Iran-Suriah Mempertajam Pembicaraan dalam Kerangka Proses Perundingan Astana
-
Bendera Iran, Rusia dan Suriah
Proses perundingan Astana terkait perang melawan terorisme kini tengah berada di tahapan akhir, tapi yang masih berlanjut adalah rekonstruksi dan proses politik di Suriah.
Abbas Araghchi, Deputi Menteri Luar Negeri Iran urusan Hukum dan Internasional hari Selasa (04/9) dalam wawancara dengan televisi Iran mengkonfirmasikan KTT negara-negara penjamin proses perundingan Astana (Iran, Rusia dan Turki) akan diselenggarakan di Tehran.
Transformasi Suriah telah mendekati tahapan sensitif. Di Suriah saat ini, upaya untuk mengakhiri perang dan menciptakan stabilitas keamanan hampir berhasil dan peran kunci Iran dalam proses ini benar-benar terasa.
Sekalipun Iran mendapat tekanan dari Amerika Serikat, bukan saja tidak mengurangi dukungannya kepada Suriah, tapi menekankan untuk tetap melanjutkan dukungan penuh dan di segala bidang atas Suriah dan gerakan Muqawama. Republik Islam Iran berdasarkan pasal 154 UUD menilai upaya mendukung orang-orang tertindas di seluruh dunia dihadapan kebijakan dan langkah-langkah arogan dan kaki tangannya sebagai kewajiban mendasarnya.
Sementara sisi pengaruh keamanan negara-negara tetangga Iran harus dikatakan bahwa Irak dan Suriah dari sisi strategi dan geopolitik sangat penting bagi Iran. Kejatuhan dua negara ini di bawah kekuatan Takfiri dan pendukung Barat-Arabnya tidak diragukan lagi akan menjadi biaya tidak dapat ditutupi bagi Iran dan regional.
Dimensi masalah ini dapat dianalisa dalam dua bidang;
1. Pengaruh Barat di kawasan dengan tujuan melemahkan front Muqawama.
2. Penguatan posisi Israel dengan pendekatan membagi-bagi kawasan.
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran menyinggung dua poin ini dan mengatakan, dengan memperhatikan KTT Proses Perundingan Astana di Tehran dan begitu juga tekait kondisi sangat sensitif di Idlib, ada upaya untuk keluarnya para teroris dari provinsi ini dengan biaya paling murah dan manusiawi. Dengan alasan ini, telah dilakukan dialog di Suriah dengan para pejabat tinggi negara ini. Dialog ini akan terus berlanjut hingga penyelenggarakan KTT negara-negara penjamin proses perundingan Astana.
KTT negara-negara penjamin proses Astana akan dihadiri oleh Hassan Rouhani, Presiden Iran, Vladimir Putin, Presiden Rusia dan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki dan diselenggarakan pada hari Jumat mendatang tanggal 7 September 2018 di Tehran, ibukota Iran. Kerjasama berkelanjutan ini dapat memberikan pengaruh kuat di bidang pemberantasan terorisme. Milit4er Suriah dan Irak dengan bantuan para penasihat Republik Islam Iran dan dukungan Rusia mampu menutup berkas kelompok teroris Daesh (ISIS) di dua negara ini.
Pembebasan Aleppo dan Deir Ezzor, Mosul dan Tal Afar merupakan langkah besar dalam mengakhiri keberadaan Daesh di Irak dan Suriah. Keberhasilan ini tidak didapatkan dari upaya Amerika memerangi Daesh, tapi hasil dari perlawanan dan koordinasi pasukan militer dan rakyat baik itu Syiah maupun Sunni dalam menghadapi Daesh dan pendukungnya.
Dr. Sadollah Zarei, Ketua Institut Studi Strategis Andishe Sazan-e Noor meyakini, ... kini Iran memiliki posisi yang kuat di kawasan dan tidak ada yang mampu mengubahnya. Selain posisi ini bersandar pada kemampuan diri, geopolitik, geobudaya Iran, front Muqawama yang dikenal juga bergantung pada Iran.
Kehadiran Iran dan Rusia juga berdasarkan permintaan pemerintah Suriah dan benar-benar legal. Oleh karenanya, siapa yang harus hadir di Suriah bergantung pada keputusan pemerintah Suriah.