Ritual "Ancaman-Mundur" Trump: Lima Kali Gagal, Iran Makin Kuat, AS Makin Terjebak
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Donald Trump, untuk kesekian kalinya dalam beberapa pekan terakhir, kembali memainkan skenario usangnya: mengancam akan menyerang Iran, lalu mundur di menit-menit terakhir.
Dilansir Pars Today, 20 Mei 2026, Presiden AS yang dinilai sebagai "psikopat" itu, Senin (18/5) lalu, mengancam akan melancarkan serangan "sangat besar" terhadap Iran pada Selasa (19/5), tetapi kemudian membatalkannya dengan alasan para pemimpin Arab memintanya untuk memberi kesempatan pada negosiasi. Pola yang sama, menetapkan tenggat waktu, retorika berapi-api, ancaman militer, lalu mundur, telah berulang kali terjadi. Bukan lagi sekadar taktik, melainkan tanda keputusasaan dan ketidakberdayaan dalam kebijakan luar negeri AS terhadap Iran.
Lima Pekan Pengeboman, Nihil Hasil
Lima pekan serangan berat gabungan AS dan rezim palsu Israel gagal mencapai satu pun tujuan yang dideklarasikan Washington. Beberapa analis militer Barat menyebut serangan itu sebagai "pemboman terberat di kawasan sejak Perang Teluk Persia." Namun faktanya:
- Iran tidak menghentikan program nuklir damainya.
- Iran tidak melucuti rudal balistiknya.
- Iran tidak berhenti mendukung Front Perlawanan di Gaza, Lebanon, dan Yaman.
Fakta pahit bagi Pentagon ini bahkan tercermin dalam laporan intelijen rahasia AS. Menurut estimasi CIA dan Pentagon, Iran masih mempertahankan sekitar 70 persen dari kemampuan rudal pra-perangnya. Generasi terbaru rudal anti-kapal Iran juga telah berhasil diuji dan diserahkan ke unit-unit yang ditempatkan di Selat Hormuz.
Hormuz: Kartu Truf yang Tidak Dimiliki Target Sebelumnya
Namun, titik balik sebenarnya adalah Selat Hormuz. Ini adalah kartu truf yang tidak dimiliki oleh target-target kebijakan "tekanan maksimum" Trump sebelumnya, seperti Venezuela.
Blokade yang dirancang AS terhadap Iran kini telah menjadi bumerang. Kapal tanker praktis tidak bisa melintas, dan pasar global terus mendapat guncangan baru setiap hari.
Harga minyak Brent melonjak di atas $110 per barel.
Analis Wall Street memperingatkan tentang "runtuhnya jaringan penyelamatan minyak global".
Tekanan ini dengan cepat kembali ke AS: inflasi tahunan 3,8% dan harga bensin $4 per galon membuat Trump sangat rentan menjelang pemilihan paruh waktu.
Kemunduran Trump: Bukan Hormat pada Sekutu, Takut pada Kekalahan
Dalam konteks ini, mundurnya Trump bukan karena menghormati permintaan sekutu Arabnya, melainkan karena takut pada kekalahan yang pasti dalam perang skala penuh.
Para penghasut perang di Washington yang berbicara tentang menduduki Pulau Kharg atau menyita cadangan uranium Iran, secara naif berasumsi Iran akan diam tanpa respons tegas.
Namun para komandan lapangan Iran telah menegaskan bahwa "jari-jari angkatan bersenjata berada di pelatuk", dan setiap agresi baru akan mendapat respons yang "cepat, tegas, kuat, dan meluas". Kali ini, bukan hanya target militer AS di kawasan yang akan dibalas. Sekutu-sekutu regional Washington juga secara tegas telah memberi tahu AS bahwa mereka takut akan konsekuensi perang skala penuh.
Trump sendiri tampaknya telah menyimpulkan bahwa melanjutkan jalur militer hanya akan membuatnya "semakin terperosok ke rawa". Ia yang awalnya memprediksi perang akan berlangsung "empat hingga lima minggu" kini memasuki bulan ketiga tanpa "kemenangan" yang dijanjikan.
David Schenker, mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS, menggambarkan situasi saat ini sebagai "jalan buntu" dan menegaskan bahwa Trump "ragu-ragu" untuk kembali ke konflik skala penuh.
Apa yang terjadi saat ini adalah kegagalan strategi besar. Ancaman dan mundur telah menjadi dua sisi mata uang yang sama bagi seorang presiden yang tidak mau menerima realitas kekuatan Iran, tetapi juga tidak bisa keluar dari krisis tanpa deklarasi kemenangan palsu.
Namun realitas di lapangan sudah jelas: tekanan yang berhasil diterapkan pada negara-negara lain tidak berhasil pada bangsa Iran. Selama Iran masih memegang kartu truf geografisnya di Selat Hormuz dan ketahanan strategisnya, Gedung Putih tidak akan punya jalan keluar mudah dari kebuntuan bersejarah ini, kecuali jika ia menerima realitas baru dalam keseimbangan kekuatan di kawasan.
"Lima kali Trump mengancam, lima kali ia mundur. Ini bukan ritual keagamaan; ini adalah tarian putus asa di atas es yang semakin menipis. Iran tidak bergeming. Rudalnya tetap di tempat. Hormuz tetap terkunci. Sementara itu, di dalam negeri AS, harga bensin meroket dan inflasi menggigit. Pertanyaannya bukan lagi 'kapan Trump akan menyerang?', tetapi 'berapa lama ia bisa terus berpura-pura bahwa ia masih memegang kendali?'(Sail)