Pendeta Gereja Asyur Timur: Revolusi Islam Mengembalikan Martabat Nasional Iran
-
Daryavush Aziziyan, pendeta Gereja Timur Asyur Urmia di barat laut Iran
Pars Today - Pendeta Gereja Timur Asyur Urmia di barat laut Iran mengatakan: Revolusi Islam dengan kemerdekaan yang dibawanya, telah mengembalikan martabat ke Iran tercinta.
Daryavush Aziziyan, pendeta Gereja Timur Asyur Urmia di barat laut Iran, pada Minggu (8/2/2026) malam dalam acara peringatan Sepuluh Fajar Kemenangan (Dah-e Fajr), menyatakan bahwa Revolusi Islam dicapai dengan pengorbanan, namun dijaga dengan keteguhan dalam mewujudkan keadilan, kemerdekaan, dan spiritualitas. Ia mengatakan: "Imam Khomeini (ra) pernah berkata bahwa mempertahankan revolusi lebih sulit daripada melakukan revolusi itu sendiri, dan beliau dengan tepat merujuk pada tiga nilai ini dalam revolusi."
Pendeta Aziziyan menekankan bahwa menjaga Revolusi Islam adalah tugas bersama, dan menyatakan: "Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari seniman, pekerja, mahasiswa, hingga guru, harus menjalankan tugas ini. Jika nilai-nilai revolusi tetap hidup, maka revolusi akan tetap hidup, dan dalam hal ini, semua orang memiliki tugas berat."
Pendeta Gereja Timur Asyur Urmia itu menyebutkan bahwa Dah-e Fajr mengingatkan kita akan kebangkitan kembali martabat bangsa Iran, dan menambahkan: "Dah-e Fajr bukan hanya peringatan atas kemenangan politik, tetapi juga pengingat nilai-nilai yang menjadi dasar terbentuknya Revolusi Islam, yang tanpa nilai-nilai tersebut tidak akan bisa dipahami."
Ia menyebutkan keadilan, kemerdekaan, dan spiritualitas sebagai pilar utama Revolusi Islam, dan berkata: "Keadilan adalah jiwa sosial dan nilai paling mendasar dalam Revolusi Islam. Revolusi yang dimulai dengan seruan mendukung kaum tertindas sebenarnya adalah teriakan melawan diskriminasi, korupsi, dan ketidaksetaraan."
Ia melanjutkan: Keadilan dalam pandangan Revolusi bukan hanya tentang pembagian kekayaan dan perhatian terhadap orang miskin, tetapi juga kesetaraan dalam martabat manusia, persamaan hukum untuk semua, distribusi peluang yang adil, dan menjauhkan masyarakat dari rente dan penyalahgunaan kekuasaan.
Pendeta Aziziyan memandang keadilan sebagai penyediaan kesempatan ekonomi yang setara untuk semua orang dan pengurangan kesenjangan kelas sosial di masyarakat, serta mengapresiasi upaya pemerintah dalam reformasi ekonomi terbaru.
Ia menyatakan bahwa kemerdekaan adalah syarat pertama bagi martabat nasional dan berkata: "Kemerdekaan berarti suatu bangsa memiliki kekuasaan untuk menentukan nasibnya sendiri dan tidak bergantung pada kekuatan asing, serta tidak memperdagangkan martabatnya; sebelum revolusi, masalahnya tidak hanya terletak pada kemiskinan atau tirani, tetapi masalah utamanya adalah bahwa kehendak nasional diabaikan dan negara dihina setiap hari oleh kekuatan asing; namun Revolusi Islam datang untuk mengatakan bahwa bangsa ini yang memilih dan menentukan nasibnya."
Pendeta Gereja Timur Asyur Urmia tersebut menganggap spiritualitas sebagai jantung dari Revolusi Islam, dan menambahkan: "Salah satu nilai paling penting dan membedakan dalam Revolusi Islam adalah spiritualitas; banyak orang di dunia yang melakukan revolusi dan membawa ideologi serta kekuatan, tetapi Revolusi Islam berkeinginan untuk membentuk manusia dan menjadi pencipta manusia."
Ia menegaskan: "Spiritualitas berarti bahwa kekuasaan dan politik tidak boleh terpisah dari etika; di negara-negara yang mengorbankan spiritualitas, itu bukanlah kemajuan, tetapi penyimpangan." (MF)