Membongkar Kejahatan Saudi di Yaman
-
Gholamali Khosrou
Wakil Iran di PBB menilai tujuan gelombang baru tudingan Arab Saudi terhadap Iran dalam pengiriman senjata ke Yaman adalah mengalihkan perhatian opini publik dari kejahatan yang dilakukan oleh koalisi Arab pimpinan Saudi di Yaman.
Gholamali Khoshroo, dalam surat kepada Sekretaris Jenderal dan Ketua Dewan Keamanan PBB pada hari Kamis (29/3/2018), menyinggung tudingan Arab Saudi tentang peran Iran dalam serangan rudal Ansarullah Yaman ke Riyadh, dan mengatakan, tiga anggota tetap Dewan Keamanan, yang mendukung klaim anti-Iran oleh Arab Saudi, mereka menjual miliaran dolar senjata mematikan ke Arab Saudi dan senjata tersebut digunakan terhadap warga sipil di Yaman.
Sebastien Nadot, anggota partai pimpinan Emmanuel Macro, Presiden Perancis, mengatakan kepada Reuters beberapa hari lalu bahwa "Mengemuka masalah ini bahwa senjata Perancis yang dijual ke Arab Saudi telah digunakan terhadap warga sipil Yaman."
Seiring dengan kampanye politik dan propaganda Muhammad bin Salman (MBS), Pengeran mahkota Saudi di Amerika Serikat, negara itu bersama dengan Perancis dan Inggris, demi mengantongi petrodollar Saudi, menuding Iran memainkan berperan dalam serangan rudal terbaru gerakan Ansarullah ke Riyadh. Ansarullah di akhir Maret 2018, menghujani sejumlah wilayah Arab Saudi dengan tembakan rudal.
Perang Arab Saudi di Yaman, yang memasuki tahun keempat, sangat merugikan Riyadh dalam berbagai dimensi, dan pada praktiknya Riyadh gagal mencapai tujuannya dalam perang ini.
Times terbitan Inggris baru-baru ini menulis, "Biaya harian perang Yaman untuk Arab Saudi adalah sekitar 200 juta dolar; dan menghabiskan 216 miliar dolar selama tiga tahun terakhir." Kegagalan koalisi Saudi dalam perang Yaman lebih nyata ketika pasukan relawan rakyat, meski dihadapkan dengan blokade total, namun mampu menantang kekuatan senjata Riyadh, dengan meluncurkan rudal ke arah target strategis di Arab Saudi, termasuk Riyadh.
Peran dukungan senjata AS, Inggris dan Perancis dalam agresi rezim Saudi di Yaman berlanjut dengan tujuan untuk mengeruk profit petrodollar negara kaya di pesisir Teluk Persia itu. Dalam hal ini, kejahatan rezim Saudi di Yaman yang setiap hari menemukan dimensi baru, ternyata bukan menjadi kekhawatiran para pengklaim pionir hak asasi manusia dan mitra Arab Saudi.
Namun Iran, sebagai negara yang bertanggung jawab, senantiasa berusaha menjelaskan kepada publik dunia tentang kejahatan koalisi Saudi di Yaman, bersama dengan langkah-langkah nyata untuk membantu menyelesaikan krisis politik di Yaman.
Pendekatan konstruktif tersebut mendorong Amerika Serikat, Inggris dan Perancis bersama dengan rezim Al Saud melontarkan tuduhan infaktual terhadap Iran dengan tujuan mendistorsi opini publik tentang kejahatan di Yaman dan sedang terjadinya bencana manusia terburuk di dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi mengatakan pada hari Kamis (29/3/2018) menegaskan pengulangan tuduhan transfer senjata dari Iran ke Yaman tidak akan mengubah tekad Republik Islam untuk menjelaskan opini publik dunia tentang perang Arab Saudi di Yaman. Dikatakannya, negara-negara pengekspor senjata ke Arab Saudi menilai serangan para pasukan Saudi terhadap rakyat Yaman sebagai bentuk pembelaan diri, karena perang Yaman telah mendatangkan profit luar biasa besar bagi ekonomi negara-negara yang mengekspor senjata ke Arab Saudi.
Adapun negara yang saat ini menjadi tuan rumah kunjungan MBS, memiliki peran lebih besar dari sekedar menjual senjata ke Arab Saudi dalam drama perang Yaman. Amerika selain menjual senjata ke Arab Saudi juga, memberikan informasi koordinat target serangan dan mengisi bahan bakar untuk jet tempur Saudi dalam operasinya.
Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran, mengecam campur tangan Amerika dalam perang di Yaman, dan menilai partisipasi AS dalam tragedi terburuk dunia di Yaman dan mengatakan, Amerika adalah mitra utama kejahatan Al Saud, serta dalam menciptakan bencana kemanusiaan terbesar dunia di Yaman.