Di Balik Tuduhan Dukungan Senjata Iran atas Yaman
Amerika Serikat, Arab Saudi dan rezim Zionis Israel terus berusaha menampilkan Iran sebagai sumber ancaman, di arena internasional. Manuver tiga poros kejahatan itu dalam beberapa bulan terakhir dipusatkan pada program rudal Iran dan tuduhan pengiriman rudal-rudal tersebut ke Yaman.
Realitasnya, sampai sekarang rakyat Yaman selalu menjadi sasaran serangan senjata-senjata non-konvensional kiriman Amerika dan Inggris dalam agresi militer yang dilancarkan Saudi dan Uni Emirat. Pada saat yang sama, Presiden Amerika, Donald Trump juga terus melanggar aturan dan hukum internasional dengan mengeluarkan keputusan-keputusan anti-kemanusiaan.
Dr. Charles Schmitz, pakar urusan Timur Tengah dan Yaman di Universitas Towson, Amerika mengatakan, keterlibatan Amerika dalam perang Yaman, sangat kental. Amerika secara langsung lewat kampanye-kampanye perang melawan Al Qaeda dan secara tidak langsung lewat dukungan atas Saudi, terlibat dalam perang Yaman.
Dukungan berbahaya dan mematikan ini, sekarang tengah memasuki fase baru yang sengaja dirancang untuk memperkuat gerakan Iranfobia.
Lana Zaki Nusseibeh, Duta Besar Uni Emirat Arab di PBB, Ahad (25/2) dalam wawancara dengan surat kabar UEA, The National, menyinggung manuver Inggris yang mengajukan draf resolusi anti-Iran ke PBB terkait Yaman dan menuturkan, UEA mendukung penuh draf resolusi ini.
Dalam draf resolusi itu Iran dituduh telah melanggar sanksi senjata yang dijatuhkan PBB terhadap Yaman dengan mengirim rudal dan pesawat tanpa awak kepada kelompok Al Houthi.
Akan tetapi kenyataan di balik skenario ini mengatakan hal yang berbeda. Situs berita Rai Al Youm beberapa waktu lalu menulis, Saudi meminta Inggris untuk menemukan jalan keluar strategis bagi Saudi sehingga bisa menyelamatkan negara itu dari krisis yang diciptakannya sendiri di Yaman.
Padahal perimbangan kekuatan di perang Yaman sudah berubah dan perang ini bagi Saudi dan sekutu-sekutunya telah berubah menjadi mimpi buruk karena ternyata militer dan pasukan rakyat Yaman memberikan perlawanan gigih.
Dr. Ahmadian, salah seorang peneliti kebijakan internasional di Pusat Riset Strategis Iran terkait hal ini menuturkan, perang Yaman membuktikan realitas bahwa Ansarullah akan tetap menjadi pemain berpengaruh dan inti dalam transformasi Yaman.
Ansarullah, katanya, membawa transformasi Yaman ke sebuah proses yang tidak memungkinkan terwujudnya masa depan Yaman tanpa memperhatikan gerakan perlawanan ini.
Sekarang Ansarullah sudah mengokohkan kehadiran dan kekuatannya dalam struktur politik Yaman dan posisi politik serta militer Ansarullah di Yaman sudah diakui oleh para pemain regional dan internasional, meski secara bertahap.
Saudi dan kebanyakan pemain regional, sekarang dihadapkan pada realitas ini dan mereka terbukti tidak mampu menciptakan perubahan militer dan politik dalam transformasi internal Yaman. Jelas bahwa skenario tuduhan terhadap Iran juga dianggap tidak akan banyak membantu mereka. (HS)