Diskusi Kebangsaan di Qom, Iran
-
Dialog Kebangsaan di kota Qom, Republik Islam Iran.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran berkoordinasi dengan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) menyelenggarakan diskusi dan seminar di Universitas Internasional Imam Khomeini ra (Jamiatul Musthafa al-'Alamiyah) di Qom pada Jumat, 10 Agustus 2018.
Acara tersebut mengusung tema "Membumikan Persatuan Indonesia Demi Mewujudkan Keadilan Sosial" dan diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-73 dan untuk mengisi kembali semangat kebangsaan dan persatuan.
Duta Besar RI untuk Iran Octavino Alimuddin menjadi pembicara utama dalam diskusi ini. Dia menyinggung persoalan kesatuan dan keadilan, diantaranya ektrimisme, konflik sara, kesenjangan ekonomi, ketidakmerataan tingkat pendidikan, kekurangan alustista dan ketidakmerataan pembangunan.
Octavino kemudian membeberkan beberapa problem yang ada dengan didahului penjelasan mengenai profile kekayaan Indonesia.
Di akhir pembahasan, Dubes RI untuk Tehran memberi pondasi untuk menyelesaikan masalah kesatuan dan ketidakadilan sosial. Meningkatkan ketahanan nasional yang tangguh sesuai dengan pidato Presiden Soekarno tanggal 1 Juni 1945, memperdengarkan Dasar Negara Indonesia Merdeka (Philosofische grondslag) atau Pancasila. Pancasila melahirkan Trisakti, yaitu berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya.
Octavino memberi solusi dengan menekankan bahwa persoalan kesatuan dan ketidakadilan sosial adalah tanggung jawab bersama. Dalam hal pendidikan, bisa dengan memperkuat kurikulum dan pelaksanaannya, memperkuat sistem penilaian pendidikan yang komprehensif dan kredibel, meningkatkan pengelolaan dan penempatan guru, dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Selain itu, pendidikan kewarganegaraan, bela negara dan wawasan nusantara serta pemanfaatan kemajuan IPTEK dan Alutsista Moderen di bidang pertahanan.
Diskusi di hadiri pula oleh beberapa perwakilan pembicara, Muhammad Ma’ruf (IPI, Ikatan Pelajar Indonesia), Romzah Hidayatullah (Perwakilan Pelajar Qom), Abdul Latief (HPI, Himpunan Pelajar Indonesia), dan Ismail Amin (Kerukunan Keluarga Sulawesi).
Para pembicara mempertajam problem, pondasi dan solusi potensi perpecahan dan ketidakadilan sosial Indonesia dari beberapa aspek. Ma’ruf menawarkan konsistensi dan implikasi pandangan dunia, ideologi, doktrin sosial dan ekonomi, peran ilmuan sosioekonomi. Konsistensi pembangunan mazhab sosioekonomi pancasila di tingkat teori dan kebijakan negara Pancasila.
Romzah menawarkan kejelasan konsep kesatuan dan keadilan dari teks agama Islam, Ismail Amien menawarkan analisa historis, sedang Abdil Latief dari sisi relasi filosofis konsep kesatuan dan keadilan serta implikasinya pada hak dan kewajiban.
Namun keempat pembicara menyepakati bahwa kezaliman dan kebodohan adalah sumber perpecahan dan ketidakadilan sosial. Kesatuan adalah bingkai untuk memenuhi keadilan, sedang pemenuhan keadilan adalah syarat mutlak kesatuan. Keadilan artinya menjaga keseimbangan dalam berbagai level individu, teologi, kosmos dan sosial.
Setelah tiga jam berdiskusi dilanjutkan dengan acara kenduri besar di kantor HPI sebagai ucapan syukur atas HUT Kemerdekaan RI ke- 73. (Sumber Video: IG KBRI Tehran)