Surat Menlu Iran untuk PBB Soal Tragedi Yaman
https://parstoday.ir/id/news/iran-i46821-surat_menlu_iran_untuk_pbb_soal_tragedi_yaman
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam sebuah surat kepada Sekjen PBB Antonio Guterres, mengatakan bahwa Yaman akibat agresi dan blokade penuh rezim Arab Saudi, berada dalam kondisi kritis dan memperihatinkan.
(last modified 2026-04-15T09:44:22+00:00 )
Nov 15, 2017 11:20 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam sebuah surat kepada Sekjen PBB Antonio Guterres, mengatakan bahwa Yaman akibat agresi dan blokade penuh rezim Arab Saudi, berada dalam kondisi kritis dan memperihatinkan.

Zarif menjelaskan bahwa tragedi kemanusiaan di Yaman akibat blokade Saudi kian memburuk, dan mendesak masyarakat internasional untuk memainkan peran yang lebih efektif dan menentukan guna mengakhiri perang konyol Saudi di negara miskin tersebut.

Pada 5 Oktober lalu, koalisi agresor pimpinan Arab Saudi secara resmi dimasukkan dalam daftar hitam pelanggar hak anak-anak Yaman karena pembantaian yang mereka lakukan di negara itu. Laporan ini diserahkan oleh Antonio Guterres kepada Dewan Keamanan PBB.

Nama Arab Saudi juga tercatat dalam daftar hitam PBB tahun lalu, tapi kemudian ditarik kembali oleh Ban Ki-moon, mantan Sekjen PBB. Ketika itu, sumber-sumber akurat mengatakan bahwa Riyadh menekan Ban dan mengancam akan menghentikan bantuannya untuk PBB.

Dengan dukungan Amerika Serikat, rezim Saudi melancarkan invasi militer ke Yaman pada Maret 2015 dan memberlakukan blokade darat, laut dan udara dengan dalih untuk memulihkan kekuasaan Abd Rabbuh Mansur Hadi, Presiden Yaman, yang telah mengundurkan diri.

Agresi ini telah menewaskan ribuan warga sipil Yaman, terutama perempuan dan anak-anak, dan menghancurkan infrastruktur publik, termasuk rumah sakit, sekolah, jalan raya, industri makanan, dan pembangkit tenaga listrik. Akibatnya, rakyat Yaman tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka yang paling dasar.

Image Caption

 

Sebenarnya, Arab Saudi sedang mengabdi kepada siapa dan siapa yang meraup keuntungan dari kejahatan ini?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan dalam surat Presiden AS Donald Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam suratnya, Trump memuji Netanyahu atas dukungannya terhadap pidato anti-Iran.

Bulan lalu, Trump mengumumkan strategi AS dalam berurusan dengan Iran. Dalam pidatonya itu, Trump mengeluarkan kalimat yang sangat keras terhadap Tehran dan juga menyebut Teluk Persia dengan nama yang sudah didistorsi.

Rezim Zionis dan blok yang dipimpin Saudi adalah satu-satunya kubu yang menyambut baik pidato Trump. Pada Senin lalu, Netanyahu juga menyempurnakan puzzle tersebut dengan mengatakan, saya berdiri di samping front moderat di dunia Arab untuk melawan Iran.

"Front ini baik untuk keamanan, dan pada akhirnya ia juga akan baik untuk perdamaian," kata Netanyahu.

Fakta ini dengan jelas memperlihatkan posisi Arab Saudi dan apa tujuan akhir mereka. Hal yang penting bagi Saudi adalah mencapai tujuan jahatnya dengan cara apapun, bahkan jika harus menghancurkan sebuah bangsa tertindas di Yaman.

Namun, Iran tidak akan tinggal diam terhadap kejahatan tersebut dan skenario busuk mereka. Surat Zarif kepada Sekjen PBB harus dilihat dalam kerangka ini.

Zarif menegaskan, Republik Islam Iran sejak awal krisis ini telah menekankan bahwa satu-satunya cara untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas adalah membiarkan semua pihak Yaman untuk membentuk pemerintah persatuan nasional mereka yang inklusif, tanpa campur tangan asing. (RM)