Latihan Gabungan Angkatan Bersenjata Iran
Militer Republik Islam Iran dan Korps Pengawal Revolusi Islam (Pasdaran) pada Senin (26/12/2016) memulai latihan militer bersama dengan sandi "Modafean Aseman Wilayat 7" (Pembela Langit Velayat 7) di seluruh daerah selatan, tenggara, dan barat daya Iran.
Manuver ini akan berlangsung selama tiga hari di area seluas 496.000 kilometer persegi. Militer dan Pasdaran berusaha untuk mengasah koordinasi antar divisi yang berbeda, yang terlibat dalam mempertahankan wilayah udara Iran. Latihan ini akan melibatkan sekitar 17.000 personil militer.
Latihan militer merupakan salah satu metode konvensional untuk menjaga kesiapan pasukan tempur, meningkatkan tingkat pendidikan, dan melatih penggunaan peralatan modern.
Kegiatan kali ini tentu membawa pesan khusus mengingat sensitivitas kondisi regional saat ini dan ancaman yang ada di sekitar perbatasan Iran. Jelas bahwa keamanan nasional dan perlindungan zona udara, serta wilayah perbatasan laut dan darat mendapat perhatian besar dari para pejabat Iran.
Soal isu keamanan, dewasa ini meningkatkan kapasitas pertahanan negara bergantung pada banyak komponen, karena bentuk ancaman yang dihadapi di wilayah sekitar dan internasional semakin beragam mulai dari perang konvensional sampai perang lunak dan cyber. Jadi, masalah keamanan telah menemukan dimensi yang sangat luas. Kekuatan militer di negara-negara dunia akan menyesuaikan diri dengan bentuk ancaman, meningkatkan profesionalistas prajurit, dan mengembangkan peralatan baru.
Dengan melihat keragaman bentuk ancaman, maka salah satu unsur utama dalam Doktrin Militer Iran adalah mengembangkan kapasitas tempur yang sesuai dengan bentuk ancaman di sektor perangkat lunak dan perangkat keras.
Secara umum, keamanan harus diwujudkan dengan dua kunci dasar yaitu; pertama, menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki keahlian di industri pertahanan, dan kedua, meningkatkan kapasitas pertahanan konvensional.
Pakar keamanan menilai keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat dan baru-baru ini Inggris di sekitar wilayah Iran, sebagai bagian dari strategi jangka panjang mereka dan beberapa negara regional untuk menciptakan kekacauan di zona keamanan Iran.
Dalam satu dekade lalu, AS mengkampanyekan Iranphobia dan menjual miliaran dolar senjata dan jet-jet tempur ke negara-negara Arab di pesisir Teluk Persia. Berlanjutnya tren ini menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan arogan ingin menyeret Iran dalam sebuah tantangan di sektor keamanan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei, dalam sebuah pernyataan menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan pertahanan negara.
"Di dunia yang dikuasai oleh kekuatan-kekuatan arogan, hegemonik, dan memiliki nilai-nilai moral, nurani, dan kemanusiaan yang minim, serta sama sekali tidak ragu melakukan agresi ke negara-negara lain dan membunuh warga tak berdosa, maka pengembangan industri defensif dan ofensif sepenuhnya adalah wajar, karena selama mereka tidak merasakan ketangguhan sebuah negara, maka keamanan tidak akan terpenuhi," kata Ayatullah Khamenei.
Berdasarkan prinsip itu, Doktrin Militer Iran dibangun atas dua prinsip penting yaitu; defensif dan ofensif.
Saat ini, Iran dari segi kekuatan militer menduduki posisi penting dalam perimbangan keamanan regional serta dalam menjaga stabilitas dan keamanan. Meski demikian Iran tidak pernah memulai perang, tapi siap bertindak tegas dalam merespon ancaman dan serangan musuh. (RM)