Presiden Erdogan: Iran adalah Negara Islam
Presiden Iran dan Turki dalam pertemuannya di New York, menekankan penyelesaian krisis regional dan perang melawan terorisme di Suriah dan Irak.
Hassan Rouhani dan Recep Tayyip Erdogan bertemu pada Selasa (20/9/2016) malam di sela-sela sidang Majelis Umum PBB, seperti dilaporkan wartawan IRIB dari New York.
"Iran di semua fase persahabatan akan berada di samping Turki dan Tehran siap untuk memperluas hubungannya dengan Ankara di semua sektor, termasuk transportasi, industri dan energi," kata Rouhani.
Berbicara tentang percobaan kudeta di Turki pada 15 Juli, Rouhani menuturkan bahwa aksi kudeta terhadap pemerintah pilihan rakyat di Turki adalah sebuah peristiwa yang mencemaskan dan pemerintah Iran sejak awal telah mengerahkan semua kapasitasnya demi stabilitas dan keamanan Turki.
Menurutnya, kudeta di Turki adalah kelanjutan dari serentetan peristiwa yang dirancang oleh kekuatan tertentu terhadap kawasan. "Tidak diragukan lagi bahwa upaya kolektif dapat menggagalkan skenario yang sudah disusun oleh musuh," tegasnya.
Rouhani juga menilai terorisme sebagai sebuah ancaman terhadap negara-negara regional, dan menyebut peran Iran-Turki dalam perang kontra-terorisme di kawasan khususnya di Suriah dan Irak adalah penting.
Sementara itu, Erdogan mengapresiasi solidaritas pemerintah dan rakyat Iran kepada Turki dalam menghadapi percobaan kudeta, dan ia yakin bahwa Tehran tidak akan menghentikan dukungannya kepada Ankara.
Ia menilai musuh dunia Islam akan menjadi pihak pemenang atas perselisihan dan kekacauan di kawasan.
"Pihak lain tidak mampu memecahkan krisis regional. Turki dan Iran adalah dua negara Islam dan besar di kawasan dan melalui kerjasama, kedua negara dapat memainkan peran penentu dalam upaya mengatasi krisis dan menciptakan stabilitas di kawasan termasuk di Suriah dan Irak," tegas Erdogan.
Presiden Iran tiba di New York pada Selasa sore untuk menghadiri sidang tahunan Majelis Umum PBB. (RM)