Rahbar: Republik Islam Tidak Gentar Hadapi Musuh
-
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ketua dan anggota Dewan Pakar Kepemimpinan Iran hari Kamis (6/9) menegaskan, meskipun menghadapai berbagai serangan musuh, Republik Islam tetap tegar berdiri, seperti pohon kebaikan yang akarnya terhunjam ke tanah, sedangkan pohon dan rantingnya tumbuh dan berbuah.
Ayatullah Khamenei menjelaskan saat ini Iran berada dalam kondisi sensitif, dan mengungkapkan, "Sensitivitas situasi disebabkan karena negara Islam melangkahkan kaki di sebuah jalan dengan program dan beraneka ragam pandangan selama empat dekade, yang bergerak berseberangan dengan jalur umum hegemoni dan negara arogan dunia,".
Kemenangan Revolusi Islam tahun 1979 mengubah Iran yang tampil dengan wajah barunya memasuki arena internasional. Iran tampil sebagai kekuatan independen yang tidak bergantung terhadap blok Barat maupun Timur.
Perjalanan empat dekade menunjukkan bahwa Republik Islam telah menjadi pohon yang berdiri kokoh menghadapi berbagai terjangan badai dan krisis yang datang silih berganti.
Hingga kini musuh terus-menerus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjegal kemajuan Iran dan penyebaran Islam di arena internasional dari berbagai arah. Segala cara telah ditempuh musuh dari ancaman perang, pengerahan teroris, hingga menggunakan negara ketiga seperti rezim Saddam di awal kemunculan Republik Islam yang berusia seumur jagung ketika itu. Kini musuh menggunakan sanksi dan tekanan ekonomi untuk melumpuhkan Iran.
Musuh saat ini berambisi untuk menghambat peran aktif Republik Islam Iran di kawasan dengan melancarkan perang psikologis dan ekonomi. Meskipun sebagian masalah ekonomi domestik berkaitan dengan manajemen pemerintah, tapi persoalan ekonomi yang melilit dalam negeri dirancang musuh demi melemahkan kekuatan Iran, sehingga tingkat harapan rakyat semakin luntur. Dengan cara itu, mereka mengira bisa mewujudkan ambisinya menguasai Iran.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menjelaskan, berdasarkan informasi yang terkumpul, dinas intelejen AS dan rezim Zionis yang didukung kekuatan finansial besar dari negara-negara sekitar, secara serius melancarkan perang media demi merusak pemikiran masyarakat.
Perang urat syaraf dan propaganda media yang dipimpin AS terhadap Iran semakin gencar setelah Washington mengumumkan keluar dari JCPOA dengan tujuan untuk menggiring opini publik Iran bahwa Republik Islam tidak memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah saat ini.
Statemen para pejabat tinggi AS menunjukkan dengan jelas tingkat permusuhan mereka terhadap Republik Islam. Trump dalam pertemuan dengan Emir Kuwait di Gedung Putih hari Rabu mengklaim bahwa Iran sejak dua tahun lalu telah berubah, dan saat ini hanya melanjutkan masa hidupnya saja.
Ilusi yang tampak jelas disampaikan Trump tersebut menunjukkan puncak permusuhan AS terhadap Revolusi Islam. Padahal, jika Trump mau belajar dari sejarah selama empat dekade perjalanan Republik Islam, berbagai serangan dan tekanan dari berbagai arah gagal menghalangi kemajuan Iran. Kini, Iran pun akan bisa mengatasi masalahnya dengan kebijakan yang tepat, sebagaimana ditegaskan Rahbar," Jika kita tegar dan tidak mundur menghadapi musuh, maka dengan taufik ilahi, kekuatan arogan akan menyerah. Model ini menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa para pembela bendera Islam yang berjuang dan berkorban pasti akan meraih kemenangan,".(PH)