Klaim Palsu Arab Saudi Anti Iran
Mereka yang suka menuding pihak lain dengan dakwaan palsu sejatinya ingin lari dari realita. Ungkapan ini sangat cocok bagi para petinggi Arab Saudi.
Mansour al-Turki, juru bicara Departemen Dalam Negeri Arab Saudi melontarkan dakwaan palsu dan mengklaim, kami tengah menghadapi teroris yang memiliki hubungan dengan Iran.
Al-Turki Senin (25/12) saat jumpa pers seraya melontarkan tudingan ini menambahkan, negara-negara sponsor terorisme tidak memiliki argumentasi apa pun dan mereka membentuk kelompok teroris sebagai wakilnya untuk menjalankan seluruh operasi teror. Dan kami menyaksikan hal ini di Gerakan al-Haouthi Yaman serta Hizbullah Lebanon.
Menlu Arab Saudi beberapa waktu lalu dalam sebuah statemen proyektifnya di sidang tahunan Majelis Umum PBB melontarkan klaim palsu anti Iran, Hizbullah Lebanon dan Suriah.
Statemen petinggi Arab Saudi ini dirilis di saat Riyadh tercatat sebagai salah satu sponsor finansial dan ideologi teroris di Suriah dan kawasan. Telah terbukti bahwa kelompok teroris seperti al-Qaeda dan Daesh muncul dengan bantuan pelatihan militer Mossad dan CIA serta dengan dana sejumlah negara Arab kawasan seperti Arab Saudi dan dengan dukungan ideologi Takfiri.
Sejatinya Arab Saudi menjadi salah satu lingkaran utama pembentukan terorisme yang dipaksakan terhadap kawasan. Pengulangan kebohongan ini mendorong mereka bersikap narsis, bahkan membuat mereka menganggap dirinya sebagai model keamanan dan demokrasi yang sempurna.
Washington Post hari Senin di artikelnya dengan tema "Putra Mahkota Munafik Arab Saudi" seraya menghitung langkah-langkah Mohammad bin Salman termasuk klaim perang melawan terorisme menulis, "Pangeran mahkota Arab Saudi bersamaan dengan penghematan anggaran di negara ini, membeli istana di Perancis senilai 300 juta dolar dan sebelumnya ia juga membeli sebuah kapal pesiar seharga 550 juta dolar untuk dirinya sendiri."
Statemen menggelikan dan menipu jubir Departemen Dalam Negeri Arab Saudi terkait terorisme tersembunyi juga pertunjukan baru. Tak diragukan lagi, terorisme sumber kekhawatiran keamanan dan politik bagi seluruh kawasan, namun sepertinya Riyadh berusaha lari dari realita dengan melemparkan bola ke wilayah Iran dan memberikan alamat keliru.
Dengan kata lain, statemen menlu Arab Saudi menunjukkan para sponsor terorisme mulai berbalik. Statemen menipu ini dirilis di saat Amerika dan Arab Saudi, keduanya sedikit banyak terlibat dalam pembentukan kelompok teroris di kawasan dan urutannya adalah pembentukan al-Qaeda serta peran Riyadh di peristiwa 11 September.
Arab Saudi dengan menandatangani kontrak ratusan miliar dolar dengan Amerika berusaha untuk menghapus bentuk masalah sebenarnya. Menurut pandangan Amerika, peran Arab Saudi seperti Sapi perah, selama sapi tersebut memiliki susu, maka harus terus diperah.
Tamu jamuan Riyadh dengan menebar tudingan anti Iran adalah Amerika Serikat, Israel dan mereka yang mencari kepentingan ilegalnya melalui permainan kotor politik dan keamanan.
Namun pertanyaannya di sini adalah, apakah hasil dari tudingan tersebut adalah pulihnya keamanan di kawasan, di saat ambisi hegemoni Arab Saudi masih terus mengakibatkan pembantaian manusia tak berdosa dan contohnya adalah apa yang sedang terjadi di Yaman. (MF)