Lawatan Zarif ke Turki; Meninjau Transformasi Terbaru Suriah
-
Mohammad Javad Zarif dan Recep Tayyip Erdogan
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran melakukan kunjungan ke Turki di tengah-tengah puncaknya perang syaraf terhadap Suriah dan akan melakukan pembicaraan dengan para pejabat senior mengenai hubungan bilateral dan perkembangan kawasan, terutama di Suriah.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif melakukan pertemuan dengan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu di Ankara pada hari Rabu (29/8) untuk membahas perkembangan di Suriah.
Setelah melakukan pembicaraan di Ankara, Zarif di laman Twitternya menulis, pembicaran dengan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tentang hubungan bilateral dan kerjasama regional dalam menghadapi perilaku jahat Amerika Serikat membuahkan hasil.
Republik Islam Iran, Turki dan Rusia sebagai aktor utama dalam transformasi politik Suriah, memainkan peran penting dalam menyelesaikan krisis negara ini dan pembicaraan mereka di hari-hari, dimana perang dengan melawan para teroris di Suriah telah melewati tahap akhirnya justru semakin luas. Sejalan dengan menghadapi perkembangan politik, medan perang melawan terorisme di Suriah juga berada di jalur kemajuan. Menjelang dimulainya operasi pembebasan Idlib yang terletak di barat laut Suriah, sebagai pusat terakhir kehadiran teroris di negara ini, skenario berulang sedang diterapkan oleh front Barat yang dipimpin Amerika Serikat.
Sumber-sumber berita, terutama Rusia menekankan bahwa pergerakan Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa terhadap Suriah menunjukkan tanda-tanda perang. Sementara tindakan-tindakan terbaru oleh kelompok White Helmets di Idlib untuk melakukan serangan kimia berada dalam kerangka yang sama. Setiap kali perkembangan lapangan Suriah berada di jalur menuju kemajuan militer negara itu, front Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis dengan dalih serangan kimia mulai beraksi dan melancarkan serangan rudal ke Suriah. Kasus terakhir adalah serangan rudal AS, Inggris dan Perancis ke Suriah pada 14 April 2018.
Carla Del Ponte, anggota komisi pencari fakta Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada serangan kimia 2013 di Khan al-Asal dan Aleppo mengakui bahwa para teroris menggunakan gas Sarin dalam serangan itu.
Kebiasaan menuduh pemerintah Suriah termasuk dalam agenda AS dan sekutunya dan dalam konteks ini, konsultasi intensif aktor utama krisis Suriah seperti Iran, Turki dan Rusia mendapat pertimbangan serius. Upaya untuk melemahkan plot anti-Suriah adalah salah satu tujuan Iran dalam melanjutkan pembicaraan dengan Turki dan Rusia untuk menyelesaikan proses solusi politik untuk krisis Suriah dalam waktu dekat.
Dalam kerangka yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin pada 24 Agustus 2018 dalam pertemuan bersama Menteri Pertahanan dan Luar Negeri Rusia-Turki di Moskow mengatakan, Rusia, Iran, Turki dan negara-negara lain telah membuat beberapa kemajuan dalam menyelesaikan krisis di Suriah.
Sejumlah perkembangan ini berada di luar kendali langsung Barat, terutama Amerika Serikat dan orientasi terkini dari arena politik dan lapangan Suriah menunjukkan keberhasilan Iran, Rusia dan Turki. Dalam keadaan ini, jelas bahwa ketiga kekuatan regional utama ini akan mengungkap plot anti-Suriah bagi opini publik tentang pihak mana yang berusaha mencegah penyelesaian krisis Suriah dan tetap mengobarkan api ketidakstabilan dan pembunuhan warga Suriah.
Dalam kerangka yang sama, pertemuan tripartit dari Presiden Republik Iran, Rusia dan Turki akan diadakan di Tabriz pada bulan September 2018. Pertemuan strategis yang dilakukan dalam situasi sensitif saat ini dapat menjadi langkah maju dalam menyelesaikan krisis Suriah meski ada konspirasi.