Upaya Iran Menggaet Investor Jepang
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam rangkaian tur ke Asia Timur, tiba di Tokyo, Jepang pada Selasa (6/12/2016) malam. Sebelum ini, ia telah melakukan kunjungan ke India dan Cina, dan Jepang akan menjadi destinasi terakhir tur ini.
Dalam pernyataan kepada wartawan di bandara Tokyo, Zarif mengatakan kunjungan ke Jepang akan fokus untuk membahas peningkatan hubungan bilateral di bidang ekonomi dan politik. Oleh karena itu, sejumlah pelaku ekonomi dan pemilik perusahaan di Iran menyertai kunjungan Zarif ke Jepang.
Pada hari Rabu (7/12/2016), menlu Iran bertemu dengan Hiroyuki Ishige, ketua Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang (JETRO). Pada kesempatan itu, Zarif memaparkan tentang stabilitas dan keamanan Iran untuk investasi perusahaan-perusahaan Jepang. Ia menuturkan Tehran ingin memperluas kerjasama ekonomi dengan Tokyo.
Ishige juga berpendapat bahwa peluang untuk meningkatkan kegiatan bisnis dan investasi oleh perusahaan-perusahaan Jepang di Iran sudah tercipta setelah penghapusan sanksi.
Orientasi ke Timur dalam kebijakan luar negeri Iran terbilang sangat penting dan dengan adanya ketertarikan timbal-balik, hubungan Iran dengan sekelompok negara di kawasan telah meningkat, seperti hubungan Iran dengan Cina.
Jelas bahwa Jepang juga menganggap sangat penting perluasan hubungan dengan Iran dan ada keyakinan bahwa kedua negara dapat meningkatkan kerjasama di semua bidang, terlebih dengan memperhatikan kapasitas mereka.
Namun, Jepang agak tertinggal dalam menjamah pasar Iran dibading negara-negara lain di Asia dan Eropa. Kedua negara memiliki hubungan baik di masa lalu, tetapi hambatan tercipta dalam beberapa tahun terakhir akibat sanksi dan kedekatan Jepang dengan Amerika Serikat.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di sela-sela sidang Majelis Umum PBB tahun lalu, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, "Kami siap menyusun peta jalan hubungan ekonomi kolektif untuk sepuluh tahun ke depan."
Banyak pengamat percaya bahwa para pejabat tinggi Jepang perlu segera melakukan kunjungan ke Iran, karena sebelum mereka, Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye telah lebih dulu tiba di Tehran. Surat kabar Nikkei baru-baru ini menulis bahwa para pejabat yang meminta PM Abe untuk berkunjung ke Iran semakin bertambah dari waktu ke waktu. Ia diminta tidak membiarkan Jepang tertinggal dari rival-rivalnya di Asia dan Eropa.
Laporan juga menunjukkan bahwa saat ini para CEO perusahaan-perusahaan raksasa Jepang yang bergerak di sektor perdagangan, otomotif, dan energi, menyatakan kesiapan mereka untuk menemani Abe ke Iran.
Pada Februari 2016, Iran dan Jepang menandatangani sebuah perjanjian investasi dengan tujuan mendukung kerjasama bisnis, dan melindungi aset-aset perusahaan kedua pihak, serta melakukan investasi bersama. Saat ini, dua perusahaan Jepang yang bergerak di sektor energi telah kembali ke pasar Iran. Mereka ingin melakukan kontrak dengan Iran untuk melaksanakan proyek di sektor minyak dan petrokomia.
Iran dan Jepang tentu dapat memperluas kerjasama bilateral dan sejalan dengan itu, isu-isu regional dan internasional juga bisa membuka ruang untuk interaksi politik kedua pihak. Sebagai dua negara penting di benua Asia, Iran dan Jepang dapat memainkan peran efektif dalam masalah tersebut. Oleh karena itu, kunjungan Zarif merupakan sebuah peluang untuk diskusi politik dan ekonomi dalam konteks perluasan hubungan Tehran-Tokyo. (RM)