapal akan diizinkan melintasi jalur baru yang terletak di tengah selat ini.
Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Rezaei dengan tegas menyatakan bahwa masalah Selat Hormuz terkait erat dengan penghentian perang di seluruh kawasan, terutama di Lebanon dan Gaza. Dia menekankan bahwa AS-lah yang harus mengikuti dan memenuhi syarat-syarat dari Iran, bukan sebaliknya. Syarat-syarat ini mencakup pernyataan resmi AS tentang penghentian perang di seluruh Asia Barat. Menurutnya, ada jurang ketidakpercayaan yang dalam antara Iran dan AS, sehingga pelaksanaan syarat adalah kunci untuk membangun kepercayaan.
Ancaman Respons Ekonomi
Rezaei menyinggung soal "perang ekonomi" yang dicanangkan Trump. Menurutnya, pernyataan-pernyataan ini sebagian besar adalah perang psikologis karena Iran telah bertahan di bawah sanksi berat selama lebih dari 15 tahun. Namun, ia memperingatkan bahwa jika AS memulai tindakan ekonomi yang nyata, Iran juga akan melakukan hal yang sama dengan menargetkan kepentingan ekonomi AS yang besar di kawasan, termasuk perusahaan-perusahaan minyak dan proyek-proyek infrastruktur. "Mereka akan menjadi pecundang terbesar," katanya.
Strategi Perang yang Berbeda
Rezaei membenarkan bahwa perubahan strategi Iran dari defensif ke ofensif adalah bagian dari pendekatan yang terukur. Dalam perang sebelumnya, Iran membatasi serangannya untuk mengendalikan cakupan konflik dan mendapatkan dukungan opini publik global. Namun, dalam perang berikutnya, "serangan kami akan berbeda" dan akan memberikan "pukulan yang mencengangkan". Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa setiap konflik berasal dari kebodohan Trump, dan opini publik dunia saat ini berpihak pada Iran.
Peran Lebanon dan "Garis Merah"
Rezaei menegaskan bahwa Beirut dan pinggiran selatannya adalah "garis merah" dan tidak ada yang berhak bergerak ke arah sana. Dia memuji perlawanan Hizbullah dan kepemimpinan Syekh Naim Qassem. Dia juga menekankan bahwa perang di Lebanon, Gaza, dan Suriah harus diakhiri, karena keamanan di seluruh kawasan saling terkait seperti rantai. Dia meyakinkan bahwa Israel akan dipaksa mundur dari Lebanon selatan karena wilayah tersebut "tidak dapat ditaklukkan".
Tentang Ancaman dan Masa Depan
Rezaei mengeluarkan peringatan keras kepada Netanyahu dan Zionis. Dia menyebut Netanyahu sebagai pembohong yang telah membuat kesalahan besar yang memperpendek umur rezim Israel. "Kami akan mengirim Netanyahu ke neraka," ancamnya. Dia juga menolak tuduhan bahwa Iran merencanakan pembunuhan, menyebutnya sebagai cerita palsu Netanyahu untuk menakuti Trump. Rezaei mengatakan bahwa masa depan kawasan sangat cerah dan AS secara bertahap akan kehilangan pengaruhnya dalam 10 tahun ke depan, dan "kemenangan besar" akan datang bagi Lebanon, Iran, dan Asia Barat.
Hubungan Strategis dengan Hizbullah
Rezaei menggambarkan hubungan Iran dengan Hizbullah sebagai hubungan yang "strategis dan komprehensif". Dia menekankan bahwa Iran mendukung Hizbullah tetapi tidak ikut campur dalam keputusan internal mereka, termasuk keputusan militer. Dia memuji munculnya generasi kedua dan ketiga pemimpin Hizbullah yang muda dan cakap, dan mengatakan bahwa keyakinan pada kepemimpinan muda adalah kunci keberhasilan, dengan mencontohkan bagaimana ia sendiri menjadi komandan pada usia 27 tahun.
Tentang Pakta Makkah
Mengenai Pakta Makkah, Rezaei mengatakan Iran tidak menentangnya, tetapi menekankan bahwa pakta tersebut harus bersifat inklusif. Iran dan Mesir harus menjadi bagian dari negara-negara pendiri, bukan hanya sebagai pengamat atau pengikut. Dia berharap negara-negara tersebut akan mengeluarkan deklarasi bersama melawan Israel.
"Wawancara ini adalah pernyataan komprehensif tentang posisi Iran di bawah kepemimpinan Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional yang baru, Mohsen Rezaei. Poin-poin utamanya adalah:
Kesepakatan Koridor Hormuz: Iran dan Oman telah menyetujui koridor pelayaran baru di Selat Hormuz, tetapi operasionalnya bergantung sepenuhnya pada pemenuhan semua syarat yang diajukan Iran.
Pembukaan Tergantung Akhir Perang: Syarat utama Iran adalah penghentian total perang di seluruh kawasan (terutama Gaza dan Lebanon) dan penarikan mundur Israel. Ini adalah tuntutan diplomatik dan keamanan yang tegas.
Ancaman Ekonomi: Iran menyatakan kesiapan untuk melakukan perang ekonomi balasan yang menargetkan kepentingan AS di kawasan jika Washington melanjutkan eskalasi ekonominya.
Strategi Perang Baru: Iran mengisyaratkan bahwa konflik di masa depan akan memiliki intensitas dan metode yang berbeda dari sebelumnya, dengan "pukulan yang mencengangkan".
Dukungan pada Perlawanan: Iran menegaskan dukungan penuh kepada Hizbullah dan menganggap Beirut sebagai "garis merah".
Penolakan terhadap Narasi Musuh: Iran dengan tegas menolak klaim Israel dan AS tentang rencana pembunuhan dan menyebut Netanyahu sebagai pembohong.
Visi Masa Depan: Rezaei memproyeksikan kepercayaan diri bahwa masa depan kawasan akan cerah dengan berkurangnya pengaruh AS secara signifikan dalam dekade berikutnya."(Sail)