Presiden Iran dan Rusia Sikapi Krisis Suriah
Presiden Republik Islam Iran dalam pembicaraan telpon dengan sejawatnya dari Rusia menilai terwujudnya gencatan senjata dan penghentian konflik di Suriah sebagai terobosan penting bagi kepentingan rakyat Suriah.
Hassan Rohani dalam percakapan telepon dengan Vladimir Putin hari Rabu (24/2) mengatakan gencatan senjata di Suriah tidak boleh memberikan kesempatan kepada teroris untuk memulihkan kekuatannya.
Rouhani menilai penghentian perang dan penyaluran bantuan kemanusiaan sebagai sebuah langkah yang menguntungkan rakyat Suriah. Presiden Iran juga menekankan berlanjutnya perang anti-terorisme.
“Dalam proses gencatan senjata di Suriah, penyaluran bantuan untuk para pengungsi harus dilakukan di bawah kepemimpinan pemerintah pusat dan pembebasan sandera dan orang-orang yang tidak bersalah juga harus segera diwujudkan,” ujar Rohani, Rabu (24/2).
Ia juga mendesak pengawasan gencatan senjata dan kontrol perbatasan Suriah demi mencegah masuknya teroris baru ke negara itu. Rouhani lebih lanjut menjelaskan sikap Iran terkait proses politik di Suriah, dan menekankan konsultasi intensif antara Tehran-Moskow untuk membantu rakyat Suriah.
Sementara itu, Presiden Rusia dalam pembicaraan via telpon dengan sejawatnya dari Iran memaparkan rincian perundingan yang dilakukan untuk mewujudkan gencatan senjata di Suriah.
Vladimir Putin mengatakan bahwa hubungan Moskow dan Tehran dibangun atas dasar kepercayaan konstruktif, dan timbal-balik. Sejalan dengan itu, Rusia membutuhkan koordinasi dan kerjasama erat satu sama lain dalam masalah Suriah. Ia juga mendesak pemantauan gencatan senjata oleh PBB dan pengambilan langkah-langkah preventif untuk menghentikan gerakan lintas batas teroris.
Putin menegaskan bahwa perang melawan kelompok teroris, termasuk ISIS dan Front al-Nusra akan terus berlanjut. Putin juga menekankan kebutuhan untuk membantu rakyat Suriah dan menjaga keutuhan wilayah negara itu.
Amerika Serikat dan Rusia mencapai kesepakatan untuk gencatan senjata di Suriah dan perjanjian itu mulai berlaku pada tanggal 27 Februari mendatang. Kedua negara juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup kelompok ISIS dan Front al-Nusra. Kelompok-kelompok teroris telah memporak-porandakan sejumlah wilayah di Suriah.
Dilaporkan, konflik Suriah selama lima tahun lalu telah menyebabkan hampir 250.000 orang tewas, dan sekitar 12 juta orang mengungsi di dalam dan luar negeri.
Para diplomat di PBB baru-baru ini menyatakan bahwa anggota Dewan Keamanan akan membahas rancangan resolusi yang telah disepakati antara Rusia dan AS mengenai penghentian konflik Suriah.
Dijadwalkan, 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB akan mengesahkan rancangan resolusi tersebut pada hari Jumat. Resolusi Dewan Keamanan PBB no.2254 dan juga pernyataan bersama dalam dua pertemuan sebelumnya di Wina mendukung proses tersebut.
Rencananya, gencatan senjata akan mulai dilaksanakan pada hari Jumat, 26 Februari 2016, pukul 22 GMT, tapi sejumlah masalah masih mengganjal.
Para analis politik berkeyakinan bahwa gencatan senjata hingga kini masih belum bisa meyakinkan berbagai pihak, sebab muncul kekhawatiran kelompok-kelompok teroris memanfaatkan gencatan senjata ini untuk memulihkan kekuatannya. Padahal, gencatan senjata tidak bermakna berhentinya penumpasan terorisme. Tapi statemen para pejabat AS, Turki dan Arab Saudi memperkuat indikasi tersebut.
Sejak awal meletusnya krisis Suriah, Iran senantiasa menegaskan urgensi gencatan senjata. Tapi, Tehran khawatir, apakah kelompok oposisi bersenjata yang terhubung dengan jaringan teroris akan menghormati gencatan senjata atau tidak ?. Statemen Presiden Rohani dalam percakapan via telpon dengan sejawatnya dari Rusia berpijak dari kekhawatiran tersebut. (PH)